
Tajuk : Pengenalan laksamana Cheng Ho / Zheng He / Hj Mahmud Shams
Sumber : Wikepedia @ http://id.wikipedia.org/wiki/Cheng_Ho
Cheng Ho (Hanzi tradisional:, Hanzi sederhana , Hanyu Pinyin: Zhèng Hé, Wade-Giles: Cheng Ho; nama asli:Hanyu Pinyin: Ma Sanbao; nama Arab: Haji Mahmud Shams) (1371 - 1433), adalah seorang pelaut dan penjelajah Tiongkok terkenal yang melakukan beberapa penjelajahan antara tahun 1405 hingga 1433.
Biografi
Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao , berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.
Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke-15. Saat itu, seorang putri Tiongkok, Hang Li Po (atau Hang Liu), dikirim oleh kaisar Tiongkok untuk menikahi Raja Malaka (Sultan Mansur Shah).
Pada tahun 1424, kaisar Yongle wafat. Penggantinya, Kaisar Hongxi (berkuasa tahun 1424-1425, memutuskan untuk mengurangi pengaruh kasim di lingkungan kerajaan. Cheng Ho melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande (berkuasa 1426-1435).
Penjelajahan:
Cheng Ho melakukan ekspedisi ke berbagai daerah di Asia dan Afrika, antara lain:
Vietnam
Taiwan
Malaka / bagian dari Malaysia
Sumatra / bagian dari Indonesia
Jawa / bagian dari Indonesia
Sri Lanka
India bagian Selatan
Persia
Teluk Persia
Arab
Laut Merah, ke utara hingga Mesir
Afrika, ke selatan hingga Selat Mozambik
Karena beragama Islam, para temannya mengetahui bahwa Cheng Ho sangat ingin melakukan Haji ke Mekkah seperti yang telah dilakukan oleh almarhum ayahnya, tetapi para arkeolog dan para ahli sejarah belum mempunyai bukti kuat mengenai hal ini. Cheng Ho melakukan ekspedisi paling sedikit tujuh kali dengan menggunakan kapal armadanya.
Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi ke tempat yang disebut oleh orang China Samudera Barat (Samudera Indonesia). Ia membawa banyak hadiah dan lebih dari 30 utusan kerajaan ke China - termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lanka, yang datang ke China untuk meminta maaf kepada Kaisar.
Catatan perjalanan Cheng Ho pada dua pelayaran terakhir, yang diyakini sebagai pelayaran terjauh, sayangnya dihancurkan oleh Kaisar Dinasti ching
Armada
Armada ini terdiri dari 27.000 anak buah kapal dan 307 (armada) kapal laut. Terdiri dari kapal besar dan kecil, dari kapal bertiang layar tiga hingga bertiang layar sembilan buah. Kapal terbesar mempunyai panjang sekitar 400 feet atau 120 meter dan lebar 160 feet atau 50 meter. Rangka layar kapal terdiri dari bambu Tiongkok. Selama berlayar mereka membawa perbekalan yang beragam termasuk binatang seperti sapi, ayam dan kambing yang kemudian dapat disembelih untuk para anak buah kapal selama di perjalanan. Selain itu, juga membawa begitu banyak bambu Tiongkok sebagai suku cadang rangka tiang kapal berikut juga tidak ketinggalan membawa kain Sutera untuk dijual.
Kepulangan
Dalam ekspedisi ini, Cheng Ho membawa balik berbagai penghargaan dan utusan lebih dari 30 kerajaan - termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lanka, yang datang ke Tiongkok untuk meminta maaf kepada kaisar Tiongkok. Pada saat pulang Cheng Ho membawa banyak barang-barang berharga diantaranya kulit dan getah pohon Kemenyan, batu permata (ruby, emerald dan lain-lain) bahkan beberapa orang Afrika, India dan Arab sebagai bukti perjalanannya. Selain itu juga membawa pulang beberapa binatang asli Afrika termasuk sepasang jerapah sebagai hadiah dari salah satu Raja Afrika, tetapi sayangnya satu jerapah mati dalam perjalanan pulang.
Rekod
Majalah Life menempatkan Cheng Ho sebagai nombor 14 orang terpenting dalam milenium terakhir. Perjalanan Cheng Ho ini menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan.
Cheng Ho adalah penjelajah dengan armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia yang pernah tercatat. Juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Selain itu beliau adalah pemimpin yang arif dan bijaksana, mengingat dengan armada yang begitu banyaknya beliau dan para anak buahnya tidak pernah menjajah negara atau wilayah dimanapun tempat para armadanya merapat.
