Tuesday, April 21, 2009

Ekspedisi Jihad (7) - Misi laksamana Haji mahmud Shams @ Cheng Ho Ke Nusantara - Bhg 2








Artikel Pilihan 1 :


Tajuk :
Pengenalan laksamana Cheng Ho / Zheng He / Hj Mahmud Shams


Sumber :
Wikepedia @ http://id.wikipedia.org/wiki/Cheng_Ho



Cheng Ho (Hanzi tradisional:, Hanzi sederhana , Hanyu Pinyin: Zhèng Hé, Wade-Giles: Cheng Ho; nama asli:Hanyu Pinyin: Ma Sanbao; nama Arab: Haji Mahmud Shams) (1371 - 1433), adalah seorang pelaut dan penjelajah Tiongkok terkenal yang melakukan beberapa penjelajahan antara tahun 1405 hingga 1433.


Biografi

Cheng Ho adalah seorang kasim Muslim yang menjadi orang kepercayaan Kaisar Yongle dari Tiongkok (berkuasa tahun 1403-1424), kaisar ketiga dari Dinasti Ming. Nama aslinya adalah Ma He, juga dikenal dengan sebutan Ma Sanbao , berasal dari provinsi Yunnan. Ketika pasukan Ming menaklukkan Yunnan, Cheng Ho ditangkap dan kemudian dijadikan orang kasim. Ia adalah seorang bersuku Hui, suku bangsa yang secara fisik mirip dengan suku Han, namun beragama Islam.

Cheng Ho berlayar ke Malaka pada abad ke-15. Saat itu, seorang putri Tiongkok, Hang Li Po (atau Hang Liu), dikirim oleh kaisar Tiongkok untuk menikahi Raja Malaka (Sultan Mansur Shah).

Pada tahun 1424, kaisar Yongle wafat. Penggantinya, Kaisar Hongxi (berkuasa tahun 1424-1425, memutuskan untuk mengurangi pengaruh kasim di lingkungan kerajaan. Cheng Ho melakukan satu ekspedisi lagi pada masa kekuasaan Kaisar Xuande (berkuasa 1426-1435).


Penjelajahan:

Cheng Ho melakukan ekspedisi ke berbagai daerah di Asia dan Afrika, antara lain:

Vietnam
Taiwan
Malaka / bagian dari Malaysia
Sumatra / bagian dari Indonesia
Jawa / bagian dari Indonesia
Sri Lanka
India bagian Selatan
Persia
Teluk Persia
Arab
Laut Merah, ke utara hingga Mesir
Afrika, ke selatan hingga Selat Mozambik


Karena beragama Islam, para temannya mengetahui bahwa Cheng Ho sangat ingin melakukan Haji ke Mekkah seperti yang telah dilakukan oleh almarhum ayahnya, tetapi para arkeolog dan para ahli sejarah belum mempunyai bukti kuat mengenai hal ini. Cheng Ho melakukan ekspedisi paling sedikit tujuh kali dengan menggunakan kapal armadanya.


Cheng Ho memimpin tujuh ekspedisi ke tempat yang disebut oleh orang China Samudera Barat (Samudera Indonesia). Ia membawa banyak hadiah dan lebih dari 30 utusan kerajaan ke China - termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lanka, yang datang ke China untuk meminta maaf kepada Kaisar.


Catatan perjalanan Cheng Ho pada dua pelayaran terakhir, yang diyakini sebagai pelayaran terjauh, sayangnya dihancurkan oleh Kaisar Dinasti ching



Armada

Armada ini terdiri dari 27.000 anak buah kapal dan 307 (armada) kapal laut. Terdiri dari kapal besar dan kecil, dari kapal bertiang layar tiga hingga bertiang layar sembilan buah. Kapal terbesar mempunyai panjang sekitar 400 feet atau 120 meter dan lebar 160 feet atau 50 meter. Rangka layar kapal terdiri dari bambu Tiongkok. Selama berlayar mereka membawa perbekalan yang beragam termasuk binatang seperti sapi, ayam dan kambing yang kemudian dapat disembelih untuk para anak buah kapal selama di perjalanan. Selain itu, juga membawa begitu banyak bambu Tiongkok sebagai suku cadang rangka tiang kapal berikut juga tidak ketinggalan membawa kain Sutera untuk dijual.



Kepulangan

Dalam ekspedisi ini, Cheng Ho membawa balik berbagai penghargaan dan utusan lebih dari 30 kerajaan - termasuk Raja Alagonakkara dari Sri Lanka, yang datang ke Tiongkok untuk meminta maaf kepada kaisar Tiongkok. Pada saat pulang Cheng Ho membawa banyak barang-barang berharga diantaranya kulit dan getah pohon Kemenyan, batu permata (ruby, emerald dan lain-lain) bahkan beberapa orang Afrika, India dan Arab sebagai bukti perjalanannya. Selain itu juga membawa pulang beberapa binatang asli Afrika termasuk sepasang jerapah sebagai hadiah dari salah satu Raja Afrika, tetapi sayangnya satu jerapah mati dalam perjalanan pulang.


Rekod

Majalah Life menempatkan Cheng Ho sebagai nombor 14 orang terpenting dalam milenium terakhir. Perjalanan Cheng Ho ini menghasilkan Peta Navigasi Cheng Ho yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan.

Cheng Ho adalah penjelajah dengan armada kapal terbanyak sepanjang sejarah dunia yang pernah tercatat. Juga memiliki kapal kayu terbesar dan terbanyak sepanjang masa hingga saat ini. Selain itu beliau adalah pemimpin yang arif dan bijaksana, mengingat dengan armada yang begitu banyaknya beliau dan para anak buahnya tidak pernah menjajah negara atau wilayah dimanapun tempat para armadanya merapat.

Semasa di India termasuk ke Kalkuta, para anak buah juga membawa seni beladiri lokal yang bernama Kallary Payatt yang mana setelah dikembangkan di negeri Tiongkok menjadi seni beladiri Kungfu.

Cheng Ho dan Indonesia

Cheng Ho mengunjungi kepulauan di Indonesia selama tujuh kali. Ketika ke Samudera Pasai, ia memberi lonceng raksasa "Cakra Donya" kepada Sultan Aceh, yang kini tersimpan di museum Banda Aceh.

Tahun 1415, Cheng Ho berlabuh di Muara Jati (Cirebon), dan menghadiahi beberapa cindera mata khas Tiongkok kepada Sultan Cirebon. Salah satu peninggalannya, sebuah piring yang bertuliskan ayat Kursi masih tersimpan di Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pernah dalam perjalanannya melalui Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada Cheng Ho) sakit keras. Wang akhirnya turun di pantai Simongan, Semarang, dan menetap di sana. Salah satu bukti peninggalannya antara lain Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) serta patung yang disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong.


Cheng Ho juga sempat berkunjung ke Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan raja Wikramawardhana.






Artikel Pilihan 2 :


Tajuk : Laksamana Cheng Ho mendahului Columbus - pernah ke Surabaya.


Artikel Oleh :
Amirul Akbar Zulkifli Pensyarah UNITAR

Sumber :http://permai1.tripod.com/chengho.html




Petualang Christopher Columbus dikenal hebat karena berhasil menemukan benua Amerika pada tahun 1492. Namun tahukah Anda bahwa ada penjelajah yang jauh lebih hebat? Dia adalah Laksamana Cheng Ho, seorang Tionghoa Muslim yang hidup sekitar 6 abad lalu.


Selama hidupnya, Cheng Ho atau Zheng He melakukan petualangan antarabenua selama 7 kali berturut-turut dalam kurun waktu 28 tahun (1405-1433). Tak kurang dari 30 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika pernah disinggahinya. Pelayarannya lebih awal 87 tahun dibanding Columbus. Juga lebih dulu dibanding bahariwan dunia lainnya seperti Vasco da Gama yang berlayar dari Portugis ke India tahun 1497. Ferdinand Magellan yang merintis pelayaran mengelilingi bumi pun kalah duluan 114 tahun.


Ekspedisi Cheng Ho ke 'Samudera Barat' (sebutan untuk lautan sebelah barat Laut Tiongkok Selatan sampai Afrika Timur) mengerahkan armada raksasa. Pertama mengerahkan 62 kapal besar dan belasan kapal kecil yang digerakkan 27.800 ribu awak. Pada pelayaran ketiga mengerahkan kapal besar 48 buah, awaknya 27 ribu. Sedangkan pelayaran ketujuh terdiri atas 61 kapal besar dan berawak 27.550 orang. Bila dijumlah dengan kapal kecil, rata-rata pelayarannya mengerahkan 200-an kapal. Sementara Columbus, ketika menemukan benua Amerika 'cuma' mengerahkan 3 kapal dan awak 88 orang.


Kapal yang ditumpangi Cheng Ho disebut 'kapal pusaka' merupakan kapal terbesar pada abad ke-15. Panjangnya mencapai 44,4 zhang (138 m) dan lebar 18 zhang (56 m). Lima kali lebih besar daripada kapal Columbus. Menurut sejarawan, JV Mills kapasitas kapal tersebut 2500 ton.

Model kapal itu menjadi inspirasi petualang Spanyol dan Portugal serta pelayaran modern di masa kini. Desainnya bagus, tahan terhadap serangan badai, serta dilengkapi teknologi yang saat itu tergolong canggih seperti kompas magnetik.



Mengubah Peta Pelayaran Dunia


Dalam Ming Shi (Sejarah Dinasti Ming) tak terdapat banyak keterangan yang menyinggung tentang asal-usul Cheng Ho. Cuma disebutkan bahwa dia berasal dari Provinsi Yunnan, dikenal sebagai kasim (abdi) San Bao. Nama itu dalam dialek Fujian biasa diucapkan San Po, Sam Poo, atau Sam Po. Sumber lain menyebutkan, Ma He (nama kecil Cheng Ho) yang lahir tahun Hong Wu ke-4 (1371 M) merupakan anak ke-2 pasangan Ma Hazhi dan Wen.


Saat Ma He berumur 12 tahun, Yunnan yang dikuasai Dinasti Yuan direbut oleh Dinasti Ming. Para pemuda ditawan, bahkan dikebiri, lalu dibawa ke Nanjing untuk dijadikan kasim istana. Tak terkecuali Cheng Ho yang diabdikan kepada Raja Zhu Di di istana Beiping (kini Beijing).


Di depan Zhu Di, kasim San Bao berhasil menunjukkan kehebatan dan keberaniannya. Misalnya saat memimpin anak buahnya dalam serangan militer melawan Kaisar Zhu Yunwen (Dinasti Ming). Abdi yang berpostur tinggi besar dan bermuka lebar ini tampak begitu gagah melibas lawan-lawannya. Akhirnya Zhu Di berhasil merebut tahta kaisar.


Ketika kaisar mencanangkan program pengembalian kejayaan Tiongkok yang merosot akibat kejatuhan Dinasti Mongol (1368), Cheng Ho menawarkan diri untuk mengadakan muhibah ke berbagai penjuru negeri. Kaisar sempat kaget sekaligus terharu mendengar permintaan yang tergolong nekad itu. Bagaimana tidak, amanah itu harus dilakukan dengan mengarungi samudera. Namun karena yang hendak menjalani adalah orang yang dikenal berani, kaisar oke saja.


Berangkatlah armada Tiongkok di bawah komando Cheng Ho (1405). Terlebih dahulu rombongan besar itu menunaikan shalat di sebuah masjid tua di kota Quanzhou (Provinsi Fujian). Pelayaran pertama ini mampu mencapai wilayah Asia Tenggara (Semenanjung Malaya, Sumatera, dan Jawa). Tahun 1407-1409 berangkat lagi dalam ekspedisi kedua. Ekspedisi ketiga dilakukan 1409-1411. Ketiga ekspedisi tersebut menjangkau India dan Srilanka. Tahun 1413-1415 kembali melaksanakan ekspedisi, kali ini mencapai Aden, Teluk Persia, dan Mogadishu (Afrika Timur). Jalur ini diulang kembali pada ekspedisi kelima (1417-1419) dan keenam (1421-1422). Ekspedisi terakhir (1431-1433) berhasil mencapai Laut Merah.


Pelayaran luar biasa itu menghasilkan buku Zheng He's Navigation Map yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Jalur perdagangan Cina berubah, tidak sekadar bertumpu pada 'Jalur Sutera' antara Beijing-Bukhara.


Dalam mengarungi samudera, Cheng Ho mampu mengorganisir armada dengan rapi. Kapal-kapalnya terdiri atas atas kapal pusaka (induk), kapal kuda (mengangkut barang-barang dan kuda), kapal penempur, kapal bahan makanan, dan kapal duduk (kapal komando), plus kapal-kapal pembantu. Awak kapalnya ada yang bertugas di bagian komando, teknis navigasi, militer, dan logistik.


