Wednesday, March 18, 2009

Hikayat Sangtawal (13) - Bangsa Moro Bangkit





Artikel Pilihan 1


Tajuk : Bangsa Moro dalam Lintasan Sejarah


Oleh: Iman Nugraha

Sumber : http://www.angelfire.com/id/sidikfound/moro.html


Secara geografis wilayah Filipina terbagi dua wilayah kepulauan besar, yaitu utara dengan kepulauan Luzon dan gugusannya serta selatan dengan kepulauan Mindanao dan gugusannya. Muslim Moro atau lebih dikenal dengan Bangsa Moro adalah komunitas Muslim yang mendiami kepulauan Mindanao-Sulu beserta gugusannya di Filipina bagian selatan.


Sejarah masuknya Islam


Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu dan Mindanao, pada tahun 1380. Seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum dan Raja Baguinda tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan tersebut.


Menurut catatan sejarah, Raja Baguinda adalah seorang pangiran dari Minangkabau (Sumatra Barat). Ia tiba di kepulauan Sulu sepuluh tahun setelah berhasil mendakwahkan Islam di kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas hasil kerja kerasnya juga akhirnya Kabungsuwan Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao, memeluk Islam. Dari sinilah awal peradaban Islam di wilayah ini mulai dirintis. Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan kodifikasi hukum yaitu Manguindanao Code of Law atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan Mir-atu-Thullab.


Manguindanao kemudian menjadi seorang Datu yang berkuasa atas propinsi Davao di bagian tenggara pulau Mindanao. Setelah itu, Islam disebarkan ke pulau Lanao dan bagian utara Zamboanga serta daerah pantai lainnya. Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada dibawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Islam yang bergelar Datu atau Raja bahkan setelah kedatangan orang-orang Spanyol. Konon menurut para ahli sejarah kata Manila (ibukota Filipina sekarang) berasal dari kata Amanullah (negeri Allah yang aman). Pendapat ini bisa jadi benar mengingat kalimat tersebut banyak digunakan oleh masyarakat Islam sub-kontinen (anak benua India).


Masa Kolonial Spanyol


Sejak masuknya orang-orang Spanyol ke Filipina pada 16 Maret 1521, penduduk pribumi telah mencium adanya maksud lain dibalik "ekspedisi ilmiah" Ferdinand de Magellans. Ketika kolonial Spanyol menaklukan wilayah utara dengan mudah dan tanpa perlawanan berarti, tidak demikian halnya dengan wilayah selatan. Mereka justru menemukan penduduk wilayah selatan melakukan perlawanan sangat gigih, berani dan pantang menyerah.


Tentara kolonial Spanyol harus bertempur mati-matian kilometer demi kilometer untuk mencapai Mindanao-Sulu (kesultanan Sulu takluk pada tahun 1876). Menghabiskan lebih dari 375 tahun masa kolonialisme dengan perang berkelanjutan melawan kaum Muslimin. Namun, walaupun demikian, kaum Muslimin tidak pernah dapat ditundukan secara total.


Selama masa kolonial, Spanyol menerapkan politik devide and rule (pecah belah and kuasai) serta mision-sacre (misi suci Kristenisasi) terhadap orang-orang Islam. Bahkan orang-orang Islam di-stigmatisasi (julukan terhadap hal-hal yang buruk) sebagai "Moor" (Moro). Artinya orang yang buta huruf, jahat, tidak bertuhan dan huramentados (tukang bunuh). Sejak saat itu julukan Moro melekat pada orang-orang Islam yang mendiami kawasan Filipina Selatan tersebut.


Tahun 1578 terjadi perang besar yang melibatkan orang Filipina sendiri. Penduduk pribumi wilayah Utara yang telah dikristenkan dilibatkan dalam ketentaraan kolonial Spanyol, kemudian di adu domba dan disuruh berperang melawan orang-orang Islam di selatan. Sehingga terjadilah peperangan antar orang Filipina sendiri dengan mengatasnamakan "misi suci". Dari sinilah kemudian timbul kebencian dan rasa curiga orang-orang Kristen Filipina terhadap Bangsa Moro yang Islam hingga sekarang.



Sejarah mencatat, orang Islam pertama yang masuk Kristen akibat politik yang dijalankan kolonial Spanyol ini adalah istri Raja Humabon dari pulau Cebu, kemudian Raja Humabon sendiri dan rakyatnya.



Masa Imperialisme Amerika Serikat


Sekalipun Spanyol gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap kedua wilayah itu merupakan bagian dari teritorialnya. Secara tidak sah dan tak bermoral Spanyol kemudian menjual Filipina kepada Amerika Serikat seharga US$ 20 juta pada tahun 1898 melalui Traktat Paris.


Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri mereka sebagai seorang sahabat baik dan dapat dipercaya. Hal ini dibuktikan dengan ditandatanganinya Traktat Bates (20 Agustus 1898) yang menjanjikan kebebasan beragama, kebebasan mengungkapkan pendapat, kebebasan mendapatkan pendidikan bagi Bangsa Moro. Namun traktat tersebut hanya taktik mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak, karena pada saat yang sama Amerika tengah disibukkan dengan pemberontakan kaum revolusioner Filipina Utara pimpinan Emilio Aguinaldo.


Terbukti setelah kaum revolusioner kalah pada 1902, kebijakan AS di Mindanao dan Sulu bergeser kepada sikap campur tangan langsung dan penjajahan terbuka. Setahun kemudian (1903) Mindanao dan Sulu disatukan menjadi wilayah propinsi Moroland dengan alasan untuk memberadabkan (civilizing) rakyat Mindanao dan Sulu. Periode berikutnya tercatat pertempuran antara kedua belah pihak. Teofisto Guingona, Sr. mencatat antara tahun 1914-1920 rata-rata terjadi 19 kali pertempuran. Tahun 1921-1923, terjadi 21 kali pertempuran.


Patut dicatat bahwa selama periode 1898-1902, AS ternyata telah menggunakan waktu tersebut untuk membebaskan tanah serta hutan di wilayah Moro untuk keperluan ekspansi para kapitalis. Bahkan periode 1903-1913 dihabiskan AS untuk memerangi berbagai kelompok perlawanan Bangsa Moro.