Semasa di India termasuk ke Kalkuta, para anak buah juga membawa seni beladiri lokal yang bernama Kallary Payatt yang mana setelah dikembangkan di negeri Tiongkok menjadi seni beladiri Kungfu.
Cheng Ho dan Indonesia
Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa "Cakra Donya" kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.
Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.
Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.
Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana.
Artikel Pilihan 2 :
Tajuk : Laksamana Cheng Ho mendahului Columbus - pernah ke Surabaya.
Artikel Oleh : Amirul Akbar Zulkifli Pensyarah UNITAR
Sumber :http://permai1.tripod.com/chengho.html
Petualang Christopher Columbus dikenal hebat karena berhasil menemukan benua Amerika pada tahun 1492. Namun tahukah Anda bahwa ada penjelajah yang jauh lebih hebat? Dia adalah Laksamana Cheng Ho, seorang Tionghoa Muslim yang hidup sekitar 6 abad lalu.
Selama hidupnya, Cheng Ho atau Zheng He melakukan petualangan antarabenua selama 7 kali berturut-turut dalam kurun waktu 28 tahun (1405-1433). Tak kurang dari 30 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika pernah disinggahinya. Pelayarannya lebih awal 87 tahun dibanding Columbus. Juga lebih dulu dibanding bahariwan dunia lainnya seperti Vasco da Gama yang berlayar dari Portugis ke India tahun 1497. Ferdinand Magellan yang merintis pelayaran mengelilingi bumi pun kalah duluan 114 tahun.
Ekspedisi Cheng Ho ke 'Samudera Barat' (sebutan untuk lautan sebelah barat Laut Tiongkok Selatan sampai Afrika Timur) mengerahkan armada raksasa. Pertama mengerahkan 62 kapal besar dan belasan kapal kecil yang digerakkan 27.800 ribu awak. Pada pelayaran ketiga mengerahkan kapal besar 48 buah, awaknya 27 ribu. Sedangkan pelayaran ketujuh terdiri atas 61 kapal besar dan berawak 27.550 orang. Bila dijumlah dengan kapal kecil, rata-rata pelayarannya mengerahkan 200-an kapal. Sementara Columbus, ketika menemukan benua Amerika 'cuma' mengerahkan 3 kapal dan awak 88 orang.
Kapal yang ditumpangi Cheng Ho disebut 'kapal pusaka' merupakan kapal terbesar pada abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan lebar 18 zhang (56 m). Lima kali lebih besar daripada kapal Columbus. Menurut sejarawan, JV Mills kapasitas kapal tersebut 2500 ton.
Model kapal itu menjadi inspirasi petualang Spanyol dan Portugal serta pelayaran modern di masa kini. Desainnya bagus, tahan terhadap serangan badai, serta dilengkapi teknologi yang saat itu tergolong canggih seperti kompas magnetik.
Mengubah Peta Pelayaran Dunia
Dalam Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming) tak terdapat banyak keterangan yang menyinggung tentang asal-usul Cheng Ho. Cuma disebutkan bahwa dia berasal dari Provinsi Yunnan, dikenal sebagai kasim (abdi) San Bao. Nama itu dalam dialek Fujian biasa diucapkan San Po, Sam Poo, atau Sam Po. Sumber lain menyebutkan, Ma He (nama kecil Cheng Ho) yang lahir tahun Hong Wu ke-4 (1371 M) merupakan anak ke-2 pasangan Ma Hazhi dan Wen.
Saat Ma He berumur 12 tahun, Yunnan yang dikuasai Dinasti Yuan direbut oleh Dinasti Ming. Para pemuda ditawan, bahkan dikebiri, lalu dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim istana. Tak terkecuali Cheng Ho yang diabdikan kepada Raja Zhu Di di istana Beiping (kini Beijing).
Di depan Zhu Di, kasim San Bao berhasil menunjukkan kehebatan dan keberaniannya. Misalnya saat memimpin anak buahnya dalam serangan militer melawan Kaisar Zhu Yunwen (Dinasti Ming). Abdi yang berpostur tinggi besar dan bermuka lebar ini tampak begitu gagah melibas lawan-lawannya. Akhirnya Zhu Di berhasil merebut tahta kaisar.