Berbeda dengan bahariwan Eropa yang berbekal semangat imperialis, armada raksasa ini tak pernah serakah menduduki tempat-tempat yang disinggahi. Mereka hanya mempropagandakan kejayaan Dinasti Ming, menyebarluaskan pengaruh politik ke negeri asing, serta mendorong perniagaan Tiongkok. Dalam majalah Star Weekly HAMKA pernah menulis, "Senjata alat pembunuh tidak banyak dalam kapal itu, yang banyak adalah 'senjata budi' yang akan dipersembahkan kepada raja-raja yang diziarahi."

Sementara sejarawan Jeanette Mirsky menyatakan, tujuan ekspedisi itu adalah memperkenalkan dan mengangkat prestise Dinasti Ming ke seluruh dunia. Maksudnya agar negara-negara lain mengakui kebesaran Kaisar Cina sebagai The Son of Heaven (Putra Dewata).

Bukan berarti armada tempurnya tak pernah bertugas sama sekali. Laksamana Cheng Ho pernah memerintahkan tindakan militer untuk menyingkirkan kekuatan yang menghalangi kegiatan perniagaan. Jadi bukan invasi atau ekspansi. Misalnya menumpas gerombolan bajak laut Chen Zhuji di perairan Palembang, Sumatera (1407).

Dalam kurun waktu 1405-1433, Cheng Ho memang pernah singgah di kepulauan Nusantara selama tujuh kali. Ketika berkunjung ke Samudera Pasai, dia menghadiahi lonceng raksasa Cakradonya kepada Sultan Aceh. Lonceng tersebut saat ini tersimpan di Museum Banda Aceh. Tempat lain di Sumatera yang dikunjungi adalah Palembang dan Bangka.

Selanjutnya mampir di Pelabuhan Bintang Mas (kini Tanjung Priok). Tahun 1415 mendarat di Muara Jati (Cirebon). Beberapa cindera mata khas Tiongkok dipersembahkan kepada Sultan Cirebon. Sebuah piring bertuliskan Ayat Kursi saat ini masih tersimpan baik di Kraton Kasepuhan Cirebon.

Ketika menyusuri Laut Jawa, Wang Jinghong (orang kedua dalam armada itu) sakit keras. Sauh segera dilempar di pantai Simongan, Semarang. Mereka tinggal di sebuah goa, sebagian lagi membuat pondokan. Wang yang kini dikenal dengan sebutan Kiai Jurumudi Dampo Awang, akhirnya menetap dan menjadi cikal bakal keberadaan warga Tionghoa di sana. Wang juga mengabadikan Cheng Ho menjadi sebuah patung (disebut Mbah Ledakar Juragan Dampo Awang Sam Po Kong), serta membangun kelenteng Sam Po Kong atau Gedung Batu.

Perjalanan dilanjutkan ke Tuban (Jatim). Kepada warga pribumi, Cheng Ho mengajarkan tatacara pertanian, peternakan, pertukangan, dan perikanan. Hal yang sama juga dilakukan sewaktu singgah di Gresik. Lawatan dilanjutkan ke Surabaya. Pas hari Jumat, dan Cheng Ho mendapat kehormatan menyampaikan khotbah di hadapan warga Surabaya yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Kunjungan dilanjutkan ke Mojokerto yang saat itu menjadi pusat Kerajaan Majapahit. Di kraton, Raja Majapahit, Wikramawardhana, berkenan mengadakan audiensi dengan rombongan bahariwan Tiongkok ini.



Muslim Taat


Sebagai orang Hui (etnis di Cina yang identik dengan Muslim) Cheng Ho sudah memeluk agama Islam sejak lahir. Kakeknya seorang haji. Ayahnya, Ma Hazhi, juga sudah menunaikan rukun Islam kelima itu. Menurut Hembing Wijayakusuma, nama hazhi dalam bahasa Mandarin memang mengacu pada kata 'haji'.

Bulan Ramadhan adalah masa yang sangat ditunggu-tunggu Cheng Ho. Pada tanggal 7 Desember 1411 sesudah pelayarannya yang ke-3, pejabat di istana Beijing ini menyempatkan mudik ke kampungnya, Kunyang, untuk berziarah ke makam sang ayah. Ketika Ramadhan tiba, Cheng Ho memilih berpuasa di kampungnya yang senantiasa semarak. Dia tenggelam dalam kegiatan keagamaan sampai Idul Fitri tiba.
Setiap kali berlayar, banyak awak kapal beragama Islam yang turut serta. Sebelum melaut, mereka melaksanakan shalat jamaah. Beberapa tokoh Muslim yang pernah ikut adalah Ma Huan, Guo Chongli, Fei Xin, Hassan, Sha'ban, dan Pu Heri. "Kapal-kapalnya diisi dengan prajurit yang kebanyakan terdiri atas orang Islam," tulis HAMKA.

Ma Huan dan Guo Chongli yang fasih berbahasa Arab dan Persia, bertugas sebagai penerjemah. Sedangkan Hassan yang juga pimpinan Masjid Tang Shi di Xian (Provinsi Shan Xi), berperan mempererat hubungan diplomasi Tiongkok dengan negeri-negeri Islam. Hassan juga bertugas memimpin kegiatan-kegiatan keagamaan dalam rombongan ekspedisi, misalnya dalam melaksanakan penguburan jenazah di laut atau memimpin shalat hajat ketika armadanya diserang badai.

Kemakmuran masjid juga tak pernah dilupakan Cheng Ho. Tahun 1413 dia merenovasi Masjid Qinging (timur laut Kabupaten Xian). Tahun 1430 memugar Masjid San San di Nanjing yang rusak karena terbakar. Pemugaran masjid mendapat bantuan langsung dari kaisar.

Beberapa sejarawan meyakini bahwa petualang sejati ini sudah menunaikan ibadah haji. Memang tak ada catatan sejarah yang membuktikan itu, tapi pelaksanaan haji kemungkinan dilakukan saat ekspedisi terakhir (1431-1433). Saat itu rombongannya memang singgah di Jeddah.

Selama hidupnya Cheng Ho memang sering mengutarakan hasrat untuk pergi haji sebagaimana kakek dan ayahnya. Obsesi ini bahkan terbawa sampai menjelang ajalnya. Sampai-sampai ia mengutus Ma Huan pergi ke Mekah agar melukiskan Ka'bah untuknya. Muslim pemberani ini meninggal pada tahun 1433 di Calicut (India), dalam pelayaran terakhirnya.





Artikel Pilihan 3 :

Tajuk : Jejak Samudra Seorang Laksamana

Sumber : http://www.gatra.com/artikel.php?id=4244



Seorang pria dikebiri mencatat sejarah gemilang didunia pelayaran. Dialah Laksamana Cheng Ho. Pada abad ke-15 ia telah mengarungi samudra bersama armada raksasanya, mendahului petualangan Christopher Columbus. Pada zaman itu, Cheng Ho telah mengunjungi 31 negara dalam pelayaran sepanjang 28 tahun.Masyarakat Cina di pelbagai negara membangun kelenteng, tempat pumujaan arwah pelaut beragama Islam
ini.

Prof. Kong Yuanzhi, guru besar bahasa dan kebudayaan Indonesia di Universitas Beijing, RRC,
mengupas perjalanan Cheng Ho dalam buku Muslim Tionghoa Cheng Ho. Buku setebal 300 halaman ini disunting Prof. H.M. Hembing Wijayakusuma, dan diterbitkan Pustaka Populer Obor, Jakarta, dengan kata pengantar Prof. Ali Yafie. Heddy Lugito menukilkannya.


MATAHARI merah merekah di ufuk timur, tampak seolah-olah ''basah'' menyembul dari kedalaman lautan.Pagi itu, awal Juli 1405, barisan kapal layar raksasa mulai meninggalkan Pelabuhan Nanking, Cina Selatan. Laksamana Cheng Ho, berseragam militer Kekaisaran Cina, berdiri gagah di atas geladak Kapal Pusaka,''Bao Chuan''.

Inilah kapal terbesar pada masa itu. Panjangnya 138 meter, dan lebarnya 56 meter, dengan daya angkut 2.500 ton. Cheng Ho, admiral berperawakan tinggi besar itu,
masih berusia 34 tahun. Dengan suara lantang ia memerintahkan para kelasinya mulai mengangkat sauh.Satu per satu armada yang terdiri dari 62 kapal itu mengembangkan layar, bergerak ke samudra terbuka.

Kapal Pusaka berlayar di barisan depan, diapit belasan kapal tempur yang mengangkut lela, meriam, dan prajurit. Kemudian disusul oleh kapal pengangkut barang dan penumpang. Inilah pelayaran perdana ke Samudra Barat yang dipimpin Cheng Ho. Armada raksasa ini melibatkan 27.800 personel, sebagian besar muslim.

Anggota armada ini bukan saja prajurit, kelasi, ahli militer, ahli teknik, dan ahli perbintangan, melainkan juga ahli bahasa yang akan bertindak sebagai
penerjemah, dan tabib. Untuk setiap 150 jiwa, disediakan seorang tabib yang berfungsi sebagai dokter. Inilah pelayaran yang menggetarkan dunia kebaharian abad ke-15, ketika para pelaut Eropa masih pada tingkat ''membaca peta''.

Christopher Columbus, misalnya, baru mulai bertualang di laut pada 1492. Sedangkan Vasco da Gama mengikuti jejak Columbus, lima tahun kemudian. Cheng Ho sendiri lahir pada 1371 di sebuah dusun di Distrik Kunyang, Provinsi Yunnan, bagian barat daya daratan Cina. Aslinya ia bernama Ma San Bao, yang dalam dialek Fujian diucapkan San Poo.

Ia anak ketiga dari enam bersaudara. Ayahnya bernama Ma Ha, keturunan suku bangsa Hui yang beragama Islam,dan mampu menunaikan ibadah haji. Sejak kecil, Ma San
Bao sering mendengar cerita perjalanan haji ayah dan kakeknya dengan menggunakan kapal laut. Cerita-cerita inilah, kemudian, yang membangkitkan keinginan San Bao
untuk menjadi pelaut.


Tuan Kasim San Bao

KISAH hidup Cheng Ho dan keluarganya kemudian dipahatkan pada batu merah makam ayahnya di Kunyang.Penulisan ini dilakukan seorang sarjana sastra, Li Zhigang, pada 1405, atas perintah Cheng Ho setelah ia pulang dari pelayaran yang kedua. Ketika Cheng Ho lahir, Dinasti Yuan yang berkuasa di daratan Cina sudah terguling, dan digantikan Dinasti Ming.

Tetapi, wilayah Provinsi Yunnan masih diduduki sisa-sisa penguasa Dinasti Yuan. Pasukan Dinasti Ming menyerbu ke Yunnan tatkala Ma San Bao baru berusia 12 tahun. San Bao, dan sejumlah anak muda lainnya, terutama yang berperawakan tampan, ditangkap dan dikebiri tentara Ming. Ia dibawa ke Nanking sebagai kasim, alias sida-sida, di Istana Kiasar.

Pada 1398, Zhu Yuanzhang, kaisar pertama dari Dinasti Ming, mangkat. Cucunya, Zhu Yunwen, lalu naik tahta karena putra mahkota Zhu Biao mati muda. Tapi, sebelum Zhu Yuanzhang meninggal, ia sempat menyerahkan kasim Ma San Bao kepada Zhu Di, raja kecil yang berkuasa di Beijing. Rupanya, pemerintahan Kiasar Zhu Yunwen yang
baru ini tidak disukai raja-raja di daerah, termasuk Zhu Di.

Untuk mencegah kemungkinan pembangkangan, Kaisar Zhu Yunwen, dengan dukungan para menterinya, memerintahkan raja-raja kecil di daerah mengurangi tentaranya.
Kabijakan ini ditentang Zhu Di. Tak cuma sampai di situ, pada 1399 ia memimpin ribuan tentaranya menyerbu Nanking. Ma San Bao, sebagai kasim kinasih, senantiasa mendampingi Zhu Di di medan perang.

Pada saat itulah ketahuan, kasim yang satu ini ternyata ligat pula di arena pertempuran. Maka, Ma San Bao diangkat menjadi salah satu panglima perang pasukan Zhu Di. Melalui pertempuran sengit dan panjang selama tiga tahun, Zhu Di berhasil menduduki Nanking. Ia menaiki tahta kaisar, sedangkan Zhu Yunwen, bersama serombongan kecil setiawan, melarikan diri ke selatan.

Kaisar Zhu Di kemudian menganugerahkan she (marga) Cheng kepada Ma San Bao. Sejak saat itulah, ia menanggalkan nama aslinya, dan menggantinya dengan Cheng Ho. Belakangan, ia juga disebut San Bao Tay Djin, yang berarti ''Tuan Kasim San Bao''. Dalam berbagai dialek Cina lainnya, sebutan ini berubah menjadi San Poo Tay Djin, San Poo Tay Kam, juga San Poo Tai Kien. Warga Cina Semarang menyebutnya Sam Poo Kong.