Namun Amerika memandang peperangan tak cukup efektif meredam perlawanan Bangsa Moro, Amerika akhirnya menerapkan strategi penjajahan melalui kebijakan pendidikan dan bujukan. Kebijakan ini kemudian disempurnakan oleh orang-orang Amerika sebagai ciri khas penjajahan mereka.


Kebijakan pendidikan dan bujukan yang diterapkan Amerika terbukti merupakan strategi yang sangat efektif dalam meredam perlawanan Bangsa Moro. Sebagai hasilnya, kohesitas politik dan kesatuan di antara masyarakat Muslim mulai berantakan dan basis budaya mulai diserang oleh norma-norma Barat.


Pada dasarnya kebijakan ini lebih disebabkan keinginan Amerika memasukkan kaum Muslimin ke dalam arus utama masyarakat Filipina di Utara dan mengasimilasi kaum Muslim ke dalam tradisi dan kebiasaan orang-orang Kristen. Seiring dengan berkurangnya kekuasaan politik para Sultan dan berpindahnya kekuasaan secara bertahap ke Manila, pendekatan ini sedikit demi sedikit mengancam tradisi kemandirian yang selama ini dipelihara oleh masyarakat Muslim.


Masa Peralihan


Masa pra-kemerdekaan ditandai dengan masa peralihan kekuasaan dari penjajah Amerika ke pemerintah Kristen Filipina di Utara. Untuk menggabungkan ekonomi Moroland ke dalam sistem kapitalis, diberlakukanlah hukum-hukum tanah warisan jajahan AS yang sangat kapitalistis seperti Land Registration Act No. 496 (November 1902) yang menyatakan keharusan pendaftaran tanah dalam bentuk tertulis, ditandatangani dan di bawah sumpah. Kemudian Philippine Commission Act No. 718 (4 April 1903) yang menyatakan hibah tanah dari para Sultan, Datu, atau kepala Suku Non-Kristen sebagai tidak sah, jika dilakukan tanpa ada wewenang atau izin dari pemerintah. Demikian juga Public Land Act No. 296 (7 Oktober 1903) yang menyatakan semua tanah yang tidak didaftarkan sesuai dengan Land Registration Act No. 496 sebagai tanah negara, The Mining Law of 1905 yang menyatakan semua tanah negara di Filipina sebagai tanah yang bebas, terbuka untuk eksplorasi, pemilikan dan pembelian oleh WN Filipina dan AS, serta Cadastral Act of 1907 yang membolehkan penduduk setempat (Filipina) yang berpendidikan, dan para spekulan tanah Amerika, yang lebih paham dengan urusan birokrasi, untuk melegalisasi kalim-klaim atas tanah.


Pada intinya ketentuan tentang hukum tanah ini merupakan legalisasi penyitaan tanah-tanah kaum Muslimin (tanah adat dan ulayat) oleh pemerintah kolonial AS dan pemerintah Filipina di Utara yang menguntungkan para kapitalis.


Pemberlakukan Quino-Recto Colonialization Act No. 4197 pada 12 Februari 1935 menandai upaya pemerintah Filipina yang lebih agresif untuk membuka tanah dan menjajah Mindanao. Pemerintah mula-mula berkonsentrasi pada pembangunan jalan dan survei-survei tanah negara, sebelum membangun koloni-koloni pertanian yang baru. NLSA - National Land Settlement Administration - didirikan berdasarkan Act No. 441 pada 1939. Di bawah NLSA, tiga pemukiman besar yang menampung ribuan pemukim dari Utara dibangun di propinsi Cotabato Lama.


Bahkan seorang senator Manuel L. Quezon pada 1936-1944 gigih mengkampanyekan program pemukiman besar-besaran orang-orang Utara dengan tujuan untuk menghancurkan keragaman (homogenity) dan keunggulan jumlah Bangsa Moro di Mindanao serta berusaha mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat Filipina secara umum.


Kepemilikan tanah yang begitu mudah dan mendapat legalisasi dari pemerintah tersebut mendorong migrasi dan pemukiman besar-besaran orang-orang Utara ke Mindanao. Banyak pemukin yang datang, seperti di Kidapawan, Manguindanao, mengakui bahwa motif utama kedatangan mereka ke Mindanao adalah untuk mendapatkan tanah. Untuk menarik banyak pemukim dari utara ke Mindanao, pemerintah membangun koloni-koloni yang disubsidi lengkap dengan seluruh alat bantu yang diperlukan. Konsep penjajahan melalui koloni ini diteruskan oleh pemerintah Filipina begitu AS hengkang dari negeri tersebut. Sehingga perlahan tapi pasti orang-orang Moro menjadi minoritas di tanah kelahiran mereka sendiri.



Masa Pasca Kemerdekaan hingga Sekarang


Kemerdekaan yang didapatkan Filipina (1946) dari Amerika Serikat ternyata tidak memiliki arti khusus bagi Bangsa Moro. Hengkangnya penjajah pertama (Amerika Serikat) dari Filipina ternyata memunculkan penjajah lainnya (pemerintah Filipina). Namun patut dicatat, pada masa ini perjuangan Bangsa Moro memasuki babak baru dengan dibentuknya front perlawanan yang lebih terorganisir dan maju, seperti MIM, Anshar-el-Islam, MNLF, MILF, MNLF-Reformis, BMIF. Namun pada saat yang sama juga sebagai masa terpecahnya kekuatan Bangsa Moro menjadi faksi-faksi yang melemahkan perjuangan mereka secara keseluruhan.


Pada awal kemerdekaan pemerintah Filipina disibukkan dengan pemberontakan kaum komunis Hukbalahab dan Hukbong Bayan Laban Sa Hapon. Sehingga tekanan terhadap perlawanan Bangsa Moro dikurangi. Gerombolan komunis Hukbalahab ini awalnya merupakan gerakan rakyat anti penjajahan Jepang, setelah Jepang menyerah mereka mengarahkan perlawanannya ke pemerintah Filipina. Pemberontakan ini baru bisa diatasi di masa Ramon Magsaysay, menteri pertahanan pada masa pemerintahan Eipidio Qurino (1948-1953). Tekanan semakin terasa hebat dan berat ketika Ferdinand Marcos berkuasa (1965-1986).