Ketika kaisar mencanangkan program pengembalian kejayaan Tiongkok yang merosot akibat kejatuhan Dinasti Mongol (1368), Cheng Ho menawarkan diri untuk mengadakan muhibah ke berbagai penjuru negeri. Kaisar sempat kaget sekaligus terharu mendengar permintaan yang tergolong nekad itu. Bagaimana tidak, amanah itu harus dilakukan dengan mengarungi samudera. Namun karena yang hendak menjalani adalah orang yang dikenal berani, kaisar oke saja.
Berangkatlah armada Tiongkok di bawah komando Cheng Ho (1405). Terlebih dahulu rombongan besar itu menunaikan shalat di sebuah masjid tua di kota Quanzhou (Provinsi Fujian). Pelayaran pertama ini mampu mencapai wilayah Asia Tenggara (Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Jawa). Tahun 1407-1409 berangkat lagi dalam ekspedisi kedua. Ekspedisi ketiga dilakukan 1409-1411. Ketiga ekspedisi tersebut menjangkau India dan Srilanka. Tahun 1413-1415 kembali melaksanakan ekspedisi, kali ini mencapai Aden, Teluk Persia, dan Mogadishu (Afrika Timur). Jalur ini diulang kembali pada ekspedisi kelima (1417-1419) dan keenam (1421-1422). Ekspedisi terakhir (1431-1433) berhasil mencapai Laut Merah.
Pelayaran luar biasa itu menghasilkan buku Zheng He's Navigation Map yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Jalur perdagangan Cina berubah, tidak sekadar bertumpu pada 'Jalur Sutera' antara Beijing-Bukhara.
Dalam mengarungi samudera, Cheng Ho mampu mengorganisir armada dengan rapi. Kapal-kapalnya terdiri atas atas kapal pusaka (induk), kapal kuda (mengangkut barang-barang dan kuda), kapal penempur, kapal bahan makanan, dan kapal duduk (kapal komando), plus kapal-kapal pembantu. Awak kapalnya ada yang bertugas di bagian komando, teknis navigasi, militer, dan logistik.
Berbeda dengan bahariwan Eropa yang berbekal semangat imperialis, armada raksasa ini tak pernah serakah menduduki tempat-tempat yang disinggahi. Mereka hanya mempropagandakan kejayaan Dinasti Ming, menyebarluaskan pengaruh politik ke negeri asing, serta mendorong perniagaan Tiongkok. Dalam majalah Star Weekly HAMKA pernah menulis, "Senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal itu, yang banyak adalah 'senjata budi' yang akan dipersembahkan kepada raja-raja yang diziarahi."
Sementara sejarawan Jeanette Mirsky menyatakan, tujuan ekspedisi itu adalah memperkenalkan dan mengangkat prestise Dinasti Ming ke seluruh dunia. Maksudnya agar negara-negara lain mengakui kebesaran Kaisar Cina sebagai The Son of Heaven (Putra Dewata).
Bukan berarti armada tempurnya tak pernah bertugas sama sekali. Laksamana Cheng Ho pernah memerintahkan tindakan militer untuk menyingkirkan kekuatan yang menghalangi kegiatan perniagaan. Jadi bukan invasi atau ekspansi. Misalnya menumpas gerombolan bajak laut Chen Zhuji di perairan Palembang, Sumatera (1407).
Dalam kurun waktu 1405-1433, Cheng Ho memang pernah singgah di kepulauan Nusantara selama tujuh kali. Ketika berkunjung ke Samudera Pasai, dia menghadiahi lonceng raksasa Cakradonya kepada Sultan Aceh. Lonceng tersebut saat ini tersimpan di Museum Banda Aceh. Tempat lain di Sumatera yang dikunjungi adalah Palembang dan Bangka.
Selanjutnya mampir di Pelabuhan Bintang Mas (kini Tanjung Priok). Tahun 1415 mendarat di Muara Jati (Cirebon). Beberapa cindera mata khas Tiongkok dipersembahkan kepada Sultan Cirebon. Sebuah piring bertuliskan Ayat Kursi saat ini masih tersimpan baik di Kraton Kasepuhan Cirebon.
Ketika menyusuri Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada itu) sakit keras. Sauh segera dilempar di pantai Simongan, Semarang. Mereka tinggal di sebuah goa, sebagian lagi membuat pondokan. Wang yang kini dikenal dengan sebutan Kiai Jurumudi Dampo Awang, akhirnya menetap dan menjadi cikal bakal keberadaan warga Tionghoa di sana. Wang juga mengabadikan Cheng Ho menjadi sebuah patung (disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong), serta membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu.