Tersangkut Perang Paregreg

PADA awal abad ke-15, Kaisar Zhu Di memerintahkan pelayaran ke Samudra Barat, dan menunjuk Cheng Ho sebagai pemimpin armada. Sebagai laksamana, Cheng Ho diberi hak memakai lambang burung hong (phoenix), satu tingkat di bawah gambar liong (naga) --lambang kebesaran Kaisar Cina. Pelayaran ini bertujuan menjalin kerja sama dagang antara Kekaisaran Cina dan beberapa negara asing.


Menurut sejarawan J.J.L. Duyvendak dalam bukunya,The True Dates of the Chinese Maritime Expedition in the Early Century, pelayaran ini merupakan langkah Kaisar Zhu Di untuk memulihkan kekuasaan Cina di negara-negara Asia Tenggara. Ekspedisi Cheng Ho, yang ''dibungkus'' dengan misi diplomatik, sesungguhnya tiada lain daripada sebuah show of force.

Maksud lain dari pelayaran ini adalah menggalang kerja sama dengan negara-negara Islam. Kalau keinginan itu tercapai, terpotonglah jalur perdagangan yang pada masa itu dikuasai kerajaan-kerajaan Hindu yang berkuasa di India, Siam, dan Jawa. ''Dengan kerja sama ini, Kaisar Cina berharap bisa lebih mudah menaklukkan kerajaan Hindu di Asia Tenggara, yang ketika itu sudah mulai lemah akibat penetrasi Islam,'' tulis Duyvendak dalam bukunya.


Tetapi, sejauh ini, armada Cheng Ho belum pernah menyerang raja-raja di Asia Tenggara. Satu-satunya pertempuran yang menewaskan pasukan Cheng Ho dalam jumlah besar terjadi pada 1405. Pada waktu itu, pecah perang saudara di Kerajaan Majapahit, yang terkenal dengan ''Perang Paregreg''. Perang ini melibatkan Bre Wirabhumi melawan Wikramawardana.


Bre Wirabhumi adalah putra Hayam Wuruk dari istri selir dari Kedaton Wetan (Timur). Sedangkan Wikramawardana adalah menantu Hayam Wuruk yang bertahta di Tumapel --yang disebut Kedaton Kulon (Barat). Pasukan Wirabhumi dipukul mundur, Kedaton Wetan dibakar oleh pasukan Wikramawardana. Wirabhumi kabur naik perahu ke timur.

Sialnya, ia tertangkap, dan kepalanya dipenggal oleh Raden Gajah, panglima perang Wikramawardana. Kebetulan, pada waktu itu armada Cheng Ho berada di sektor timur. Serangan pasukan Wikramawardana, yang datang dari barat, menyebabkan tewasnya 170 awak kapal Cheng Ho. Menurut Liu Ruzhong, sejarawan dari Universitas Beijing, pertempuran di Majapahit ini sempat membuat panik Cheng Ho.


Raja Majapahit Tak Sanggup Membayar

SETELAH pertempuran itu, Cheng Ho membawa armadanya ke barat, dan singgah di Pelabuhan Simongan, Semarang. Bahkan, ada yang menduga, seorang nakhoda kapal Cheng Ho, yaitu Wang Jinghong, terluka oleh prajurit Majapahit. Wang kemudian dirawat di Simongan. Akibat kehilangan 170 anak buah Cheng Ho ini, Kaisar Cina meminta ganti rugi emas sebanyak 60.000 tail.

Raja Majapahit, ternyata, hanya sanggup membayar 10 tail. Peristiwa pembunuhan ini diuraikan dalam buku Ming Shi, kitab sejarah resmi Dinasti Ming. Masih ada dua buku klasik lain yang membeberkan perjalanan Cheng Ho. Buku ini ditulis oleh dua ahli bahasa yang menyertai pelayaran muhibah itu. Yakni Ma Huan, muslim yang fasih berbahasa Arab, dan Fei Xin, sarjana ahli sastra.

Pada 1416, Ma Huan menulis buku Ying Ya Sheng Len (Pemandangan Indah di Seberang
Samudra). Sedangkan Fei Xin menulis buku Xing Cha Sheng Lan (Perjalanan Rakit dan
Bintang), yang diterbitkan pada 1436. Dalam satu bab buku Fei Xin diceritakan, bila orang luar negeri berkunjung ke kerajaan Jawa, umumnya mereka berlabuh di empat tempat.

Masing-masing tempat itu adalah Tuban, Gresik, Surabaya, dan Majapahit. Di Tuban, kata Fei Xin, uang kepingan dari negeri Cina, yang terbuat dari kuningan,
juga berlaku sebagai alat pembayaran. Di daerah ini banyak perantau Cina dari Guangdong dan Fujian. Belakangan, para perantau Cina itu memberi nama barubpada Tuban, yakni Xin Cun. Artinya, ''kampung baru''.

Bila orang berlayar setengah hari dari Tuban menuju timur, tulis Fei Xin, tibalah ia di Gresik. Di sini terdapat lebih dari 1.000 kepala keluarga. Banyak orang datang kemari untuk melakukan transaksi perdagangan. Mereka menjual emas dan permata. Berlayar
dari Gresik menuju selatan, kira-kira sejauh 20 li (sekitar 10 kilometer), tercapailah
Surabaya.

Masih menurut Fei Xin, pelabuhan Surabaya dikelilingi air tawar, dan kapal besar sulit merapat di pelabuhan ini. Di sini diperdagangkan kambing, burung beo, kain
kapas, dan perak. Dengan menumpang kapal kecil, berlayar sejauh 80 li (40 kilometer) dari Surabaya, orang akan tiba di Cangkir. Setelah mendarat, berjalan ke barat daya selama satu setengah hari, tibalah di kota raja Majapahit.


Cheng Ho Menonton Ronggeng

ISTANA raja dikelilingi tembok batu bata setinggi 9 meter. Bangunan istana tingginya kira-kira 12 meter. Genting istana terbuat dari papan kayu keras yang bercelah-celah --maksudnya sirap. Di dalam istana terdapat papan yang di atasnya terbentang tikar rotan,
tempat orang duduk bersila. Sang raja memakai mahkota berhias kembang emas, memakai kain berjelujur sutra.

''Baginda tak pakai sepatu,'' tulis Fei Xin dalam bukunya. ''Kalau bepergian jauh, beliau biasanya naik gajah, atau kereta kuda.'' Di luar cerita yang ditulis Fei Hin dan Ma Huan, masih banyak legenda tentang Cheng Ho yang bertebaran di tanah Jawa. Misalnya
''jejak'' Cheng Ho di pantai Ancol, Jakarta Utara.

Di sana terdapat Kelenteng Bahtera Bakti yang juga disebut Kelenteng Sam Poo Soei Soe, nama seorang juru masak armada Cheng Ho. Menurut sahibuldongeng, ketika
armada Cheng Ho berlabuh di Ancol, banyak awak kapal yang turun ke darat. Mereka menonton pertunjukan ronggeng. Si juru masak, Sam Poo Soei Soe, eh, kepincut seorang penari ronggeng yang bernama Sitiwati.

Siti ini anak seorang tokoh yang bernama Said Areli.Sam Poo Soei Soe mabuk kepayang oleh panah asmara sehingga lupa lautan. Sewaktu kapalnya mencabut jangkar, pria ini memutuskan tetap tinggal, dan akhirnya menikah dengan Sitiwati. Beberapa tahun
kemudian, dalam pelayaran ke Jawa, Cheng Ho menyempatkan diri singah ke Ancol, yang pada waktu itu bernama Bintang Mas.

Maksud Cheng Ho, sekalian menjenguk kokinya yang dulu memilih tinggal, Sam Poo Soei Soe. Apa lacur, yang ditemukannya hanyalah kuburan. Si juru masak itu sudah
meninggal, begitu pula istri dan mertuanya. Ketiganya dimakamkan berdekatan. Untuk memperingati ketiga orang itu, di pantai ini lalu didirikan kelenteng yang
dinamakan Sam Poo Soei Soe. Di kelenteng ini tak boleh disajikan daging babi, karena Sam Poo Soei Soe beragama Islam.

Sebagai muslim yang taat, di mana pun Cheng Ho mendarat, ia selalu menyebarkan ajaran Islam. Tak kurang dari (almarhum) Buya Hamka mengakui andil
pelaut Cina ini dalam penyebaran Islam di Indonesia. ''Nama muslim dari Tiongkok yang erat sangkut pautnya dengan kemajuan Islam di Indonesia dan tanah Melayu adalah Laksamana Cheng Ho,'' tulis Buya Hamka dalam majalah Star Weekly, Jakarta, 18 Maret 1961.


Cheng Ho Punya Istri???


MISI damai, tampaknya, lebih kuat bila dibandingkan dengan tugas tempur armada Cheng Ho. ''Senjata alat pembunuh tidak banyak terdapat di kapal itu,'' tulis Buya Hamka. ''Yang banyak adalah senjata budi yang dipersembahkan kepada raja-raja yang dikunjungi.'' Dalam perjalanannya, Cheng Ho telah mengunjungi 31 negara di Asia Tenggara, Asia Barat, dan Afrika Timur.

Karena itu, tak aneh bila kenangan tentang Cheng Ho dapat dijumpai di beberapa negara. Di sebelah timur laut kota Malaka, Malaysia, ada sebuah tempat yang bernama Bukit China. Kalangan masyarakat Cina setempat menyebut bukit ini sebagai Bukit Sam Poo. Bukit ini pernah dijadikan tempat berkemah anak buah Cheng Ho selama melakukan kunjungan muhibah pada abad ke-15.

Di barat laut Bukit China terdapat Pos San Teng, yaitu Kelenteng Sam Poo yang juga disebut Kelenteng Bao San. Kelenteng keramat yang terletak di Jalan Laksamana Cheng Ho ini dibangun pada 1795. Di dalam kelenteng ini terdapat patung Cheng Ho yang gagah dan berjenggot putih, tapi berwajah anak muda.

Di negeri jiran itu, Kelenteng Sam Poo Kong terdapat di pelbagai kota, di antaranya Penang, Trengganu, dan di Kucing, Sarawak. Di muara Sungai Menan, Teluk Siam, Thailand, terdapat pelabuhan yang dinamakan Pelabuhan Sam Poo. Di sana, konon, armada Laksamana Cheng Ho berlabuh berkali-kali. Kuil Sam Poo Kong juga terdapat di Bangkok, Thailand.

Masyarakat Cina di Bangkok setahun sekali mengadakan upacara penyambutan Sam Poo Kong dengan berbagai pertunjukan. Kuil Sam Poo juga terdapat di Singapura.
Di kuil ini bersemayam patung Cheng Ho bersama, nah: istrinya. Padahal, sebagai sida-sida, tentu saja ia tak mungkin beristri. Lagi pula, selama melakukan
pelayaran tujuh kali berturut-turut, mulai 1405 hingga 1433, tak sekali pun ia singgah di Singapura.

Pelayaran terakhir dilakukan pada 1431-1433, ketika Cheng Ho sudah berusia 62 tahun. Praktis selama 28 tahun, Cheng Ho menghabiskan hidupnya di atas geladak kapal. Ia meninggal pada 1433, dalam pelayaran dari Calcutta menuju Benggala, India. Selajutnya, pimpinan armada ini diambil alih Wang Jing Hong, nakhoda kepercayaan Cheng Ho. Jenazah sang laksamana diangkut ke Cina, dimakamkan di Bukit Niushou, Nanking.

Satu di antara sekian banyak prestasi gemilang dari seluruh perjalanan Cheng Ho adalah 24 peta navigasi. Peta ini dicetak dengan nama Zheng He's Navigation Map. Dalam peta ini dipaparkan pokok-pokok arah pelayaran, jarak di laut, dan pelbagai pelabuhan, semuanya diuraikan secara rinci. Akurasi peta ini tak kalah jika dibandingkan dengan peta sejenis yang terbit belakangan.


Sunday, April 19, 2009

Ekspedisi Jihad (6) - Misi Laksamana Haji Mahmud Shams @ Cheng Ho Ke Nusantara - Bhg 1




Artikel Oleh Sangtawal Sakranta :

Tajuk : Ekspedisi Jihad (6) : Misi Laksamana Haji Mahmud Shams @ Cheng Ho Ke Nusantara- Bhg 1



Ramai dari kita terutamanya generasi muda hari ini tidak tahu siapakah Laksemana Cheng Ho,malah masih ada yang terkejut dan seperti tidak percaya yang Laksemana Cheng Ho itu adalah seorang Cina Muslim yang beragama islam sejak kecil lagi ,yang dilahirkan dalam sebuah keluarga cina islam berbangsa Tionghoa dari puak Hui, di Wilayah Funnan.Nama islamnya iaitu Haji Mahmud Shams agak janggal bila disebut sebagai salah seorang panglima perang dan pelayar yang terbilang pada zamannya. Terutamanya di zaman Dinasti Ming.