Dibandingkan dengan masa pemerintahan semua presiden Filipina dari Jose Rizal sampai Fidel Ramos maka masa pemerintahan Ferdinand Marcos merupakan masa pemerintahan paling represif bagi Bangsa Moro. Pembentukan Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan Moro Liberation Front (MLF) pada 1971 tak bisa dilepaskan dari sikap politik Marcos yang lebih dikenal dengan Presidential Proclamation No. 1081 itu.


Perkembangan berikutnya kita semua tahu. MLF sebagai induk perjuangan Bangsa Moro akhirnya terpecah. Pertama, Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari yang berideologikan nasionalis-sekuler. Kedua, Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim, seorang ulama pejuang, yang murni berideologikan Islam dan bercita-cita mendirikan negara Islam di Filipina Selatan. Namun dalam perjalanannya, ternyata MNLF pimpinan Nur Misuari mengalami perpecahan kembali menjadi kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abdurrazak Janjalani (1993). Tentu saja perpecahan ini memperlemah perjuangan Bangsa Moro secara keseluruhan dan memperkuat posisi pemerintah Filipina dalam menghadapi Bangsa Moro.


Ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara Nur Misuari (ketua MNLF) dengan Fidel Ramos (Presiden Filipina) pada 30 Agustus 1996 di Istana Merdeka Jakarta lebih menunjukkan ketidaksepakatan Bangsa Moro dalam menyelesaikan konflik yang telah memasuki 2 dasawarsa itu. Disatu pihak mereka menghendaki diselesaikannya konflik dengan cara diplomatik (diwakili oleh MNLF), sementara pihak lainnya menghendaki perjuangan bersenjata/jihad (diwakili oleh MILF).



Semua pihak memandang caranya lah yang paling tepat dan efektif. Namun agaknya Ramos telah memilih salah satu diantara mereka walaupun dengan penuh resiko. "Semua orang harus memilih, tidak mungkin memuaskan semua pihak," katanya.





Artikel Pilihan 2.


Tajuk : Perang Moro Dalam Sejarah Awal Filipina

Sumber : : http://tausug-global.blogspot.com/2008/09/8-perang-moro-dalam-sejarah.html

Ahad, 2008 September 14



PHILIPINES atau Filipina sebagaimana juga negara-negara di sekitar Nusantara punya pra-sejarah yang sama. Manusia Negrito adalah penghuni awal, kemudian Melayu-Proto adalah yang menghuni kepualauan Filipina setelah itu. Masyarakat Negrito dipercayai telah menghuni kepulauan Filipina sejak 30,000 tahun yang lampau semenjak Zaman Ais lagi.

.
Pada 1500-an, Islam telah pun berada di Pulau Luzon. Para pedagang Arab-Islam dipercayai adalah pembawa Agama Islam di seluruh kepulauan Filipina. Pada 1565 telah wujud Bandar Amanillah (Mendapat keamanan Allah) yang dikenali Manila pada hari ini.


Sejarah telah membuktikan pada kita, Raja Sulaiman (Kerabat Kesultanan Brunei) adalah yang berkuasa di situ sekurang-kurangya sebelum kedatangan Spanyol sekitar 1600.


Sistem masyarakat ditadbir secara Islam dengan para Datu yang mengetuai setiap kawasan Barangay. Tentunya bahasa Melayu adalah sebahagian bahasa pertuturan di Manila di sebabkan kesultanannya adalah dari kerabat Kesultanan Brunei yang sememangnya adalah orang Melayu. Manakala di bahagian selatan ketika itu, Mindanao dan kepuluan Sulu juga menerima kedatangan Islam lebih awal. Sebahagian ahli sejarah percaya Islam telah pun sampai di selatan Filipina pada 1380–1400an di sana berdasarkan pada bukti-bukti berupa kubur-kubur dan sebagainya.



Pada 16 Mac 1521, penjelajah terkenal Spanyol, Ferdinand Magellan (1480-1521) telah mendarat di Cebu ketika dalam misinya mengelilingi dunia di samping mencari tanah jajahan. Tanah Pulau Cebu telah dimasukkan sebagai wilayah baru hak milik Raja Charles 1 di Spanyol. Sebulan kemudian Ferdinand Magellan telah dibunuh dalam satu pertempuran tepi pantai Maktan oleh seorang panglima Islam. Peristiwa pembunuhan Ferdinand Magellan ini adalah yang paling bersejarah di Filipina hingga ke hari ini sehingga didirikan tugu peringatan si pembunuhnya iaitu panglima “Lapu-lapu” di Bandar Maktan, Cebu.



Pada 1565, Miguel Lopez De Legazpi seorang Gabenor Diraja telah sampai ke Pulau Cebu dari New Spain (Maxico). Enam tahun kemudian setelah berjaya melumpuhkan sistem pentadbiran Islam di tangan para Datu, beliau telah ke Manila dan mendirikan pelabuhan komersil di bandar utama Manila sebagai pusat pentadbiran ketenteraan dan keagamaan. Maka di sinilah bermula nama Filipina (Philipines) sempena nama Raja Philip II di Spanyol yang memerintah pada 1556 hingga 1598. Maka bermulalah penjajahan ke atas Filipina sehingga lebih 300 tahun lamanya di tangan Spanyol dan kita akan dapat saksikan sejarah telah mencatatkan keganasan demi keganasan ke atas masyarakat Filipina terutamanya masyarakat Islam sehingga ke hari ini. Sebaliknya yang dituduh pengganas adalah masyarakat Islam sendiri yang berjuang menentang penceroboh.



Matlamat Penjajah Spanyol

Matlamat penjajahan Spanyol di Filipina sebenarnya adalah kerana 3 sebab:-
1. Menguasai kawasan dan laluan rempah.
2. Membina persefahaman dengan Dinasty China dan Jepun.
3. Mengkristiankan Masyarakat Filipina keseluruhannya.