Perjalanan dilanjutkan ke Tuban (Jatim). Kepada warga pribumi, Cheng Ho mengajarkan tatacara pertanian, peternakan, pertukangan, dan perikanan. Hal yang sama juga dilakukan sewaktu singgah di Gresik. Lawatan dilanjutkan ke Surabaya. Pas hari Jumat, dan Cheng Ho mendapat kehormatan menyampaikan khotbah di hadapan warga Surabaya yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Kunjungan dilanjutkan ke Mojokerto yang saat itu menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Di kraton, Raja Majapahit, Wikramawardhana, berkenan mengadakan audiensi dengan rombongan bahariwan Tiongkok ini.
Muslim Taat
Sebagai orang Hui (etnis di Cina yang identik dengan Muslim) Cheng Ho sudah memeluk agama Islam sejak lahir. Kakeknya seorang haji. Ayahnya, Ma Hazhi, juga sudah menunaikan rukun Islam kelima itu. Menurut Hembing Wijayakusuma, nama hazhi dalam bahasa Mandarin memang mengacu pada kata 'haji'.
Bulan Ramadhan adalah masa yang sangat ditunggu-tunggu Cheng Ho. Pada tanggal 7 Desember 1411 sesudah pelayarannya yang ke-3, pejabat di istana Beijing ini menyempatkan mudik ke kampungnya, Kunyang, untuk berziarah ke makam sang ayah. Ketika Ramadhan tiba, Cheng Ho memilih berpuasa di kampungnya yang senantiasa semarak. Dia tenggelam dalam kegiatan keagamaan sampai Idul Fitri tiba.
Setiap kali berlayar, banyak awak kapal beragama Islam yang turut serta. Sebelum melaut, mereka melaksanakan shalat jamaah. Beberapa tokoh Muslim yang pernah ikut adalah Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha'ban, dan Pu Heri. "Kapal-kapalnya diisi dengan prajurit yang kebanyakan terdiri atas orang Islam," tulis HAMKA.
Ma Huan dan Guo Chongli yang fasih berbahasa Arab dan Persia, bertugas sebagai penerjemah. Sedangkan Hassan yang juga pimpinan Masjid Tang Shi di Xian (Provinsi Shan Xi), berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan negeri-negeri Islam. Hassan juga bertugas memimpin kegiatan-kegiatan keagamaan dalam rombongan ekspedisi, misalnya dalam melaksanakan penguburan jenazah di laut atau memimpin shalat hajat ketika armadanya diserang badai.
Kemakmuran masjid juga tak pernah dilupakan Cheng Ho. Tahun 1413 dia merenovasi Masjid Qinging (timur laut Kabupaten Xian). Tahun 1430 memugar Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar. Pemugaran masjid mendapat bantuan langsung dari kaisar.
Beberapa sejarawan meyakini bahwa petualang sejati ini sudah menunaikan ibadah haji. Memang tak ada catatan sejarah yang membuktikan itu, tapi pelaksanaan haji kemungkinan dilakukan saat ekspedisi terakhir (1431-1433). Saat itu rombongannya memang singgah di Jeddah.
Selama hidupnya Cheng Ho memang sering mengutarakan hasrat untuk pergi haji sebagaimana kakek dan ayahnya. Obsesi ini bahkan terbawa sampai menjelang ajalnya. Sampai-sampai ia mengutus Ma Huan pergi ke Mekah agar melukiskan Ka'bah untuknya. Muslim pemberani ini meninggal pada tahun 1433 di Calicut (India), dalam pelayaran terakhirnya.
Artikel Pilihan 3 :
Tajuk : Jejak Samudra Seorang Laksamana
Sumber : http://www.gatra.com/artikel.php?id=4244
Seorang pria dikebiri mencatat sejarah gemilang didunia pelayaran. Dialah Laksamana Cheng Ho. Pada abad ke-15 ia telah mengarungi samudra bersama armada raksasanya, mendahului petualangan Christopher Columbus. Pada zaman itu, Cheng Ho telah mengunjungi 31 negara dalam pelayaran sepanjang 28 tahun.Masyarakat Cina di pelbagai negara membangun kelenteng, tempat pumujaan arwah pelaut beragama Islam
ini.
Prof. Kong Yuanzhi, guru besar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Universitas Beijing, RRC,
mengupas perjalanan Cheng Ho dalam buku Muslim Tionghoa Cheng Ho. Buku setebal 300 halaman ini disunting Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma, dan diterbitkan Pustaka Populer Obor, Jakarta, dengan kata pengantar Prof. Ali Yafie. Heddy Lugito menukilkannya.