Misi ekspedisi pelayarannya telah menjadi tanda tanya hampir berabad-abad lamanya ,namun kini misteri sejarah silam yang hebat ini telah dibongkar kembali.Catatan ekspedisi pelayarannya yang ke-7 sebelum dia meninggal dunia telah dimusnahkan oleh pihak Maharaja Cina juga mencetuskan tandatanya kepada banyak pihak.Mengapa catatan itu dimusnahkan menjadi persoalan hingga kini.Sebaik saja selepas era pelayaran Cheng Ho ,Tiongkok mula mengamalkan dasar tutup pintu di arena antarabangsa.Adakah ini juga adalah termasuk dalam perancangan illuminati-zionis,kita belum pasti.


Perkara yang amat menarik perhatian saya ialah hampir kesemua siri ekspedisi beliau adalah ke nusantara.Jumlah bilangan kapal dan anak kapal yang cukup besar dan menggerunkan sesiapa saja waktu itu di persada lautan tidak menumpukan proses penaklukan atau penjajahan keatas negara-negara yang disinggahinya malah misi ekspedisinya mempunyai agenda yang tersendiri kerana ia lebih merupakan misi diplomatik disamping menaikkan pengaruh Tiongkok atau Maharaja cina ke seluruh dunia.


Pelayaran Waktu Daerah yang dilewati

Pelayaran ke-1 1405-1407 : Champa, Jawa, Palembang, Malaka, Aru, Sumatra, Lambri, Ceylon, Kollam, Cochin, Calicut

Pelayaran ke-2 1407-1408: Champa, Jawa, Siam, Sumatra, Lambri, Calicut, Cochin, Ceylon

Pelayaran ke-3 1409-1411 : Champa, Java, Malacca, Sumatra, Ceylon, Quilon, Cochin, Calicut, Siam, Lambri, Kaya, Coimbatore, Puttanpur

Pelayaran ke-4 1413-1415 : Champa, Java, Palembang, Malacca, Sumatra, Ceylon, Cochin, Calicut, Kayal, Pahang, Kelantan, Aru, Lambri, Hormuz, Maladewa, Mogadishu, Brawa, Malindi, Aden, Muscat, Dhufar

Pelayaran ke-5 1416-1419 : Champa, Pahang, Java, Malacca, Sumatra, Lambri, Ceylon, Sharwayn, Cochin, Calicut, Hormuz, Maldives, Mogadishu, Brawa, Malindi, Aden

Pelayaran ke-6 1421-1422: Hormuz, Afrika Timur, negara-negara di Jazirah Arab

Pelayaran ke-7 1430-1433 : Champa, Java, Palembang, Malacca, Sumatra, Ceylon, Calicut, Hormuz... (17 politics in total)



Jika diteliti negara-negara yang dilawatinya itu,pada siri pelayaran pertamanya pada tahun 1405 ialah Champa,Jawa,Melaka,Sumatera dan Palembang adalah destinasi yang paling diminati beliau iaitu sekurang-kurangnya 5 kali beliau berulang alik kesana.Seperti yang kita ketahui pada waktu itu tempat-tempat itu terkenal dengan kerajaan Sriwijaya,Majapahit,Aceh dan Langkasuka. Yang paling menarik ialah pada ekspedisi pelayaran ke-4nya, beliau telah sampai ke Kelantan dan Pahang dalam tahun 1413 dan 1415.


Perlu diingat,ketika barat dan orientalis sibuk memperkatakan kejayaan Christopher Columbus menemukan benua Amerika pada tahun 1492 dengan hanya 3 buah kapal dan 88 orang anak kapal atau awak-awak ,Laksemana Cheng Ho 87 tahun sebelum itu telahpun melakukan petualangan antara benua selama 7 kali berturut-turut dalam jarak masa hanya 28 tahun sahaja (1405-1433) dengan menggunakan armada yang terdiri dari 27,000 anak kapal atau awak-awak dan 307 (armada) kapal laut. Armadanya yang terdiri dari kapal besar( hampir 5 kali ganda kapal Columbus) dan kecil, dari kapal bertiang layar tiga hingga bertiang layar sembilan buah. Kapal terbesar mempunyai panjang sekitar 400 kaki atau 120 meter dan lebar 160 kaki atau 50 meter. Tak kurang dari 30 negara di Asia, Timur Tengah, dan Afrika pernah disinggahinya. Vasco da Gama yang berlayar dari Portugis ke India tahun 1497 pun tidak dapat menandingi kehebatan Laksemana Cheng Ho malah Ferdinand Magellan yang merintis pelayaran mengelilingi bumi pun tertinggal 114 tahun di belakang ekspedisi Cheng Ho.




Kisah hidupnya yang bermula dari seorang rakyat biasa.Ketika tentera dari Dinasti Ming yang mengalahkan tentera dari Dinasti Yuan yang menguasai Yunnan,Cheng Ho juga tidak terkecuali telah ditangkap bersama pemuda lain lalu diserahkan kepada pihak istana untuk dijadikan hamba abdi kepada Maharaja Zhu Di .Namun semasa menjadi tawanan itu bakat dan ketokohannya terserlah setelah dia berjaya mendapat kepercayaan dari Raja Zhu Di untuk memimpin pasukan tentera mengalahkan dan menghapuskan pemberontakan Kaisar Zhu Yunwen dari Dinasti Ming.Kerana ketokohannya juga Raja Zhu Di berjaya naik takhta Kaisar Dinasti Ming.







Catatan siri ekspedisi yang hebat itu akhirnya berjaya menghasilkan satu panduan pelayaran yang dikenali sebagai buku Zheng He's Navigation Map yang mampu mengubah peta navigasi dunia sampai abad ke-15. Dalam buku ini terdapat 24 peta navigasi mengenai arah pelayaran, jarak di lautan, dan berbagai pelabuhan. Jalur perdagangan Cina pun berubah, tidak sekadar bertumpu pada 'Jalur Sutera' antara Beijing-Bukhara sahaja malah nama Tiongkok semakin dikenali di mata dunia hasil pengembaraan Cheng Ho tersebut.


Nama Laksemana Cheng Ho terkenal di alam Nusantara terutamanya di Melaka pada abad ke-15 apabila dikaitkan dengan misi penghantaran Pueri Hang Li Po yang cantik jelita sebagai hadiah dari Maharaja cina untuk dikahwinkan dengan Sultan Mansur Shah ketika itu.


Laksemana Cheng Ho telah meninggal dunia pada bulan April 1433 di Calcutta, India, jenazahnya dikuburkan di suatu tempat di tengah perjalanan pulang ke Tiongkok (ada sesetengah pendapat yang menyatakan beliau di kuburkan di Semarang) . Cuma rambut dan pakaiannya saja yang dibawa kembali ke Tiongkok pada bulan Julai 1433. Yang menjadi persoalan misteri ialah mengapa setelah kematian Cheng Ho, pihak istana telah membakar seluruh catatan yang dibuat Cheng Ho sebagai laporan perjalanannya. Sehingga catatan mengenai ekspedisi ke-7 Cheng Ho sangat sedikit ditemui.Namun yang pasti ada catatan mengenainya.


Persoalan yang ingin saya kemukakan disini untuk renungan kita bersama ialah adakah laksemana Cheng Ho benar benar mati sewaktu umurnya 64 tahun dalam perjalanan beliau itu?.Peristiwa bagaimana Laksemana Hang Tuah yang dikatakan telah dibunuh oleh Datuk Bendahara lalu dipersembahkan pakaian yang berdarah kepada raja sebagai bukti pembunuhannya masih segar dalam lipatan sejarah kita.Jika dikatakan Laksemana Cheng Ho atau Haji mahmud Shams ini telah meninggal dan dikuburkan di Semarang,maka dimanakah sebenarnya kubur beliau itu??? tak mungkin mayat beliau dicampakkan ke laut memandangkan ramai anak-anak kapalnya yang beragama islam malah ada yang dilantik sebagai imam untuk mengimamkan solat diatas kapal dan menguruskan jenazah jika berlaku sebarang kematian dalam pelayaran mereka.


Kini orang cina di negeri cina sendiri juga barangkali terkejut bila terpaksa mengakui kebenaran bahawa seni bela diri yang didakwa menjadi hak milik mutlak mereka iaitu Kung Fu itu adalah berasal dari Calcutta,India yang berasal dari Kallary Payatt dibawa dan dikembangkan oleh Laksemana Cheng Ho dan orang-orang beliau ke tanah besar cina..


Jika kita meneliti urutan sejarah dan pergolakan perebutan kenaikan takhta kaisar dinasti Ming di Cina,barangkali kita boleh membuat sedikit andaian mengapa penyudah kepada kehebatan seorang panglima perang dan laksemana bagi Armada laut raksasa yang terbilang berakhir dengan penuh misteri.Urutan sejarahnya begini…


Selepas kematian Kaisar Ming Cheng Zhu pada tahun 1424, Kaisar Ming Ren Zhong telah naik tahta, lalu mengeluarkan larangan berlayar bagi semua pelaut Tiongkok. Inilah yang menyebabkan mengapa jarak antara ekspedisi ke-6 dan ke-7 Cheng Ho berselang begitu lama.

Setahun kemudian Kaisar Ming Ren Zhong mewariskan tahta kepada Kaisar Ming Xuan Zhong. Tahun 1430, Kaisar Ming Ren Zhong mati dan Kaisar Ming Xuan Zhong kembali memperbolehkan Cheng Ho belayar (ekspedisi ke-7 dalam tahun 1431~1433).

Namun setelah berakhirnya ekspedisi ke-7, Kaisar Ming Xuan Zhong mula mengamalkan dasar tutup pintu menyebabkan terputusnya hubungan budaya dan kemajuan luar negeri. Oleh itu dengan sendirinya kejayaan dan kegemilangan maritim Tiongkok yang begitu hebat dan terkenal itu semakin suram.




Kemunduran teknologi maritim dan selok belok pelayaran juga adalah menjadi faktor utama jatuhnya Dinasti Qing setelah angkatan laut Tiongkok mengalami kekalahan yang memalukan kepada imperialis Barat dalam Perang Candu.


Thursday, April 16, 2009

Ekspedisi Jihad (5) - Misi Saad Bin Abi Waqqas Ke Cina




Artikel Pilihan 1 :



Tajuk : Sejarah Ringkas Saad Bin Abi Waqqas


Sumber :http://www.republika.co.id/berita/6680/Saad_bin_Abi_Waqqas_Panglima_Perang_Umat_Islam



Penolakan kaisar Persia membuat air mata Saad bercucuran. Berat baginya melakukan peperangan yang harus mengorbankan banyak nyawa kaum Muslim dan non Muslim.

Kepahlawanan Saad bin Abi Waqqas tertulis dengan tinta emas saat memimpin pasukan Islam melawan tentara Persia di Qadissyah. Peperangan ini merupakan salah satu peperangan terbesar umat Islam.

Bersama tiga ribu pasukannya, ia berangkat menuju Qadasiyyah. Di antara mereka terdapat sembilan veteran perang Badar, lebih dari 300 mereka yang ikut serta dalam ikrar Riffwan di Hudaibiyyah, dan 300 di antaranya mereka yang ikut serta dalam memerdekakan Makkah bersama Rasulullah. Lalu ada 700 orang putra para sahabat, dan ribuan wanita yang ikut serta sebagai perawat dan tenaga bantuan.

Pasukan ini berkemah di Qadisiyyah di dekat Hira. Untuk melawan pasukan Muslim, pasukan Persia yang siap tepur berjumlah 12O ribu orang dibawah panglima perang kenamaan mereka, Rustum.

Sebelum memulai peperangan, atas instruksi Umar yang menjadi khalifah saat itu, Saad mengirim surat kepada kaisar Persia, Yazdagird dan Rustum, yang isinya undangan untuk masuk Islam. Delegasi Muslim yang pertama berangkat adalah Numan bin Muqarrin yang kemudian mendapat penghinaan dan menjadi bahan ejekan Yazdagird.

Untuk mengirim surat kepada Rustum, Saad mengirim delegasi yang dipimpin Rubiy bin Aamir. Kepada Rubiy, Rustum menawarkan segala kemewahan duniawi. Namun ia tidak berpaling dari Islam dan menyatakan bahwa Allah SWT menjanjikan kemewahan lebih baik yaitu surga.

Para delegasi Muslim kembali setelah kedua pemimpin itu menolak tawaran masuk Islam. Melihat hal tersebut, air mata Saad bercucuran karena ia terpaksa harus berperang yang berarti mengorbankan nyawa orang Muslim dan non Muslim.