Matlamat pertama dan kedua telahpun berjaya dengan cemerlang, cuma matlamat yang ketiga mereka gagal melaksanakannya hingga ke hari ini. Kerana penentang utamanya adalah masyarakat Islam sendiri yang sukar ditewas dan ditundukkan kerana punya senjata yang menggerunkan pihak spanyol sendiri iaitu senjata “Jihad Fi Sabilillah” yang dikenali oleh Spanyol sebagai “Juramentado” (Berani Mati). Sejarah juga telah memberitahu kita, hanya bahagian selatan Filipina sahaja yang tidak pernah mereka masuki dan tadbir secara menyeluruh disebabkan tentangan sengit masyarakat Islam yang diketuai oleh Sultan-sultan Maguindanao dan Sultan-sultan Sulu serta Datu-datu nya .


Perlu juga diakui bahawasanya Spanyol dan misi Kristianisasinya telah berjaya di bahagian utara Filipina. Bukti kejayaan mereka ialah hingga ke hari ini majoriti penduduk dari tengah Filipina hingga ke utara adalah Kristian. Manakala dari utara Mindanao hingga ke Kepulauan Sulu majoritinya muslim. Kita melihat betapa misi pengkristianan Spanyol adalah secara istiqamah menujah masuk ke selatan Filipina (Mindanao dan Kepulauan Sulu) tetapi tentangan berdarah dari masyarakat Islamnya juga istiqamah. Buktinya hingga ke hari ini tentangan berdarah ini masih berlaku. Tetapi bagi Spanyol dorongan membolot harta kekayaan yang banyak di selatan Filipina sangat kuat cuma perlu berkerja keras menukar agama “Muhamadan” mereka kepada Kristus agar mudah mereka masuk menyedut apa sahaja yang ada di bumi selatan Filipina itu.


Malangnya wilayah terakhir yang dipertahankan aqidahnya iaitu Pulau Cebu telah berjaya dikristiankan. Sejarah memberitahu kita wilayah terakhir yang berjaya dikristiankan ialah Pulau Cebu iaitu Permaisuri Raja Humabon telah masuk Kristian disebabkan tekanan politik dan taktik kotor pihak kolonial Spanyol. Tidak lama kemudian Raja Humabon sendiri telah murtad dan diikuti oleh rakyatnya. Kejayaan besar buat Spanyol. Maka misi seterusnya ialah wilayah selatan (Mindanao dan Kepulauan Sulu).


Kronologi Perang Moro Sulu Era Spanyol

Pemberontakan Bangsa Moro di Filipina barangkali adalah kesinambungan peperangan yang panjang sejak abad ke-15 dan ke-16 yang lalu. Islam telah datang ke Selatan Filipina pada abad ke-14 ke kepulauan yang terbentang luas hingga ke kepulauan Indonesia yang dibawa oleh para pedagang Islam dan para pendakwah (Ahlul-Bait), dan pada abad ke-16 dakwah Islam telah menyebarluas melalui gugusan kepulauan Sulu hingga ke Mindanao sehinggalah ke utara. Masyarakat ini mempunyai konsep kehidupan dan kekuasaan, kehidupan sosial, serta kedaulatan mereka sendiri. Kronologinya:


Pada 1565, Prof. Cesar menyatakan bahawa perang pertama meletus pada 1565 di utara Filipina (kawasan Bohol) antara kapal dagang orang Borneo (Melayu Brunei) dengan angkatan perang Legazpi. 20 orang Brunei terkorban sedangkan Spanyol hanya seorang yang terbunuh. Sebelum ini sememangnya orang-orang Brunei telahpun bertapak di pulau Luzon iaitu di Amanillah (sekarang Manila) yang diperintah oleh Kerabat Diraja Brunei iaitu Raja Sulaiman.[1]Tetapi sebelum itu telahpun berlaku peperangan kecil di pulau Cebu antara Ferdinand Magellan dengan perwira Lapu-Lapu (dari Bugis Sulawesi) [2] pada April 1521 yang membawa kepada pembunuhan Ferdinand Magellan.



Pada 1569, Orang Brunei bersatu dengan Orang Sulu[3] menentang Spanyol di perairan Visaya antara 9 buah kapal Spanyol melawan 20 buah kapal tentera Brunei dan Sulu. Malangnya tentera Brunei dan Sulu berjaya dikalahkan dengan merampas 4 buah kapal yang sarat dengan barang-barang dagangan yang berharga. Spanyol telah menuduh 20 kapal Brunei dan Sulu itu sebenarnya adalah Lanun. Maka bermulalah penggelaran lanun terhadap umat Islam Moro yang menentang Spanyol ketika itu oleh Montero y Vidal.



Pada 1574 Sultan Brunei mempersiap satu angkatan tentera untuk men-yerang Manila iaitu 100 perahu, 100 buah kapal kecil dengan tentera seramai lebih kurang 7,000. Ketika dalam perjalanan ke Manila Sultan Brunei memanggil tenteranya kembali semula ke Brunei disebabkan alasan tertentu.



Pada 1578 Pangeran Buong Manis (Pangeran Sri Lela) yang mahu merebut takhta kerajaan Brunei (dari saudaranya Seiful-Rizal) datang ke Manila me-minta bantuan Spanyol mengalahkan Seiful-Rizal. Sekiranya berjaya beliau berjanji membayar ufti kepada Spanyol. Peluang keemasan ini tidak dilepaskan oleh Spanyol lalu Gabenor Jeneral Francisco de Sande belayar ke Brunei dengan 40 buah kapal beserta serdadu 400 Spanyol, 1,500 anak tempatan Filipina dengan diiringi oleh tentera tambahan dari Pangeran Buong Manis iaitu orang-orang Brunei sendiri seramai 300 orang. Setelah 30 hari belayar, sampai ke Kuala Sungai Brunei dan pertempuran terus berlaku. Tentera Brunei yang dibantu oleh tentera Sultan Sulu (Pangeran Budiman @ Raja Ilo adalah saudara ipar kepada Sultan Seiful-Rizal)[4] itu telah dikalahkan oleh Spanyol. Seiful-Rizal melarikan diri bersama ayahandanya yang uzur Sultan Abdul Kahar ke pedalaman Brunei dan mendirikan istana di sana.