MATAHARI merah merekah di ufuk timur, tampak seolah-olah ''basah'' menyembul dari kedalaman lautan.Pagi itu, awal Juli 1405, barisan kapal layar raksasa mulai meninggalkan Pelabuhan Nanking, Cina Selatan. Laksamana Cheng Ho, berseragam militer Kekaisaran Cina, berdiri gagah di atas geladak Kapal Pusaka,''Bao Chuan''.
Inilah kapal terbesar pada masa itu. Panjangnya 138 meter, dan lebarnya 56 meter, dengan daya angkut 2.500 ton. Cheng Ho, admiral berperawakan tinggi besar itu,
masih berusia 34 tahun. Dengan suara lantang ia memerintahkan para kelasinya mulai mengangkat sauh.Satu per satu armada yang terdiri dari 62 kapal itu mengembangkan layar, bergerak ke samudra terbuka.
Kapal Pusaka berlayar di barisan depan, diapit belasan kapal tempur yang mengangkut lela, meriam, dan prajurit. Kemudian disusul oleh kapal pengangkut barang dan penumpang. Inilah pelayaran perdana ke Samudra Barat yang dipimpin Cheng Ho. Armada raksasa ini melibatkan 27.800 personel, sebagian besar muslim.
Anggota armada ini bukan saja prajurit, kelasi, ahli militer, ahli teknik, dan ahli perbintangan, melainkan juga ahli bahasa yang akan bertindak sebagai
penerjemah, dan tabib. Untuk setiap 150 jiwa, disediakan seorang tabib yang berfungsi sebagai dokter. Inilah pelayaran yang menggetarkan dunia kebaharian abad ke-15, ketika para pelaut Eropa masih pada tingkat ''membaca peta''.
Christopher Columbus, misalnya, baru mulai bertualang di laut pada 1492. Sedangkan Vasco da Gama mengikuti jejak Columbus, lima tahun kemudian. Cheng Ho sendiri lahir pada 1371 di sebuah dusun di Distrik Kunyang, Provinsi Yunnan, bagian barat daya daratan Cina. Aslinya ia bernama Ma San Bao, yang dalam dialek Fujian diucapkan San Poo.
Ia anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Ma Ha, keturunan suku bangsa Hui yang beragama Islam,dan mampu menunaikan ibadah haji. Sejak kecil, Ma San
Bao sering mendengar cerita perjalanan haji ayah dan kakeknya dengan menggunakan kapal laut. Cerita-cerita inilah, kemudian, yang membangkitkan keinginan San Bao
untuk menjadi pelaut.
Tuan Kasim San Bao
KISAH hidup Cheng Ho dan keluarganya kemudian dipahatkan pada batu merah makam ayahnya di Kunyang.Penulisan ini dilakukan seorang sarjana sastra, Li Zhigang, pada 1405, atas perintah Cheng Ho setelah ia pulang dari pelayaran yang kedua. Ketika Cheng Ho lahir, Dinasti Yuan yang berkuasa di daratan Cina sudah terguling, dan digantikan Dinasti Ming.
Tetapi, wilayah Provinsi Yunnan masih diduduki sisa-sisa penguasa Dinasti Yuan. Pasukan Dinasti Ming menyerbu ke Yunnan tatkala Ma San Bao baru berusia 12 tahun. San Bao, dan sejumlah anak muda lainnya, terutama yang berperawakan tampan, ditangkap dan dikebiri tentara Ming. Ia dibawa ke Nanking sebagai kasim, alias sida-sida, di Istana Kiasar.
Pada 1398, Zhu Yuanzhang, kaisar pertama dari Dinasti Ming, mangkat. Cucunya, Zhu Yunwen, lalu naik tahta karena putra mahkota Zhu Biao mati muda. Tapi, sebelum Zhu Yuanzhang meninggal, ia sempat menyerahkan kasim Ma San Bao kepada Zhu Di, raja kecil yang berkuasa di Beijing. Rupanya, pemerintahan Kiasar Zhu Yunwen yang
baru ini tidak disukai raja-raja di daerah, termasuk Zhu Di.
Untuk mencegah kemungkinan pembangkangan, Kaisar Zhu Yunwen, dengan dukungan para menterinya, memerintahkan raja-raja kecil di daerah mengurangi tentaranya.