Setelah itu, untuk beberapa hari ia terbaring sakit karena tidak kuat menanggung kepedihan jika perang harus terjadi. Saad tahu pasti, bahwa peperangan ini akan menjadi peperangan yang sangat keras yang akan menumpahkan darah dan mengorbankan banyak nyawa.

Ketika tengah berpikir, Saad akhirnya tahu bahwa ia tetap harus berjuang. Karena itu, meskipun terbaring sakit, Saad segera bangkit dan menghadapi pasukannya. Di depan pasukan Muslim, Saad mengutip Alquran surat Al Anbiya ayat 105 tentang bumi yang akan dipusakai oleh orang-orang shaleh seperti yang tertulis dalam kitab Zabur.

Setelah itu, Saad berganti pakaian kemudian menunaikan sholat Dzuhur bersama pasukannya. Setelah itu dengan membaca takbir, Saad bersama pasukan Muslim memulai peperangan. Selama empat hari, peperangan berlangsung tanpa henti dan menimbulkan korban dua ribu Muslim dan sepuluh ribu orang Persia. Peperangan Qadisiyyah merupakan salah satu peperangan terbesar dalam sejarah dunia. Pasukan Muslim memenangi peperangan itu.

Saad lahir dan besar di kota Makkah. Ia dikenal sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya tidak terlalu tinggi namun bertubuh tegap dengan potongan rambut pendek. Orang-orang selalu membandingkannya dengan singa muda.

Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya dan sangat disayangi kedua orangtuanya, terutama ibunya. Meski berasal dari Makkah, ia sangat benci pada agamanya dan cara hidup yang dianut masyarakatnya. Ia membenci praktik penyembahan berhala yang membudaya di Makkah saat itu.

Suatu hari dalam hidupnya, ia didatangi sosok Abu Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah. Ia mengajak Saad menemui Muhammad di sebuah perbukitan dekat Makkah. Pertemuan itu mengesankan Saad yang baru berusia 20 tahun.

Ia pun segera menerima undangan Muhammad SAW untuk menjadi salah satu penganut ajaran Islam yang dibawanya. Saad kemudian menjadi salah satu sahabat yang pertama masuk Islam.

Saad sendiri secara tidak langsung memiliki hubungan kekerabatan dengan Rasulullah SAW. Ibunda rasul, Aminah binti Wahhab berasal dari suku yang sama dengan Saad yaitu dari Bani Zuhrah. Karena itu Saad juga sering disebut sebagai Saad of Zuhrah atau Saad dari Zuhrah, untuk membedakannya dengan Saad-Saad lainnya.

Namun keislaman Saad mendapat tentangan keras terutama dari keluarga dan anggota sukunya. Ibunya bahkan mengancam akan bunuh diri. Selama beberapa hari, ibunda Saad menolak makan dan minum sehingga kurus dan lemah. Meski dibujuk dan dibawakan makanan, namun ibunya tetap menolak dan hanya bersedia makan jika Saad kembali ke agama lamanya. Namun Saad berkata bahwa meski ia memiliki kecintaan luar biasa pada sang ibu, namun kecintaannya pada Allah SWT dan Rasulullah SAW jauh lebih besar lagi.

Mendengar kekerasan hati Saad, sang ibu akhirnya menyerah dan mau makan kembali. Fakta ini memberikan bukti kekuatan dan keteguhan iman Saad bin Abi Waqqas. Di masa-masa awal sejarah Islam, kaum Muslim mengungsi ke bukit jika hendak menunaikan shalat. Kaum Quraisy selalu mengalangi mereka beribadah.

Saat tengah shalat, sekelompok kaum Quraisy mengganggu dengan saling melemparkan lelucon kasar. Karena kesal dan tidak tahan, Saad bin Abi Waqqas yang memukul salah satu orang Quraisy dengan tulang unta sehingga melukainya. Ini menjadi darah pertama yang tumpah akibat konflik antara umat Islam dengan orang kafir. Konflik yang kemudian semakin hebat dan menjadi batu ujian keimanan dan kesabaran umat Islam.

Setelah peristiwa itu, Rasulullah meminta para sahabat agar lebih tenang dan bersabar menghadapi orang Quraisy seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Alquran surat Al Muzammil ayat 10. Cukup lama kaum Muslim menahan diri. Baru beberapa dekade kemudian, umat Islam diperkenankan melakukan perlawanan fisik kepada para orang kafir. Di barisan pejuang Islam, nama Saad bin Abi Waqqas menjadi salah satu tonggak utamanya.

Ia terlibat dalam perang badar bersama saudaranya yang bernama Umair yang kemudian syahid bersama 13 pejuang Muslim lainnya. Pada perang Uhud, bersama Zaid, Saad terpilih menjadi salah satu pasukan pemanah terbaik Islam. Saad berjuang dengan gigih dalam mempertahankan Rasulullah SAW setelah beberapa pejuang Muslim meninggalkan posisi mereka. Saad juga menjadi sahabat dan pejuang Islam pertama yang tertembak panah dalam upaya mempertahankan Islam.

Saad juga merupakan salah satu sahabat yang dikarunai kekayaan yang juga banyak digunakannya untuk kepentingan dakwah. Ia juga dikenal karena keberaniannya dan kedermawanan hatinya. Saad hidup hingga usianya menjelang delapan puluh tahun. Menjelang wafatnya, Saad meminta puteranya untuk mengafaninya dengan jubah yang ia gunakan dalam perang Badar. ''Kafani aku dengan jubah ini karena aku ingin bertemu Allah SWT dalam pakaian ini,''ujarnya.




Artikel pilihan 2 :


Tajuk : Peranan Saad Bin Abi Waqqas Dalam Sejarah Islam.


Sumber :http://www.geocities.com/wahyu_aris_f/sejarahislam_utsmanbinaffan.html



Era Khalifah Utsman bin Affan

(33-45 Hijriah/644-656 Masehi).


Menjelang wafat, Umar bin Khattab berpesan. Selama tiga hari, imam masjid hendaknya diserahkan pada Suhaib Al-Rumi. Namun pada hari keempat hendaknya telah dipilih seorang pemimpin penggantinya. Umar memberikan enam nama. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auff dan Thalhah anak Ubaidillah.


Keenam orang itu berkumpul. Abdurrahman bin Auff memulai pembicaraan dengan mengatakan siapa dia antara mereka yang bersedia mengundurkan diri. Ia lalu menyatakan dirinya mundur dari pencalonan. Tiga orang lainnya menyusul. Tinggallah Utsman dan Ali. Abdurrahman ditunjuk menjadi penentu. Ia lalu menemui banyak orang meminta pendapat mereka. Namun pendapat masyarakat pun terbelah.

Imar anak Yasir mengusulkan Ali. Begitu pula Mikdad. Sedangkan Abdullah anak Abu Sarah berkampanye keras buat Utsman. Abdullah dulu masuk Islam, lalu balik menjadi kafir kembali sehingga dijatuhi hukuman mati oleh Rasul. Atas jaminan Utsman hukuman tersebut tidak dilaksanakan. Abdullah dan Utsman adalah "saudara susu".
Konon, sebagian besar warga memang cenderung memilih Utsman. Saat itu, kehidupan ekonomi Madinah sangat baik. Perilaku masyarakat pun bergeser. Mereka mulai enggan pada tokoh yang kesehariannya sangat sederhana dan tegas seperti Abu Bakar atau Umar. Ali mempunyai kepribadian yang serupa itu. Sedangkan Ustman adalah seorang yang sangat kaya dan pemurah.


Abdurrahman -yang juga sangat kaya-- pun memutuskan Ustman sebagai khalifah. Ali sempat protes. Abdurrahman adalah ipar Ustman. Mereka sama-sama keluarga Umayah. Sedangkan Ali, sebagaimana Muhammad, adalah keluarga Hasyim. Sejak lama kedua keluarga itu bersaing. Namun Abdurrahman meyakinkan Ali bahwa keputusannya adalah murni dari nurani. Ali kemudian menerima keputusan itu.


Maka jadilah Ustman khalifah tertua. Pada saat diangkat, ia telah berusia 70 tahun. Ia lahir di Thalif pada 576 Masehi atau enam tahun lebih muda ketimbang Muhammad. Atas ajakan Abu Bakar, Ustman masuk Islam. Rasulullah sangat menyayangi Ustman sehingga ia dinikahkan dengan Ruqaya, putri Muhammad. Setelah Ruqayah meninggal, Muhammad menikahkan kembali Ustman dengan putri lainnya, Ummu Khulthum.

Masyarakat mengenal Ustman sebagai dermawan. Dalam ekspedisi Tabuk yang dipimpin oleh Rasul, Ustman menyerahkan 950 ekor unta, 50 kuda dan uang tunai 1000 dinar. Artinya, sepertiga dari biaya ekspedisi itu ia tanggung seorang diri. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, Ustman juga pernah memberikan gandum yang diangkut dengan 1000 unta untuk membantu kaum miskin yang menderita di musim kering itu.

Di masanya, kekuatan Islam melebarkan ekspansi. Untuk pertama kalinya, Islam mempunyai armada laut yang tangguh. Muawiyah bin Abu Sofyan yang menguasai wilayah Syria, Palestina dan Libanon membangun armada itu. Sekitar 1.700 kapal dipakainya untuk mengembangkan wilayah ke pulau-pulau di Laut Tengah. Siprus, Pulau Rodhes digempur. Konstantinopel pun sempat dikepung.

Namun, Ustman mempunyai kekurangan yang serius. Ia terlalu banyak mengangkat keluarganya menjadi pejabat pemerintah. Posisi-posisi penting diserahkannya pada keluarga Umayah. Yang paling kontroversial adalah pengangkatan Marwan bin Hakam sebagai sekretaris negara. Banyak yang curiga, Marwan-lah yang sebenarnya memegang kendali kekuasaan di masa Ustman.


Di masa itu, posisi Muawiyah anak Abu Sofyan mulai menjulang menyingkirkan nama besar seperti Khalid bin Walid. Amr bin Ash yang sukses menjadi Gubernur Mesir, diberhentikan diganti dengan Abdullah bin Abu Sarah -keluarga yang paling aktif berkampanye untuk Ustman dulu. Usman minta bantuan Amr kembali begitu Abdullah menghadapi kesulitan. Setelah itu, ia mencopot lagi Amr dan memberikan kembali kursi pada Abdullah.


Sebagai Gubernur Irak, Azerbaijan dan Armenia, Ustman mengangkat saudaranya seibu, Walid bin Ukbah menggantikan tokoh besar Saad bin Abi Waqas. Namun Walid tak mampu menjalankan pemerintahan secara baik. Ketidakpuasan menjalar ke seluruh masyarakat. Bersamaan dengan itu, muncul pula tokoh Abdullah bin Sabak. Dulu ia seorang Yahudi, dan kini menjadi seorang muslim yang santun dan saleh. Ia memperoleh simpati dari banyak orang.


Abdullah berpendapat bahwa yang paling berhak menjadi pengganti Muhammd adalah Ali. Ia juga menyebut bakal adanya Imam Mahdi yang akan muncul menyelamatkan umat di masa mendatang -sebuah konsep mirip kebangkitan Nabi Isa yang dianut orang-orang Nasrani. Segera konsep itu diterima masyarakat di wilayah bekas kekuasaan Persia, di Iran dan Irak. Pengaruh Abdullah bin Sabak meluas. Ustman gagal mengatasi masalah ini secara bijak. Abdullah bin Sabak diusir ke Mesir. Abu Dzar Al-Ghiffari, tokoh yang sangat saleh dan dekat dengan Abdullah, diasingkan di luar kota Madinah sampai meninggal.


Beberapa tokoh mendesak Ustman untuk mundur. Namun Ustman menolak. Ali mengingatkan Ustman untuk kembali ke garis Abu Bakar dan Umar. Ustman merasa tidak ada yang keliru dalam langkahnya. Malah Marwan berdiri dan berseru siap mempertahankan kekhalifahan itu dengan pedang. Situasai tambah panas. Pada bulan Zulkaedah 35 Hijriah atau 656 Masehi, 500 pasukan dari Mesir, 500 pasukan dari Basrah dan 500 pasukan dari Kufah bergerak. Mereka berdalih hendak menunaikan ibadah haji, namun ternyata mengepung Madinah.


Ketiganya bersatu mendesak Ustman yang ketika itu telah berusia 82 tahun untuk mundur. Dari Mesir mencalonkan Ali, dari Basrah mendukung Thalhah dan dari Kufah memilih Zubair untuk menjadi khalifah pengganti. Ketiganya menolak, dan malah melindungi Ustman dan membujuk para prajurit tersebut untuk pulang. Namun mereka menolak dan malah mengepung Madinah selama 40 hari. Suatu malam mereka malah masuk untuk menguasai Madinah. Ustman yang berkhutbah mengecam tindakan mereka, dilempari hingga pingsan.