Kegembiraan Spanyol dalam kemenangan tersebut hanya sementara apabila selang beberapa bulan kemudian Pangeran Buong Manis (talibarut Spanyol) telah dibunuh dan Seiful-Rizal pula telah diangkat menjadi Sultan Brunei yang baru maka segala perancangan Spanyol bersama Pangeran Buong Manis untuk mendapat tempat di Borneo terbantut begitu sahaja.



Pada Jun 1578 Sultan Sulu (yang menyertai peperangan melawan Spanyol bersama saudara iparnya Seiful-Rizal di kuala Sungai Brunei telah berjaya meloloskan diri kembali ke Sulu setelah pasukan mereka dikalahkan oleh Spanyol). Didapati tentera Spanyol yang diketuai oleh Kapten Esteban Rodriguez de Figueroa atas arahan Francisco de Sande telah sampai di Jolo pula maka berlaku lagi satu pertempuran sengit antara tentera Sultan Sulu dengan Spanyol di Jolo malangnya tentera Sulu berjaya dikalahkan dan sultan terpaksa mengaku membayar ufti (inilah peperangan pertama antaraSultan Sulu dengan Spanyol di Jolo, Sulu).[5]



Pada 1597 di Mindanao, Sultan Maguindanao telah bersatu pula dengan Sultan Ternate (Maluku)[6] untuk menentang serangan Spanyol di Mindanao. Ternate (Maluku) menghantar 800 orang perwiranya membantu saudara-saudara seagamanya di Mindanao malangnya turut tumpas di tangan Spanyol.


Pada 1597 dalam tahun yang sama juga Kapten Joan Pacho berangkat ke Sulu dengan 60 serdadu Spanyol untuk suatu ekspedisi menghukum tapi telah diserang hendap oleh orang Sulu dan membunuh kaptennya sekali.



Pada Februari 1602 Spanyol menghantar lagi satu ekspedisi dari Manila diketuai oleh Juan Gallinto dengan 200 serdadu Spanyol serta beberapa serdadu anak negeri menuju ke Sulu. Spanyol menyerang penempatan orang Sulu di Jolo memaksa pejuang Sulu berundur ke pedalaman termasuk penduduk-penduduknya. Spanyol berjaya membuat kubu tetapi meninggalkannya kerana kekurangan bekalan makanan. Sebelum mereka meninggalkan Jolo mereka memusnahkan penempatan, perkebunan serta harta benda orang-orang Sulu.[7]



Pada Oktober 1616 orang-orang Sulu bersama dengan 80 buah perahu caracoa (seperti perahu joangga yang dikayuh oleh lebih sedozen pendayung serta diletak meriam di bahagian hadapan) melancarkan serangan keatas jajahan Spanyol di Pantao dan Camarines yang menjadi limbungan kapal Spanyol dan berjaya membakar 3 buah kapal yang masih dalam pembinaan termasuk sebuah gelon (kapal besar yang dilengkapi meriam). Tidak puas hati dengan harta rampasan dan tawanan, orang-orang Sulu menyerang limbungan kapal Spanyol di Cavite pula. Orang-orang Sulu sebenarnya dibantu oleh saudara mereka dari Kesultanan Brunei (tentunya orang-orang Tidung).[8]


Pada 1624 Sultan Mawallil Wasit @ Raja Bongsu menghantar perwakilan (berdagang) ke Manila bernama Datu Ache (Asri) iaitu seorang datu yang dihormati. Ketika balik dari Manila rombongan Datu Ache dipintas oleh Spanyol yang kebetulan sedang memburu orang-orang Tidung (Camucones) kerana menyerang pulau-pulau jajahan Spanyol. Datu Ache dan orang-orang Sulu (mungkin salah faham kerana mereka dianggap orang Tidung) telah ditangkap manakala kapalnya dirampas. Mereka dibawa ke Manila akhirnya dibebaskan dan Spanyol meminta maaf walaupun beberapa biji mutiara berharga Datu Ache telah diambil oleh panglima Spanyol. Datu Ache menganggap perbuatan Spanyol itu satu penghinaan terhadap dirinya yang bermaruah sebagai seorang datu yang dihormati yang sudah tentu turut memalukan Sultan Sulu sendiri.



Pada 1627 Sultan Sulu telah mempersiapkan angkatan tentera yang terdiri daripada 30 buah caracoas dan 2,000 perwira telah menyerang limbungan kapal Spanyol di Camarines dengan memusnahkan garison mereka (Sultan sendiri mengetuai serangan ini). Orang-orang Sulu merampas meriam, senapang dan ubat bedil serta barang-barang besi dan gangsa yang sangat diperlukan oleh mereka. Orang-orang Sulu membakar rangka-rangka kapal dan menumpahkan simpanan beras ke dalam laut (yang diperuntukkan Spanyol kepada pekerja garison) kerana tidak mampu dibawa sambil diperhatikan oleh pekerja-pekerja garison. Orang-orang Sulu pergi dari situ dengan membawa 300 orang tawanan.



Dalam serangan balas dendam ini Sultan Sulu menawan seorang wanita Spanyol bernama Dona Lucia (menjadi juru tulis sultan kemudiannya) yang kemudian menulis pesanan sultan yang titinggalkan ditempat itu untuk Kerajaan Spanyol menyatakan bahawa sebenarnya serangan itu merupakan balasan orang Sulu ke atas perbuatan salah sangka dan rompakan keatas duta mereka, Datu Ache. Dalam perjalanan pulang orang-orang Sulu turut men-yerang wilayah-wilayah lindungan Spanyol seperti pulau Bantayan dan Ormoc di Leyte dengan menawan 300 orang tawanan lagi.



Pada 1628 Spanyol dengan satu angkatan perang yang besar dari Manila bertolak ke Sulu. Pada 22 April tiba di Jolo dan menyerang dan membunuh serta memusnahkan apa sahaja yang mereka jumpa. Orang-orang Sulu tidak bersedia langsung sehingga dikatakan pihak Spanyol tidak mengalami kemalangan jiwa walau seorang. Spanyol menyerang kubu Sultan Sulu tapi tidak berjaya kerana terlalu kukuh dan dilengkapi oleh meriam-meriam besar. Tawar menawar telah berlaku antara Spanyol dan Sultan Sulu untuk membebaskan Dona Lucia.[9]


Pada 1629 orang-orang Sulu pula menyerang balas meranapkan penempatan-penempatan naungan Spanyol di Camarines, Samar, Leyte dan Bohol dengan kekuatan 36 caracoas.