Kabijakan ini ditentang Zhu Di. Tak cuma sampai di situ, pada 1399 ia memimpin ribuan tentaranya menyerbu Nanking. Ma San Bao, sebagai kasim kinasih, senantiasa mendampingi Zhu Di di medan perang.
Pada saat itulah ketahuan, kasim yang satu ini ternyata ligat pula di arena pertempuran. Maka, Ma San Bao diangkat menjadi salah satu panglima perang pasukan Zhu Di. Melalui pertempuran sengit dan panjang selama tiga tahun, Zhu Di berhasil menduduki Nanking. Ia menaiki tahta kaisar, sedangkan Zhu Yunwen, bersama serombongan kecil setiawan, melarikan diri ke selatan.
Kaisar Zhu Di kemudian menganugerahkan she (marga) Cheng kepada Ma San Bao. Sejak saat itulah, ia menanggalkan nama aslinya, dan menggantinya dengan Cheng Ho. Belakangan, ia juga disebut San Bao Tay Djin, yang berarti ''Tuan Kasim San Bao''. Dalam berbagai dialek Cina lainnya, sebutan ini berubah menjadi San Poo Tay Djin, San Poo Tay Kam, juga San Poo Tai Kien. Warga Cina Semarang menyebutnya Sam Poo Kong.
Tersangkut Perang Paregreg
PADA awal abad ke-15, Kaisar Zhu Di memerintahkan pelayaran ke Samudra Barat, dan menunjuk Cheng Ho sebagai pemimpin armada. Sebagai laksamana, Cheng Ho diberi hak memakai lambang burung hong (phoenix), satu tingkat di bawah gambar liong (naga) --lambang kebesaran Kaisar Cina. Pelayaran ini bertujuan menjalin kerja sama dagang antara Kekaisaran Cina dan beberapa negara asing.
Menurut sejarawan J.J.L. Duyvendak dalam bukunya,The True Dates of the Chinese Maritime Expedition in the Early Century, pelayaran ini merupakan langkah Kaisar Zhu Di untuk memulihkan kekuasaan Cina di negara-negara Asia Tenggara. Ekspedisi Cheng Ho, yang ''dibungkus'' dengan misi diplomatik, sesungguhnya tiada lain daripada sebuah show of force.
Maksud lain dari pelayaran ini adalah menggalang kerja sama dengan negara-negara Islam. Kalau keinginan itu tercapai, terpotonglah jalur perdagangan yang pada masa itu dikuasai kerajaan-kerajaan Hindu yang berkuasa di India, Siam, dan Jawa. ''Dengan kerja sama ini, Kaisar Cina berharap bisa lebih mudah menaklukkan kerajaan Hindu di Asia Tenggara, yang ketika itu sudah mulai lemah akibat penetrasi Islam,'' tulis Duyvendak dalam bukunya.
Tetapi, sejauh ini, armada Cheng Ho belum pernah menyerang raja-raja di Asia Tenggara. Satu-satunya pertempuran yang menewaskan pasukan Cheng Ho dalam jumlah besar terjadi pada 1405. Pada waktu itu, pecah perang saudara di Kerajaan Majapahit, yang terkenal dengan ''Perang Paregreg''. Perang ini melibatkan Bre Wirabhumi melawan Wikramawardana.
Bre Wirabhumi adalah putra Hayam Wuruk dari istri selir dari Kedaton Wetan (Timur). Sedangkan Wikramawardana adalah menantu Hayam Wuruk yang bertahta di Tumapel --yang disebut Kedaton Kulon (Barat). Pasukan Wirabhumi dipukul mundur, Kedaton Wetan dibakar oleh pasukan Wikramawardana. Wirabhumi kabur naik perahu ke timur.
Sialnya, ia tertangkap, dan kepalanya dipenggal oleh Raden Gajah, panglima perang Wikramawardana. Kebetulan, pada waktu itu armada Cheng Ho berada di sektor timur. Serangan pasukan Wikramawardana, yang datang dari barat, menyebabkan tewasnya 170 awak kapal Cheng Ho. Menurut Liu Ruzhong, sejarawan dari Universitas Beijing, pertempuran di Majapahit ini sempat membuat panik Cheng Ho.
Raja Majapahit Tak Sanggup Membayar
SETELAH pertempuran itu, Cheng Ho membawa armadanya ke barat, dan singgah di Pelabuhan Simongan, Semarang. Bahkan, ada yang menduga, seorang nakhoda kapal Cheng Ho, yaitu Wang Jinghong, terluka oleh prajurit Majapahit. Wang kemudian dirawat di Simongan. Akibat kehilangan 170 anak buah Cheng Ho ini, Kaisar Cina meminta ganti rugi emas sebanyak 60.000 tail.