Ustman membujuk Ali agar meyakinkan para pemberontak. Ali melakukannya asal Ustman tak lagi menuruti kata-kata Marwan. Ustman bersedia. Atas saran Ali, para pemberontak itu pulang. Namun tiba-tiba Ustman, atas saran Marwan, menjabut janjinya itu. Massa marah.Pemberontak balik ke Madinah.


Muhammad anak Abu Bakar siap mengayunkan pedang. Namun tak jadi melakukannya setelah ditegur Ustman. Al Ghafiki menghantamkan besi ke kepala Ustman, sebelum Sudan anak Hamran menusukkan pedang. Pada tanggal 8 Zulhijah 35 Hijriah, Ustman menghembuskan nafas terakhirnya sambil memeluk Quran yang dibacanya. Sejak itu, kekuasaan Islam semakin sering diwarnai oleh tetesan darah.


Ustman juga membuat langkah penting bagi umat. Ia memperlebar bangunan Masjid Nabawi di Madinah dan Masjid Al-Haram di Mekah. Ia juga menyelesaikan pengumpulan naskah Quran yang telah dirintis oleh kedua pendahulunya. Ia menunjuk empat pencatat Quran, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Said bin Ash, dan Abdurrahman bin Harits, untuk memimpin sekelompok juru tulis. Kertas didatangkan dari Mesir dan Syria. Tujuh Quran ditulisnya, Masing-masing dikirim ke Mekah, Damaskus, San'a, Bahrain, Basrah, Kufah dan Madinah.


Di masa Ustman, ekspedisi damai ke Tiongkok dilakukan. Saad bin Abi Waqqas bertemu dengan Kaisar Chiu Tang Su dan sempat bermukim di Kanton.




Artikel Pilihan 3 :


Tajuk : Islam di Cina.


Sumber : http://www.ashtech.com.my/DIL/start/tamaddun.php



Peluasan kawasan Islam itu berlaku ketika di zaman khalifah AL-Walid bin Abdul Malik. Panglima Islam yang bertanggungjawab menyebarkan Islam ke Timur hingga ke sempadan negara China adalah Qutaibah bin Muslim. Akibat daripada penguasaan Islam ke timur dan kekalahan tentera China di sungai Talas maka ini telah menghalang kerajaan China pada ketika di bawah Dinasti Tang daripada mengekalkan kuasa di Asia Tengah.


Berikut terdapat beberapa keadaan bagaimana Islam tersebar ke negara China:


1. Berdasarkan sumber dari China, Maharaja Tang II telah menghantar utusan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menghantar pendakwah ke negara tersebut. Nabi telah menyambut baik dengan menghantar tiga orang pendakwah. Dua daripada pendakwah itu meninggal dunia semasa perjalanan yang amat jauh, dan hanya seorang sahaja yang selamat sampai ke China. Maharaja tersebut telah membina sebuah masjid untuknya. Bermula dari itu beliau mula menyebarkan Islam di negeri China. (Jameel Abdullah, present Islamic world, part 2, p.in Saudi Arabia, page. 495, in Arabic)


2. Semasa di zaman Khalifah Al-Rashidin yang ketiga iaitu Uthman bin Affan, baginda telah menghantar Saad bin Abi Waqqas melawat negeri China pada tahun 651 M (29Hijrah) untuk menyampaikan dakwah kepada Maharaja China. Semasa pemerintahan khulafah Al-Rashidin yang ketiga (Othman bin Affan), baginda telah mengutuskan Saad bin Abi Waqqas ke China pada tahun 651 Masehi (29 Hijrah.). Hasilnya lawatan tersebut, maharaja China tersebut telah mengarahkan pembinaan Masjid yang besar dan indah di Bandar Canton atau kini dikenali sebagai Guangzhou. (Abdur- Rauf, 1994)


3. Tentera Islam dibawah Qutaibah bin Muslim menjalankan penaklukan ke atas Bandar Kashgar ibu kota Turkestan Timur pada tahun 714 M dan menyeru Maharaja China memeluk Islam. (Turkestan Timur adalah sebuah negara merdeka sehingga ditakluk oleh kerajaan Manchu tahun 1759. Pada tahun 1876 ia memberontak dan merdeka dari kerajaan Manchu dan pada tahun 1949 ia di kuasai oleh kerajaan komunis China.)


4.Dalam tahun In 757 M. (138 Hijrah) Jeneral Lien Chen memberontak menentang Maharaja Su Tsung. Atas permintaan Maharaja Khalifah Abbasiyah iaitu Khalifah AL-Mansor telah mengirimkan 4000 orang tentera yang terdiri daripada orang Islam berbangsa Turki ke China. Tentera Islam yang dikirimkan berjaya dalam misi tersebut. Namun begitu tentera tersebut terus tinggal di negeri China dan berkahwin dengan wanita tenpatan. Ini membantu dalam penyebaran Islam di China. (Abdur-Rauf, 1994)


5. Sesetengah pendakwah ke China melalui laut bersama pedagang dan menyebarkan Islam di Bandar-bandar seperti Shanghai, Guangzhou, dan sebagainya (Abdullah, 1994)


6. Dalam kurun ke 4 Masehi (10Hijrah), Raja Turkestan Timur memeluk Islam. Ini memudahkan lagi penyebaran Islam di Turkestan Timur dan China (Muhyiddin Hasan, 1987).


7. Bila masyarakat berbangsa Uyghur yang tinggal di Turkestan Timur memeluk Islam, maka mereka mula menyebarkan Islam di Turkestan Timur dan China.( Abdur-Rauf, 1994)


8. Bila Maharaja China mula tertarik dengan kebaikan agama Islam maka beliau telah menjemput beberapa pendakwah Islam secara rasmi. Pendakwah tersebut dapat menyebarkan Islam dengan bebas dan selesa. (Jameel Abdullah).

Berikut adalah zaman gemilang Islam di China pada peringkat awal.

1- Zaman Tang. berakhir 907 Masehi
2- Zaman Sung dari 907-1279 Masehi
3- Zaman Yunnan 1280-1368 Masehi
4- Zaman Ming 1368-1644. Masehi

Pada empat zaman ini jumlah penduduk Islam bertambah dari semasa ke semasa dan maju dari segi pendidikan, politik, ekonomi dan sosial. (Muhyiddin Hasan, 1987).




Artikel Pilihan 4 :



Tajuk : Muslim In China : A Brief History.


Sumber : http://sejarahrealitinagarakedah.blogspot.com/2007/07/muslims-in-china-brief-history.html atau http://www.geocities.com/khyber007/china.html




The Emperor asked them as to the meaning of the term Hui (Those who shall Return the Chinese name for Muslims) to which one of them answered: It refers to the temporary stay of man upon earth, which he leaves to Return at death; it refers to the soul's Return to the Beyond, to the Return of the erring conscience to the Right Way, to the Return to the Real and True from the elusive and false.

Tang Dynasty Tradition

The Advent of Islam in South China:

The advent of Islam in South China makes a fascinating study. The earliest Muslims came to these parts by sea. Arab traders were known to have sailed to China even during the period beyond historical records. Records exist from 5th century A.D. (Tang Dynasty 618-907) which shows the route from Siraf in the Persian Gulf to Muscat in the Gulf of Oman, thence to the South Indian (Malabar) coast. From there the route continued to Ceylon (Sarandip), to Nicobar group of islands, to straits of Malacca, then round the South coast of the Malay Peninsula to the Gulf of Siam and thence to Canton and Hangchow in China.

According to Muslim traditions, when the early Muslims were being persecuted in Mecca some of them were allowed to migrate to Habash (Abyssinia) but most of them later came back, including the famous companions and muazzin Bilal. However, the Books of Individual Records noticed that four companions did not return, one of them being Abi Waqqas, a maternal uncle of the Holy Prophet. It is narrated that Abi Waqqas had gained favour with the Najashi King of Habash who had allowed him to sail to China.

This tallies with the account of Liu Chih (who wrote a 12-volume Life of the Prophet in Chinese in 1721 A.D.) according to which Abi Waqqas, the Holy Prophets maternal uncle, arrived in China with three other Sahaba. Broomhall gives the date of this arrival in China of the Sahaba. Broomhall gives the date of this arrival in China of the Sahaba as 611 A.D. The Chinese historian gives the date as 587 A.D. Both the dates are incorrect, since the first revelation to the Prophet came in 611 A.D. and the first batch of Muslim emigrants went to Abyssinia in 615 A.D. Abi Waqqas could not have reached Canton before 616 A.D.) Abi Waqqas then went back to Arabia to being the Holy Quran and came to China the second time after 21 years.

An inscription at Canton dated 1861 A.D. Also states that Abi Waqqas landed in Canton in 587 A.D. and built the mosque of Holy Remembrance. It is believed that the earliest mosque built in China is the present mosque of Holy Remembrance at Canton. The mosque was built along-side the Smooth Minaret (Kwang Ta) which was built earlier by the Arabs as a lighthouse. The mosque and the minaret exist even today in Canton, and the tomb of Abi Waqqas as well as a small mosque, also located in the Muslim graveyard of Canton. According to Great Ming Geography, two of his companions lie buried in nearby Fukian. It is almost certain that these were the first Muslim preachers who came to South China by sea and propagated Islam in the coastal cities of Kwangchow, Chuanchow, Hangchow and Yangchow. There is, however, a difference of opinion about the exact dates because of the difficulties in calculations in the Western Gregorian Calender and the Chinese and Muslim Lunar Calenders.

The introduction so Islam in Western China makes a still more colourful and fascinating study. According to Tang Dynasty (618-907 A.D.) records, two embassies, one from Yezdegrid, the grandson of Khosroes and the other from the Roman Empire, came to the court of Tai Tsung, the second tang Emperor (627-650) in 638 and 643 respectively and both reported their defeats at the hands of the Arabs. Yezdegird, the last of Sassanian Kings of Iran, had sought refuge with the Turkish tribes of Ferghana an had also sought friendship with Emperor Tai Tsung whose capital was at Chang An (modern Sian). The Chinese of the time were at the height of their power, and had their frontiers with the Persian Empire. In 650, Tai Tsung died and his son, Emperor Kao Tsung, received an appeal for aid from Firuz, the son of Yezdegird.

Kao Tsung sent an emissary to Caliph Osman at Madina to plead for Firuz and the Caliph in return sent one of his generals to Sian in 651 and thus the first Muslim Embassy was established in Western China. During the reign of the Omayyad Caliph, Walid I, Central Asia, India, North Africa and Spain were being conquered. At the time when Mohammad Bin Qasim had landed in Sind, Qutaiba Bin Muslim was making advances in Central Asia. Emperor Hsuan Tsung and the envoy refused to kow tow to the Emperor saying he could only bow to the Almighty Allah. However, Qutaiba agreed to release the Chinese prisoners on the condition that they taught Muslims how to make paper an art the Chinese had masteres. Thus the art of paper-making was acquired by the Arabs and taken to Baghdad. From there this art spread to Egypt, Spain and later to Europe.

It was because of the death of Caliph Walid I (719 A.D.) the assassination of Qutaiba and the overthrow of the Omayyads by the Abbasids that the Arab advancement in Central Asia was halted. This period corresponds in time with the Battle of Tours in France (732 A.D.) when Muslim advances in Europe were also halted.

In 755 A.D., five years after the rise of the Abbasids, during the reign of Abu Jaffar, the 3rd Abbasid Caliph, a rebellion broke out in China the leader of which was a Turk named An Lu-shan. Emperor Hasuan Tsung was driven from his capital and he abdicated in favour of his son Su Tsung (756-763 A.D.) who appealed to the Arabs for help. Abu Jaffar sent 4,000 Muslim soldiers who recovered Sian and Honanfu for the Emperor in 757 A.D. These soldiers never went back, but instead married in China and formed the nucleus of the naturalised Chinese Muslims in Western China whose descendents live there even today. The story was repeated by Tai Tsung (763-780 A.D.), son of Su Tsung, who also sought help from Abu Jaffar when 300,000 Tibetans invaded his kingdom. Abu Jaffar sent a large contingent so much so that the Chinese government was obliged to double the tax on tea to raise funds to pay them. These Muslims also settled down in Western China and some in Yunnan, in South China, where they came to be known as Panthays.

As a result of contact with Muslim armies, many people accepted Islam, among them a tribe ralled Hui Chi, after whom the Muslims of China were known until the time of the Yuan (Mongol) dynasty, when the name was changed to Hui-Hui, by which name they are still known. But there is another name, which is generally used by Muslims, that is, Ching Zhen, In Chinese, Islam is called Ching Zhen Jiao, meaning Pure Religion, as Ching and Zhen mean clean and real respectively.