Pada 17 Mac 1630 satu angkatan laut Spanyol mengandungi 2 buah ghalias (kapal besar dikelilingi meriam), beberapa buah tongkang, 50 buah caracoas bersama 400 serdadu Spanyol dan serdadu anak negeri seramai 2,500 telah bertolak dari Dapitan menuju ke Jolo. Tujuan utama angkatan besar tentera Spanyol ini adalah memusnahkan kubu kota gunung Sultan Mawallil Wasit @ Raja Bongsu yang kukuh itu. Setelah mendarat panglima Spanyol Lorenzo de Olaso mula-mula mengarahkan tenteranya berjalan kaki menuju ke kubu sultan. Malangnya perwira-perwira Sulu rupanya telah pun bersedia. Hanya menunggu masa menyerang. Perwira Sulu menyerbu, maka berlakulah serangan yang tidak diduga iaitu serangan sengit dari perwira-perwira Sulu sehingga ramai terbunuh dari pihak Spanyol. Spanyol dan orang-orangnya yang ketakutan itu berundur. Tetapi sebelum mereka berundur buat “selama-lamanya” Spanyol telah mengelilingi pulau itu dan memusnahkan penempatan-penempatan di sana sini dan berusaha menyelamatkan tawanan dari orang-orang Sulu yang ditawan sebelum ini. Tetapi gagal kerana Spanyol telah dilanda angin ribut lalu meninggalkan Jolo. Orang-orang Sulu menyerang balas lagi dengan menyerang Leyte pada tahun berikutnya dan dapat menawan ramai tawanan lalu dijual ke Makassar kepada orang-orang Bugis.[10]



Kami menamatkan perang Sulu era Spanyol ini di sini. Siri peperangan antara Spanyol dan orang-orang Sulu masih berterusan dan Spanyol sehingga peperangan akhir pun iaitu pada tahun 1867 – 1878 masih tidak dapat menakluki Sulu.



Peperangan terus berkesinambungan antara Spanyol dan Masyarakat Islam Moro sehinggalah pada tahun 1898 telah berlaku peperangan antara Amerika dan Spanyol. Amerika memenangi peperangan ini, maka muncullah satu lagi kuasa baru yang boleh dianggap pada ketika itu sebagai penyelamat. Amerika datang untuk menyelamat? Ia boleh sahaja dianggap penyelamat sebagaimana kedatangan tentera Jepun yang kononnya menyelamatkan Asia dari tentera luar dengan slogan Asia untuk Asia. Walhal era tentera Jepun lagi parah dari pada penjajah sebelumnya.



Maka Amerika Syarikat berjaya mengalahkan Spanyol dalam peperangan Spanyol-Amerika Syarikat. Pada tahun 1899, setelah mengetahui kekalahan pihak Spanyol dalamperang Amerika-Spanyol itu masyarakat Islam Moro menyedari satu kesempatan dari penurunan moral para tentera Spanyol. Maka tanpa membuang masa dengan semangat Jihad dan penuh persenjataan lengkap dengan masih mempertahankan identiti dan jatidiri mereka, maka untuk kali yang terakhir, dengan penuh semangat mereka telah menyerang dan memporak-perandakan pasukan Spanyol dari kota pertahanan mereka sebelum kedatangan tentera Amerika Syarikat untuk mengambil alih, di wilayah Jolo, Sulu.



Dari kesempatan ini boleh sahaja kita menganggap pasukan Islam Moro sebagai “menangguk di air yang keruh”. Maka kita melihat masyarakat Islam Moro telah semakin bersatu dengan panji-panji Sultan bertunjang Agama Islam anutan mereka di tegakkan dengan harapan setinggi langit iaitu kini mereka bebas memerintah dan merdeka. Malangnya masyarakat Islam Moro tidak menyedari yang mereka telah dijual hidup-hidup oleh Spanyol. Bagi Spanyol tidak begitu mudah mereka meninggalkan selatan Filipina tanpa memberi mereka kesengsaraan dan penghinaan setelah ketiadaan mereka.


“Sekalipun Spanyol gagal menundukkan Mindanao dan Sulu, Spanyol tetap menganggap kedua wilayah itu merupakan sebahagian dari wilayahnya. Secara tidak sah dan tak bermoral, Spanyol kemudian menjual Filipina kepada Amerika Syarikat dengan harga 20 juta Peso pada tahun 1898 melalui Perjanjian Paris. Amerika datang ke Mindanao dengan menampilkan diri sebagai seorang sahabat yang baik dan dapat dipercayai. Dan inilah perwatakan musuh-musuh Islam sebenarnya pada abad ini. Hal ini dibuktikan dengan termeterainya Perjanjian Bates pada 1899 yang menjanjikan kebebasan beragama, kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan mendapatkan pendidikan bagi Bangsa Islam Moro.


Namun perjanjian tersebut hanya taktik mengambil hati orang-orang Islam agar tidak memberontak, kerana pada masa yang sama Amerika tengah disibukkan dengan pemberontakan revolusi Filipina Utara pimpinan Emilio Aguinaldo. Terbukti setelah pemberontak revolusi kalah pada 1902, sikap AS berubah dengan menunjukkan wajahnya yang sebenar. Setahun kemudian iaitu pada 1903 Mindanao dan Sulu disatukan menjadi wilayah Moroland dengan alasan untuk membangunkan rakyat Mindanao dan Sulu.


Sebaliknya apa yang berlaku ialah peperangan demi peperangan yang ditimpakan AS terhadap Bangsa Moro. Teofisto Guingona, Sr. mencatat antara tahun 1914-1920 rata-rata terjadi 19 kali pertempuran. Manakala di antara tahun 1921-1923, terjadi 21 kali pertempuran.”


Kita melihat betapa AS dengan kebijaksanaannya berdamai dengan Masyarakat Moro ketika AS sedang menangani pemberontakan di utara itu. Setelah berjaya mematahkan pemberontakan revolusi yang terdiri kelompok Kristian di utara Filipina pada 4 Julai 1902 dengan jayanya maka Presiden AS Theodore Roosevelt ketika itu menyatakan,


“ Keamanan telah pun tercapai di semua gugusan kepulauan, kecuali di negeri yang didiami oleh Kaum Moro”.