Raja Majapahit, ternyata, hanya sanggup membayar 10 tail. Peristiwa pembunuhan ini diuraikan dalam buku Ming Shi, kitab sejarah resmi Dinasti Ming. Masih ada dua buku klasik lain yang membeberkan perjalanan Cheng Ho. Buku ini ditulis oleh dua ahli bahasa yang menyertai pelayaran muhibah itu. Yakni Ma Huan, muslim yang fasih berbahasa Arab, dan Fei Xin, sarjana ahli sastra.
Pada 1416, Ma Huan menulis buku Ying Ya Sheng Len (Pemandangan Indah di Seberang
Samudra). Sedangkan Fei Xin menulis buku Xing Cha Sheng Lan (Perjalanan Rakit dan
Bintang), yang diterbitkan pada 1436. Dalam satu bab buku Fei Xin diceritakan, bila orang luar negeri berkunjung ke kerajaan Jawa, umumnya mereka berlabuh di empat tempat.
Masing-masing tempat itu adalah Tuban, Gresik, Surabaya, dan Majapahit. Di Tuban, kata Fei Xin, uang kepingan dari negeri Cina, yang terbuat dari kuningan,
juga berlaku sebagai alat pembayaran. Di daerah ini banyak perantau Cina dari Guangdong dan Fujian. Belakangan, para perantau Cina itu memberi nama barubpada Tuban, yakni Xin Cun. Artinya, ''kampung baru''.
Bila orang berlayar setengah hari dari Tuban menuju timur, tulis Fei Xin, tibalah ia di Gresik. Di sini terdapat lebih dari 1.000 kepala keluarga. Banyak orang datang kemari untuk melakukan transaksi perdagangan. Mereka menjual emas dan permata. Berlayar
dari Gresik menuju selatan, kira-kira sejauh 20 li (sekitar 10 kilometer), tercapailah
Surabaya.
Masih menurut Fei Xin, pelabuhan Surabaya dikelilingi air tawar, dan kapal besar sulit merapat di pelabuhan ini. Di sini diperdagangkan kambing, burung beo, kain
kapas, dan perak. Dengan menumpang kapal kecil, berlayar sejauh 80 li (40 kilometer) dari Surabaya, orang akan tiba di Cangkir. Setelah mendarat, berjalan ke barat daya selama satu setengah hari, tibalah di kota raja Majapahit.
Cheng Ho Menonton Ronggeng
ISTANA raja dikelilingi tembok batu bata setinggi 9 meter. Bangunan istana tingginya kira-kira 12 meter. Genting istana terbuat dari papan kayu keras yang bercelah-celah --maksudnya sirap. Di dalam istana terdapat papan yang di atasnya terbentang tikar rotan,
tempat orang duduk bersila. Sang raja memakai mahkota berhias kembang emas, memakai kain berjelujur sutra.
''Baginda tak pakai sepatu,'' tulis Fei Xin dalam bukunya. ''Kalau bepergian jauh, beliau biasanya naik gajah, atau kereta kuda.'' Di luar cerita yang ditulis Fei Hin dan Ma Huan, masih banyak legenda tentang Cheng Ho yang bertebaran di tanah Jawa. Misalnya
''jejak'' Cheng Ho di pantai Ancol, Jakarta Utara.
Di sana terdapat Kelenteng Bahtera Bakti yang juga disebut Kelenteng Sam Poo Soei Soe, nama seorang juru masak armada Cheng Ho. Menurut sahibuldongeng, ketika
armada Cheng Ho berlabuh di Ancol, banyak awak kapal yang turun ke darat. Mereka menonton pertunjukan ronggeng. Si juru masak, Sam Poo Soei Soe, eh, kepincut seorang penari ronggeng yang bernama Sitiwati.
Siti ini anak seorang tokoh yang bernama Said Areli.Sam Poo Soei Soe mabuk kepayang oleh panah asmara sehingga lupa lautan. Sewaktu kapalnya mencabut jangkar, pria ini memutuskan tetap tinggal, dan akhirnya menikah dengan Sitiwati. Beberapa tahun
kemudian, dalam pelayaran ke Jawa, Cheng Ho menyempatkan diri singah ke Ancol, yang pada waktu itu bernama Bintang Mas.