Muslims Under Sung, Yuan and Ming Dynasties:

During the Sung Dynasty (960-1280), the Court Records mention twenty embassies from Arabia. Muslims received good treatment from the kings of this dynasty and many of them were given titles and appointed to high posts.The news of this treatment spread to the Muslim countries and many Muslims came from Turkestan to find employment in the Chinese army. During the Mongol period (Yuan Dynasty, 1260-1368 A.D.) the Muslims thrived and established themselves as an important section of Chinese society.

The records of Yuan Dynasty include many biographies of distinguished Muslims who were employed by the Mongols. Sayid Ajjal (Sai Tien-Chih) of Bokhara became the conqueror and governor of Yunnan. His son, Nasaruddin is mentioned by Marco Polo. He distinguished himself in the wars against Cochin China and Burma. Alauddin (A-lao-wa-ting) and Ismail (I-ssu-ma-yin) were sent from Persia to China as expert makers. Their machines were used in the catapult siege of Siang Yang fu in 1271 A.D. Jamal-ud-Din, a Persian astronomer presented to Kublai Khan seven Persian astronomical instruments (1267 A.D.) and a new chronology entitled Wannianli (The Ten Thousand Year Chronology).

Under the Ming Dynasty (1368-1644) also, the Muslims enjoyed privileges, and, both in the army and the civil services, occupied high positions. Numerous embassies came to China from Arabia and Muslim arts and crafts influenced China. A number of Muslim artistic motifs can be seen in the famous Ming porcelain and the beautiful blue of this porcelain is due to the introduction of Persian cobalt. A good deal of porcelain belonging to this period bears Arabic words and inscriptions and verses from the Holy Quran. Moreover, many shapes of Tang, Sung and Ming china are based on those common in Islamic countries.

During the Ming period, Admiral Zheng Ho and his lieutenant Ma Huan (Muhammad Hasan) became famous as navigators and explorers. Zheng Ho was the name bestowed on Sai Ho Ch'ih (i.e. Sayyid Haji) by Yung Lo, the third Emperor of the Ming. He is also known by the title San Pao Kung (Our Master of the Three Jewels) given to him by the grateful Chinese settlers of South East Asia, who worship him to this day as one of their saints. Zheng Ho was born in 1371 A.D. in the fourth year of the reign of the first Ming Emperor Hung Wu. Having los this father at the early age of twelve he joined military service and took a prominent part in the subjugation of his ancestral Yunnan province fro the newly risen Ming power.

He achieved spectacular successes in the pacification of the frontier provinces of China while he was still in his teens. His distinguished services to the state brought him royal favour, which he utilised for the welfare of his fellow Muslims, A living monument of his solicitude for the Chinese Muslims is the stone tablet of the Sian mosque (Siam or Xian), which commemorates some of the generous concessions that he obtained for them from the grateful Emperor. In 1403 Emperor Yung Lo ascended the throne and planned to extend the Chinese political influence and trade overseas. For this ambitious venture he selected Zheng Ho to lead Chinese armadas in the China Sea and the Indian Ocean. The story of his seven maritime expeditions has few parallels in the history of navigation. Having churned the waves of the Western Pacific and Indian Ocean almost a century before Vasco da Gama reached India, Zheng Ho made his last voyage to the Eternal Home in 1435 at the age of 65.

The Panthays of Yunnan:

Islam was introduced in Yunnan (literally South of Clouds) province by the soldiers of Kublai khan in the beginning of Yuan Dynasty (1260-1368 A.D.). Marco Polo writes of the presence of Saracens in Yunnan. Rashid-ud-Din, who died in 1316 A.D. wrote: All inhabitants of Yachi (modern Talifu) are Mohammedans. Kublai Khan united this province in 1257 A.D. and appointed one of his ministers Sai Tien-Chih (Syed Ajjal) as governor. Syed Ajjal was from Bokhara and traced his lineage to the Holy Prophet in the 27th generation. His son Nasaruddin and grandson Saddi were also governors of Yunnan.

It was during the Manchu rule that the Panthays of Yunnan (so named after the Burmese name for Muslims) had their difficulties and clashes with the Central government in which millions are said to have perished. An Imam of Talifu, Ma Teh-hsing and his lieutenant Ma Hsien (Mohammad Hassan) declared their independence in 1855 and so did Tu Wen-siu (Sultan Suleiman) who made Talifu his capital at a time when the Central government was engaged in the Taiping uprising and the Second Opium War which led to the occupation of Peking by Western powers.

Sultan Sulaiman adopted the title of Generalissimo (Yuan Shuai) and established regular caravan trade with Burma. Ma Hsien, meanwhile, accepted service with the Imperial Army in the rank of Brigadier General (Chen Tai). While serious differences arose between Ma Hsien and Sultan Sulaiman, the Taiping uprising was put down with the help of General (Chinese) Gordon in 1864 and the Central government then concentrated forces against Sultan Sulaiman. It is said that when he was finally convinced of his impending defeat at the hands of Imperial Army at Talifu, Sultan Sulaiman first poisoned his three wives and five daughters and then himself committed suicide on 15 January 1873 after having ruled the area for 16 years. Since then the population of Panthays in Yunnan has been on the decrease.

The Tungans of Western China:

Tungan or Dungan is the word for converts in turkish and the term was generally used for muslims in the areas now comprising Kansu, Ningsha and Xinjiang. These were the people converted to Islam through contacts with Arabs since the days of Tang Dynasty. Vigurs (or Vighurs), a Turkish race originally Buddhists, they had followed the example of their beloved prince Sartook Bookra Khan (Satoq Bughra Khan) and had become Muslims en masse. The Tungans also had a difficult time under the Manchus specially in 1785, from 1862 to 1876 and in 1895 because they resented wearing of Manchu style queues and also the restrictions imposed on building mosques and performing pilgrimage etc. (due to economic reasons & colonialism)

The Story of Yaqub Beg:

Yaqub Khan came to Chinese Turkistan from Khokand in 1864 as a subordinate officer with approximately 60 men. Being a man of action and ability, he set up an independent kingdom in Yangi Hissar, Kashgar and Yarkand which lasted for 12 years. The Amir of Bokhara conferred on him the title of Atalik Ghazi. He added Kucha, Aksu, Urumchi and Turfan to his territories and in 1872 his independence was recognised by the Russians and subsequently by Britain and Turkey.

The Sultan of Turkey conferred on him the title of Amir-ul-Momineen. In the meantime the Ching Emperor having successfully dealt with the Taiping uprising, deputed an experienced general, Tso Chung-tang, to establish Chinese suzeranity in the area. General Tso raised an Agricultural Army which produced its own food as it went along thus overcoming the logistic problem of crossing the Gobi desert. The campaign was slow and it cost the Chinese government 30 million pound sterling but it succeeded. Urumchi fell in 1876. Yaqub Beg suddenly died on 1st May 1877. Although the Ching Emperor tolerated a Muslim local chieftain at Turfan, his position was maintained for political purposes without any real power.

Recent History

Coming nearer our times, Dr. Sun Yatsens revolution which delivered the Chinese people from the Manchus and overthrew the Ching Dynasty in 1911 was welcomed by the Chinese Muslims also. Dr. Sun Yatsen proclaimed the doctrine of harmony and equality of five races. These five races (or nationalities as these are called now) were Han, Manchu, Tibetan, Mongol and Hui (i.e. Muslim) and are represented on the flag of the People's Republic by the 5 stars. During this period Muslims were appointed to important positions in the Army and they also secured seats in the National Legislative Assembly and held high posts in the Nationalist government.

When Chairman Mao led the Workers and Peasants Red Army in the famous Long March of 6,000 miles (1934-35), many Muslims joined the Red Army. It is said that a mosque was built for them at Yenan, Chairman Mao headquarters after the Long March. later, during the war against the japanese and during the struggle against Chiang Kai Shek, most Chinese Muslims joined the struggle alongwith the majority of the Han Chinese. Xinjiang was secured without a fight due to the efforts of Burhan Shahidi and Aziz Saifuddin. Burhan Shahidi is now the President of the Islamic Association of China and Saifuddin an Alternate Member of the Politburo.

Chairman Mao and Premier Zhou Enlai took special care to look after the Muslims in China so much so that the People's Liberation Army was especially instructed to follow at 10-point code in Muslim areas which include the protection of Mosques, a ban on eating or mentioning of pork and a ban on fraternisation with Muslim women. During the Agrarian Reforms of 1950, when all lands belonging to temples and monasteries were nationalised, the waqf (endowment) property attached to the mosques was exempted from confiscation. Article three of the agriculture Reform Law (1950) stipulated that lands belonging to the mosques may be kept by them depending on circumstances and with the consent of the Muslim residents in the area where the mosques are located.

During the Cultural Revolution (1966-76), however, the Muslims of China were persecuted along with the Buddhists and Christians, by the ultra-leftists led by Lin Biao and the Gang of Four. The Red Guards made all-out attacks on religious institutions calling them bourgeois and reactionary institutions. They attacked and defaced mosques as well as burned religious books despite government directives that the mosques must be protected. It is a tribute to the wisdom of Chinese leaders like Zhou Enlai who opposed the policies of the Gang of Four and the Red Guards and eventually brought the situation under control.

After the down-fall of the Gang of Four the People's Government under the directions of the present leaders has implemented a policy of national equality and regional autonomy. They have followed a liberal policy towards religious minorities aimed at allowing freedom of religious belief and freedom to speak and write minority languages and respect for the customs and habits of the minorities. Old mosques are being renovated and reopened. The famous Peking Niu Chief mosque (built in 996 A.D.) for instance, has been completely renovated and draws large crowds of Muslims not only on festivals but on Fridays and weekdays. One can see that the environment for Muslims in China is growing more and more congenial.

Central Asia, Journal of Area Study Centre, University of Peshawar.
http://www.geocities.com/khyber007/china.html

Wednesday, April 15, 2009

Ekspedisi Jihad (4 ) - Penyebaran Dakwah islam Ke Sulu




Artikel Pilihan :


Tajuk : Penyebaran Dakwah Islam Ke Sulu.

Sumber : Klik Sini @ http://tausug-global.blogspot.com/2008/09/islam-di-sulu.html

artikel disiarkan pada Ahad, 2008 September 14.



Kedatangan Islam


ISLAM telah datang terlebih dahulu ke wilayah kepulauan Sulu berbanding pulau-pulau lain di Filipina, mungkin disebabkan kedudukannya yang tersorok antara Pulau Mindanao dan Borneo yang menjadi tempat laluan perdagangan atau juga disebabkan kepulauannya yang indah dan cantik. Pembawa ajaran Islam di Kepulauan Sulu adalah para ulamak yang kebanyakannya adalah orang-orang Arab di kalangan Ulamak Ahlul-Bait (Keturunan Rasulullah s.a.w) yang datang samada dari Makkah/Madinah atau dari Yaman.


Para pendakwah terdiri dari kalangan pengamal tasawwuf seperti juga pendakwah-pendakwah di seluruh Nusantara. Ulamak Sufi telah cepat diterima oleh para penduduk se-kitar Nusantara disebabkan sikap dan teknik dakwahnya lemah lembut panuh dengan kesantunan.


Islam & Tausug

Mengapa perlunya kita membicarakan kedatangan Islam ke Sulu terlebih dahulu? Apakah relevannya dan apakah kepentingannya terhadap masyarakat Tausug dan kepulauan Sulu? Hanya satu jawapan yang boleh diberi terhadap semua persoalan di atas. Tanpa Islam maka tiadalah apa-apanya orang-orang Moro itu. Tanpa pancaran nur (ajaran) Muhammad s.a.w yang menyinari hati-hati orang-orang Tausug itu maka tiadalah kegemilangan mereka itu tercatat dalam lipatan sejarah seperti yang kita ketahui hari ini.


Tiada sesiapa pun dari kalangan orang Tausug yang boleh menyangkal bahawa agama Islamlah yang menyebabkan mereka mulia, terbilang dan gemilang hinggakan selama beberapa kurun lamanya tidak dapat dikalahkan mahupun dijajah oleh musuh mereka hingga ke hari ini. Setakat setipis bawang pun iman mereka, tetap menyatakan mereka pertahankan negara dan bangsa mereka dari kuffar itu adalah disebabkan perintah Allah dan Rasul-Nya dan kiranya mereka mati kerananya maka syahidlah mereka. Tanyalah kepada mereka, sejahil-jahil mereka pun tetap memberi jawapan yang sama. Maka itulah kepentingan Islam pada mereka. Rahsia kekuatan mereka ialah Islam itu sendiri.



Islam telah datang kepada mereka dengan wasilah dari para Ahlul Bait Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam. Pada sesetengah keadaan kadang-kadang para Ahlul Bait datang berdakwah bersama barang dagangan, bukannya tujuan berdagang semata-mata. Walhal untuk menyampaikan risalah dakwah mengajak kepada Agama Allah s.w.t, hanyasanya berdagang untuk mengelak dari meminta-minta. Akhlak sufi menjadi pakaian mereka dengan pendekatan Mazhab Syafi'e yang sederhana telah menambat hati orang-orang Moro Sulu dan Mindanao menganut Islam.