Dengan penuh ketidak-pekaan, wilayah selatan telah diserang dalam bulan Mei 1902. Maka bermulalah siri insiden, kemarahan yang amat, yang mana masyarakat Islam Moro di Sulu telah menjadi mangsa kekejaman yang tak dapat di gambarkan lagi.


Apakah ini yang dikatakan penyelamatan atau pembangunan? Atau sememangnya satu pembunuhan secara terancang untuk meng‘kasi’kan semangat orang-orang Islam Moro sebagaimana yang telah mereka buat terhadap kaum Red Indian di Amerika?


Sebenarnya boleh sahaja kita persalahkan masyarakat Moro ini kenapa mesti memerangi AS yang berjasa menyatukan dua wilayah besar Mindanao dan Kepulauan Sulu? Bukankah sebelumnya AS yang telah mengalahkan Spanyol dan menjadikan mereka (Moro) bebas dan terbela di tangan AS sekarang?


Bermacam persoalan yang bermain di kepala kita sebenarnya yang perlukan jawapan. Perlu ditegaskan disini bahawa AS tidaklah berpengalaman berperang dengan masyarakat Islam di Nusantara sebelum ini. Penulis menyebut Nusantara sebab budaya dan adat resam masyarakat Moro tiada bezanya dengan masyarakat Melayu lain di Nusantara, malah berkongsi Mazhab Sunnah (Syafi’i) yang sama serta sistem monarki Sultan yang sama. Malah AS sendiri tidak pernah lagi berperang dengan mana-mana wilayah Islam sebelum ini.


Fakta Kegagalan Amerika

Mengapa pendekatan AS menyatukan Mindanao dan Sulu yang di sebut Moroland itu tidak berjaya malah ditentang oleh masyarakat Moro? Bagi pihak masyarakat Moro sendiri pula apakah yang mereka inginkan sebenarnya lantaran mereka menentang habis-habisan penyatuan dua wilayah itu? Bukankah pendekatan AS itu baik untuk mereka?

Jawapan kepada persoalannya amat mudah iaitu mencari sebab-sebabnya terlebih dahulu. Kita lihat beberapa fakta yang mungkin membantu kita mencari sabab musababnya penentangan masyarakat Moro terhadap pendekatan AS itu.
.

Fakta 1:

AS setelah mengambil alih Filipina pada 1898 melalui Perjanjian Paris daripada Spanyol, AS mendapati wilayah Selatan masih ditadbir oleh masyarakat Moro dengan diketuai oleh Sultan dan para Datu yang masih berpegang kuat kepada ajaran Islam. Ini bermakna Spanyol telah menjual Negara Filipina kepadanya termasuk dua wilayah (Mindanao & Sulu) yang belum di kuasainya 100%.


Fakta 2:

Masyarakat Islam Moro yang majoritinya hanya di selatan terbahagi kepada dua wilayah besar iaitu Mindanao dan Sulu. Ini bermakna ditadbir oleh dua kekuasaan yang berdaulat masing-masing di bawah Kesultanan Maguindanao dan Kesultanan Sulu. Kedua-dua wilayah kesultanan punya sejarah peperangan yang panjang dengan Spanyol selama lebih 300 tahun dan masih belum dikuasai sekalipun ketika kedatangan Amerika Syarikat. Apa yang mereka mahu ialah kemerdekaan mutlak agar mereka bebas bergerak dan memilih Islam sebagai agama rasmi serta bebas mengamalkan adat resam dan budaya mereka. Bila AS mengambil alih kekuasaan dari Spanyol mereka (orang-orang Moro) mendapati bahawa tiada bezanya dengan Spanyol malah AS lagi teruk.


Fakta 3:

Setelah AS mendapati bahawa masyarakat Islam Moro belum ditundukkan oleh Spanyol malah sanggup menggadai nyawa sekali lagi sebagaimana yang telah mereka lakukan kepada Spanyol sebelum ini maka tiada cara lain melainkan menggunakan cara atau taktik “Menundukkan Red Indian” itu semula. Bagi AS ia adalah satu-satunya cara yang berjaya dan akan mengulanginya di Filipina kali ini. Sebab itu perlunya kedua wilayah itu disatukan tanpa mengambil kira kedudukan sultan-sultan di dua wilayah itu (sebab itu Perjanjian Bates telah dibatalkan oleh AS sendiri setelah menyedari perjanjian tersebut tidak menguntungkan mereka dan diganti pula dengan Perjanjian Carpenter pada 1915).

_______________________________________________________________________

AKHIRNYA satu lagi keadaan yang tidak diingini oleh umat Islam seluruh dunia pada ketika itu ialah pembunuhan beramai-ramai terhadap orang Sulu di Bud Bagsak dan Bud Dajo telah berlaku. Umat Islam Moro merasakan negara mereka dijual tanpa persetujuan mereka sendiri oleh Spanyol kepada Amerika. Bukan sahaja Bangsa Moro yang dijual hidup-hidup oleh Spanyol malah AS seolah-olahnya terbeli ikan busuk yang tidak sesuai lagi dimakan kecuali perlu dicincang lumat atau dilenyek terlebih dahulu sebelum dijadikan baja. Sebab itu salah satu tindakan AS untuk mem‘baja’kan bangsa Islam Moro ialah menyatukan dua wilayah besar Mindanao dan Kepulauan Sulu di bawah satu nama dan pentadbiran iaitu “MOROLAND”.


Bolehkah menyatukan dua wilayah yang bertaraf negara dengan empunya kesultanan masing-masing begitu mudah? Ia sama seperti menyatukan negara Malaysia dan negara Indonesia dalam satu negara kesatuan dengan istilah “Indonesia Raya” sebagaimana yang berlaku di era konfrontasi Malaysia-Indonesia ketika dulu kerana mendapat inspirasi dari Kesatuan Soviet di Russia. Ia tidak akan berjaya. Kalau ia berjaya sekali pun akan berlaku seperti apa yang kita lihat sekarang ini di selatan Filipina. Peperangan berterusan dan keganasan juga akan berterusan. Hasilnya penduduknya akan bertebaran merata-rata mencari penghidupan yang lebih selamat dari konflik yang tiada kesudahan. Pembangunan akan terbantut dan terus tergendala maka yang rugi umat Islam sendiri dengan kemunduran yang berleluasa.