Maksud Cheng Ho, sekalian menjenguk kokinya yang dulu memilih tinggal, Sam Poo Soei Soe. Apa lacur, yang ditemukannya hanyalah kuburan. Si juru masak itu sudah
meninggal, begitu pula istri dan mertuanya. Ketiganya dimakamkan berdekatan. Untuk memperingati ketiga orang itu, di pantai ini lalu didirikan kelenteng yang
dinamakan Sam Poo Soei Soe. Di kelenteng ini tak boleh disajikan daging babi, karena Sam Poo Soei Soe beragama Islam.
Sebagai muslim yang taat, di mana pun Cheng Ho mendarat, ia selalu menyebarkan ajaran Islam. Tak kurang dari (almarhum) Buya Hamka mengakui andil
pelaut Cina ini dalam penyebaran Islam di Indonesia. ''Nama muslim dari Tiongkok yang erat sangkut pautnya dengan kemajuan Islam di Indonesia dan tanah Melayu adalah Laksamana Cheng Ho,'' tulis Buya Hamka dalam majalah Star Weekly, Jakarta, 18 Maret 1961.
Cheng Ho Punya Istri???
MISI damai, tampaknya, lebih kuat bila dibandingkan dengan tugas tempur armada Cheng Ho. ''Senjata alat pembunuh tidak banyak terdapat di kapal itu,'' tulis Buya Hamka. ''Yang banyak adalah senjata budi yang dipersembahkan kepada raja-raja yang dikunjungi.'' Dalam perjalanannya, Cheng Ho telah mengunjungi 31 negara di Asia Tenggara, Asia Barat, dan Afrika Timur.
Karena itu, tak aneh bila kenangan tentang Cheng Ho dapat dijumpai di beberapa negara. Di sebelah timur laut kota Malaka, Malaysia, ada sebuah tempat yang bernama Bukit China. Kalangan masyarakat Cina setempat menyebut bukit ini sebagai Bukit Sam Poo. Bukit ini pernah dijadikan tempat berkemah anak buah Cheng Ho selama melakukan kunjungan muhibah pada abad ke-15.
Di barat laut Bukit China terdapat Pos San Teng, yaitu Kelenteng Sam Poo yang juga disebut Kelenteng Bao San. Kelenteng keramat yang terletak di Jalan Laksamana Cheng Ho ini dibangun pada 1795. Di dalam kelenteng ini terdapat patung Cheng Ho yang gagah dan berjenggot putih, tapi berwajah anak muda.
Di negeri jiran itu, Kelenteng Sam Poo Kong terdapat di pelbagai kota, di antaranya Penang, Trengganu, dan di Kucing, Sarawak. Di muara Sungai Menan, Teluk Siam, Thailand, terdapat pelabuhan yang dinamakan Pelabuhan Sam Poo. Di sana, konon, armada Laksamana Cheng Ho berlabuh berkali-kali. Kuil Sam Poo Kong juga terdapat di Bangkok, Thailand.
Masyarakat Cina di Bangkok setahun sekali mengadakan upacara penyambutan Sam Poo Kong dengan berbagai pertunjukan. Kuil Sam Poo juga terdapat di Singapura.
Di kuil ini bersemayam patung Cheng Ho bersama, nah: istrinya. Padahal, sebagai sida-sida, tentu saja ia tak mungkin beristri. Lagi pula, selama melakukan
pelayaran tujuh kali berturut-turut, mulai 1405 hingga 1433, tak sekali pun ia singgah di Singapura.
Pelayaran terakhir dilakukan pada 1431-1433, ketika Cheng Ho sudah berusia 62 tahun. Praktis selama 28 tahun, Cheng Ho menghabiskan hidupnya di atas geladak kapal. Ia meninggal pada 1433, dalam pelayaran dari Calcutta menuju Benggala, India. Selajutnya, pimpinan armada ini diambil alih Wang Jing Hong, nakhoda kepercayaan Cheng Ho. Jenazah sang laksamana diangkut ke Cina, dimakamkan di Bukit Niushou, Nanking.
Satu di antara sekian banyak prestasi gemilang dari seluruh perjalanan Cheng Ho adalah 24 peta navigasi. Peta ini dicetak dengan nama Zheng He's Navigation Map. Dalam peta ini dipaparkan pokok-pokok arah pelayaran, jarak di laut, dan pelbagai pelabuhan, semuanya diuraikan secara rinci. Akurasi peta ini tak kalah jika dibandingkan dengan peta sejenis yang terbit belakangan.