Mereka keluar beramai-ramai dari agama Hindu-Buddha dan anutan Animisma mereka tanpa peperangan dan paksaan untuk menganut Islam, dengan sungguh-sungguh mempertahankannya hingga ke titisan darah yang terakhir. Inilah agama anutan orang-orang Moro Sulu dan juga Mindanao hingga hari ini. Para penjajah silih berganti ingin merampas negara mereka tetapi tidak berjaya sebab itu telah dibuat perancangan begitu rapi bagaimana memurtadkan mereka. Kerja-kerja memurtadkan mereka tidak berjaya hingga hari ini kerana dengan hanya memurtadkan mereka sahaja kerajaan Kesultanan Sulu dan Kesultanan Maguindanao akan dapat dikuasai sepenuhnya oleh penjajah. Ini tidaklah berlaku dan ini diakui sendiri oleh para penjajah.


Peranan Ahlul Bait

Apabila kita memperkatakan tentang kedatangan Islam ke Selatan Filipina maka tidak akan sempurna kalau Ahlul Bait Rasulullah s.a.w ini tidak disebut terlebih dahulu. Kerana sistem Kesultanan Sulu dan Maguindanao bermula di tangan mereka walaupun mungkin bukanlah mereka (Ahlul-Bait) yang awal-awal membawa Islam ke Filipina Selatan itu. Kerana Dunia Islam lebih banyak menyebut tentang riwayat Ahlul Bait yang mengasas Kesultanan Sulu dan Maguindanao. Pengislaman secara meluas juga berlaku di tangan mereka di seluruh wilayah itu. Berikut adalah susunan kedatangan para ulamak ke Sulu termasuk para Ahlul Bait:


1. Tuan Masha'ika (Tuan Syeikh) dan Tuhan (Tuan) Maqbalu pada 710 H bersamaan 1310 M (sezaman dengan Batu Bersurat Terengganu 1303)


2. Karimul Makhdum (Tuan Syarif Aulia) dan Makhdum Aminullah
(Sayyid Un-Nikab)


3. Raja Baguinda (Dari Minangkabau Sumatera)


4. Sayyid Abu Bakar (Syariful Hasyim) Pengasas Kesultanan Sulu bermula
1450 atau 1457 M.


5. Syed Alawi Balpaki ( Datang 1735 M)



Melihat senarai nama-nama di atas maka jelaslah bahawa kedatangan Islam ke Sulu adalah kebanyakannya dibawa oleh para Ahlul Bait. Malah di sekitar Nusantara pun para Ahlul Baitlah yang banyak disebut sebagai penyebar utama agama Islam ini termasuk wali-wali Songo di Indonesia serta penyebaran Islam di Tanah Melayu oleh para makhdumin. Berikut adalah penjelasan dari senarai nama-nama ulamak di atas:


1. Tuan Masha'ika (Tuan Syeikh) dan Tuhan (Tuan) Maqbalu

Salasilah Sulu menyatakan bahawa Tuan Masha'ika adalah seorang arab yang datang ke Sulu, telah berkahwin dengan anak perempuan Raja Sipad (Sripaduka) dan perlu di-nyatakan juga bahawa Raja Sipad bukanlah seorang Islam ketika itu. Daripada perkahwinan ini lahirlah anak-anak Tuan Masha'ika iaitu Tuan Hakim dan Aisha serta cucu-cucu beliau yang sudah tentunya mereka ini adalah orang-orang Islam.[1] Dan tentunya juga Tuan Masha'ika ini adalah seorang ulamak yang memulakan dakwah melalui perkahwinan dengan puteri Raja Sipad di Sulu itu. Ini bermakna sebelum kedatangan Islam lagi Sulu sudah punya raja. Cuma tidaklah tersusun seperti sistem yang diperkenalkan oleh Sultan-sultan Sulu selepas itu yang menjadikan Islam sebagai agama rasmi.


Berkenaan dengan Tuhan atau Tuan Maqbalu pada 710 H bersamaan 1310 M itu tidaklah diketahui riwayat hidupnya di Sulu sama ada beliau seorang muballigh atau pedagang atau pun berkemungkinan beliau adalah ketua kaum di Sulu. Yang pastinya kubur beliau yang berada di Bud Dato adalah sezaman dengan Batu Bersurat Terengganu yang bertarikh 702 H (1303 M) yang juga punya gelaran yang hampir sama iaitu 'Seri Paduka Tuhan' bermaksud Seri Paduka Tuan berdasarkan pada batu nesannya.[2]



2. Karimul Makhdum (Tuan Syarif Aulia) dan Makhdum Aminullah
(Sayyid Un-Nikab)


Makhdum Aminullah (Sayyid Un-Nikab) Karimul Makhdum sudah pastinya seorang Ahlul Bait berdasarkan gelaran Syarif Aulia oleh orang-orang tempatan terhadapnya. Nama asal beliau ialah Sayyid Ibrahim Zainul Al-Akbar @ Karimul Makhdum bin Sayyid Jamaluddin Hussein Al-Kubra bin Sayyid Ali Amir Ahmad Shah Jalaluddin bin Sayyid Amir Abdullah Khan bin Sayyid Abdul Malik bin Sayyid Alwi Amal Al-Faqih (di sini nasabnya bertemu dengan Sayyid Abu Bakar @ Syariful Hashim). Karimul Makhdum adalah Ayahanda kepada beberapa orang Wali Songo. Dan beliau juga adalah seorang pendukung Sufi yang punya karamah (bercakap dengan kertas, berjalan atas air, terbang di udara dan menyelamatkan orang dari mati lemas) hinggakan karamah ini diakui sendiri oleh seorang ahli Jesuit, Francisco Combes bahawa kuasa-kuasa magis itu memang wujud ketika awal-awal kedatangan Islam ke Sulu.[3] Beliaulah yang datang ke Buansa melalui Tapul, dan mendirikan sebuah masjid di Tubig Indangan dan dikebumikan di Tandu Banak, Sulu.


Makhdum Aminullah pula adalah seorang pedagang, juga seorang muballigh yang datang melalui China. Berdasarkan namanya (Sayyid Un-Nikab) beliau juga adalah dari Ahlul bait dan dikebumikan di Bud Agad, Sulu.[4]



3. Raja Baguinda (Putera Raja dari Minangkabau, Sumatera)

Raja Baguinda bukanlah seorang ulamak tetapi berkemungkinan besar membawa bersamanya beberapa orang ulamak Minangkabau. Beliau belayar dari Sumatera dan mendarat di pantai Zamboanga dan kemudian ke Basilan. Tetapi kedatangannya ke Sulu menambahkan lagi kekuatan dan semangat persaudaraan sesama rumpun Melayu Islam di Sulu.



4. Sayyid Abu Bakar (Pengasas Kesultanan Sulu 1457 M)


Sayyid Abu Bakar setelah menjadi Sultan Sulu yang pertama telah memakai gelaran Sultan Syariful Hasyim. Sebelum Sayyid Abu Bakar sampai ke Sulu, telah tercatat dalam catatan sejarah Melayu lama berkenaan dengan kedatangan Sayyid Abu Bakar ke Melaka di masa pemerintahan Sultan Mansur Syah dalam tahun 1456 -1477 M dengan membawa sebuah kitab bernama Ad-Durr Al-Manzum (Karangan Abu Ishak As-Syirazi) [5] yang ditulis dalam bahasa Arab. Setelah berdakwah di Melaka beliau pergi pula ke Palembang, dari Palembang ke Brunei dan dari sana terus ke Sulu. Di Sulu Sayyid Abu Bakar berkahwin dengan anak Raja Baguinda yang bernama Paramisuli (Permaisuri).[6] Setelah menjadi Sultan maka beliau menetapkan agama Islam sebagai agama rasmi Kerajaan Sulu. Dan beliaulah yang berjaya mengislamkan ramai orang Tausug samada yang tinggal di pantai (Baklaya & Taguimaha) atau orang Tausug di pergunungan (Buburanun) sedangkan sebelum ini sebahagian besar mereka adalah kafir.[7] Syariful Hasyim telah tinggal lebih kurang 30 tahun di Buansa, Sulu dan sempat meninggalkan beberapa orang keturunannya iaitu Kamaluddin yang telah menggantikan ayahandanya sebagai Sultan di Sulu.



5. Syed Alawi Balpaki

Berkenaan Syed Alawi Balpaki, ulamak ini adalah pendakwah yang dikenali seperti yang dinyatakan oleh Sir John Hunt yang berada di Sulu pada tahun 1814 bahawa ketika pemerintahan Sultan 'Azimuddin-I (naik takhta pada 1735 M) seorang lagi Syarif telah datang dari Mekah bernama Syed Berpaki ke-rana beliau berjaya mengislamkan hampir-hampir seluruh penduduk di sana. Beliau pernah berdakwah di Borneo kemudian ke Tawi-tawi dan meninggal dunia di Tubig Dakulah, Sulu.[8] Syed Alawi Balpaki ini juga jelas dari pada Ahlul Bait berdasarkan namanya terdapat Syed atau Sayyid (dari keturunan Sayyidina Hussein ra).


Prof. Cesar Adib Majul telah menjelaskan pada kita dalam bukunya yang terkenal Islam Di Filipina bahawa terdapat kekeliruan dalam penggelaran makhdum kepada ulamak-ulamak itu. Makhdum bermaksud orang yang di hormati dan penggelaran dengan hanya memanggil makhdum tanpa menyertakan nama sebenar adalah mengelirukan. Walhal mereka semua para ulamak itu adalah Makhdumin (orang-orang yang dihormati).



Ini tidaklah menghairankan apabila orang-orang Sulu memanggil makhdum kesemua ulamak terdahulu tanpa nama penuhnya disebabkan tiada tarikh atau sebarang catatan khusus yang boleh dirujuk tentang makhdum-makhdum itu sendiri melainkan apa yang telah tertulis dalam Salasilah Sulu yang ada di tangan orang-orang Sulu itu (catatan peristiwa-peristiwa tanpa tarikh).



Sebagaimana kekeliruan tentang penggelaran makhdum, kekeliruan juga turut berlaku pada penggelaran Sayyid @ Syed atau Syarif @ Sharif (Salip). Dalam konteks masyarakat Moro Sulu, gelaran Sayyid (keturunan dari Sayyidina Hussein r.a.) dan Syarif (keturunan dari Sayyidina Hassan r.a.) kedua-duanya digelar Syarif atau dalam pelat orang-orang Sulu disebut Salip. Satu kebiasaan bagi orang-orang Sulu hanya memanggil Syarif (Salip) kepada kesemua pendakwah yang datang ke Sulu dari kalangan Ahlul Bait itu. Di alam Melayu seperti Tanah Melayu, Indonesia, Brunei atau Pattani mereka kebiasaannya membezakan keturunan Sayyidina Hussein r.a. dengan gelaran Syed, Sayyid atau Habib manakala keturunan Sayyidina Hassan r.a. digelar Syarif. Di Malaysia hari ini kita biasa mendengar nama-nama yang bermula dengan Nik, Wan, Tuan, Abang (Sarawak), Meor yang juga dikaitkan dengan Ahlul Bait Rasulullah saw.


Maka jelaslah bahawasanya Islam itu datang ke Sulu adalah atas usaha para Ahlul Bait. Orang-orang Sulu atau Tausug itu telah menjadi terbilang dan gemilang setelah mereka masuk Islam keseluruhannya. Mereka ditanamkan semangat jihad yang tiada dalam agama anutan mereka sebelum ini. Para ulamak membawa kalimah tauhid ke hati-hati orang Tausug itu walaupun para ulamak itu telah pergi meninggalkan mereka namun semangat mempertahankan aqidah mereka tetap utuh sehingga ke hari ini. Semangat mereka menakutkan bangsa-bangsa penjajah yang datang menjajah negara dan aqidah mereka hinggakan mereka digelar Juramentado (Berani Mati).[9]


Sultan-sultan Sulu dan para Datu masih meneruskan semangat kepimpinan para makhdumin itu di Sulu hingga ke hari ini mereka telah dan masih menjadi sumber inspirasi orang-orang Tausug. Hanyasanya mereka menjadi lemah sejak akhir-akhir ini setelah berjayanya para egen-egen penjajah mencetuskan perang moden ke atas bangsa dan negara mereka yang menyebabkan mereka bertaburan menjadi pelarian. Rancangan kuffar yang begitu rapi ini menyebabkan mereka kehilangan arah mencari pemimpin yang sebenar. Inilah matlamat peristiharan undang-undang tentera oleh Ferdinand Marcos yang akhirnya Kesultanan Sulu seolah-olahnya telah terhapus di Kepulauan Sulu itu.