Hakikatnya ialah, Mindanao punya sistem kesultanannya sendiri dibawah kesultanan Maguindanao. Kepulauan Sulu juga punya sistem kesultanan yang unik dan tersendiri malah kekuasaan kesultanan Sulu juga pernah menjadi empayar. Perlu juga ditegaskan di sini bahawasanya Masyarakat Moro di Mindanao adalah dikuasai oleh Kesultanan dan para Datu Maguindanao dan bahasa yang digunakan secara meluas ialah Bahasa Maguindanao dan Maranao. Suku-suku kaum di Mindanao juga banyak. Mereka punya sejarah kesultanan yang hebat menentang penjajah seperti Sultan Qudarat dan sebagainya.


Moro Lawan Amerika Syarikat

Filipina telah diserahkan kepada Amerika Syarikat (A.S.) dibawah perjanjian “Treaty of Paris” 1898. Wilayah Islam Sunni di Filipina selatan terpaksa mengatur pertahanan semula. Pada tahun 1899-1902 pemberontakan di wilayah Utara (pemberontakan Aguinaldo) telah berjaya di Filipina ditamatkan dengan jayanya dibawah pasukan tentera A.S. dan telah diistiharkan tamat pada 4 Julai 1902. Presiden A.S. Theodore Roosevelt ketika itu menyatakan “Keamanan telah pun tercapai di semua gugusan kepulauan, kecuali di negeri yang didiami oleh kaum Moro”. Dengan penuh ketidak-pekaan, wilayah selatan telah diserang dalam bulan Mei 1902. Bangsa Moro tidak memerlukan A.S. malah memutuskan melancarkan Jihad demi kemerdekaan wilayah mereka dari kuasa asing samada Filipina, Spanyol atau A.S.


Tentera A.S , tentera laut dan darat akhirnya mendapati diri mereka berdepan dengan musuh iaitu Moro yang begitu cepat menyesuaikan diri dengan kedatangan AS menunjukkan kegagahan mereka, berdedikasi sesama mereka dan yang lebih penting Moro adalah musuh yang sangat ketat dan sukar. Malah tentera A.S. menjadi lebih berhati-hati dengan kesan semangat kerohanian Islam yang menyebabkan BangsaMoro terdorong berjihad, dengan pendirian bahawa apa yang benar pada mereka ialah kebebasan bernegara sendiri yakni ‘kemerdekaan’.


Berbanding Tentera A.S. peralatan ketenteraan Moro sangat daif dan ketinggalan. Tentera A.S. banyak senjata, model senjata seperti 30-caliber Krag-Jorgensen rifle- M1892 dan M1896 dengan senapang 5-shot magazine. Dicipta oleh Gatling dan Hotchkiss serta beberapa model meriam ringan. Manakala tentera Moro hanya memiliki pelbagai jenis senjata lama, termasuk senapang yang menggunakan ubat bedil (Muzzle-Loaders) dan beberapa meriam tembaga kuno. Itulah senjata yang mereka mampu dan mahir menggunakannya yang sangat memeranjatkan, dengan hanya senjata musuh, mereka datang dan menyerang sampingan telah menaikkan kegerunan seolah-olah membunuh diri dengan harapan membunuh sebanyak mungkin sebelum diri-sendiri terbunuh. Tentera A.S. melihat dan baru dapat mengenali dan memahami betapa kemampuan orang Moro dengan Barong terhunus sepanjang 1½-kaki berbentuk seperti daun (Barong adalah Pedang panjang Kampilan 3 ½-kaki senjata tradisi Moro, Kaum Tausug), adalah senjata tradisi Moro Kaum Maguindanao dan Maranao. Manakala Kris adalah senjata paling berkuasa ketika itu (di seluruh Nusantara).



Lazimnya, tentera Moro sangat terlatih dengan serangan dalam hutan, belukar dan serangan hutan paya, dan juga mahir dalam serangan kota. Orang Moro sering menyerang hendap kumpulan bergerak musuh ataupun sedang berkhemah dan selalu melakukan serangan secara dekat menetak dan menikam tentera A.S. dengan pantas sekalipun tentera A.S. bersenjata canggih ketika itu. Tentera A.S. tidak pernah tersua musuh jenis seperti ini sebelumnya, suasananya tidak seperti Peperangan Revolusi negera mereka dulu ataupun peperangan dengan Puak Indian.



Satu lagi masalah tentera A.S. ialah mereka tidak dapat membezakan tentera lelaki atau tentera wanita Moro. Kadang-kadang tentera wanita Moro tentera lelaki Moro sedangkan kononnya mempunyai kupayaan sama dengan tentera A.S. hanya ditugaskan memerangi kaum lelaki sahaja. Ini adalah masalah besar tentera A.S. ketika itu (hanya alasan). Yang lebih memburukkan keadaan ialah pahlawan wanita berpakaian serupa dengan pakaian pahlawan lelaki Moro. Tentera A.S. ketika itu adalah dilarang menembak kaum wanita dalam kumpulan rakyat Filipina. Yang menambahkan lagi masalah tentera A.S. ialah fakta bahawa keupayaan luarbiasa dan keyakinan yang nekad oleh pahlawan Moro, walaupun mereka ditembak dengan senapang canggih berkali-kali tapi masih dapat menetak dengan Kris mereka sehingga kehembusan nafas mereka yang terakhir. Pahlawan Moro berlatih serangan berani mati, atau telah terbena semangat ingin mati dalam diri mereka, di seluruh dunia, pahlawan Muslim telah menjadi musuh yang sangat merbahaya, sebab tiada erti kehidupan di dunia buat mereka (setelah datangnya panggilan berjihad).


Juramentado Dan Jihad

Pihak Amerika dikejutkan dengan taktik serangan berani mati tentera Moro. Tentera Spanyol yang sebelum kedatangan tentera Amerika menggelar serangan berani mati sebagai “Juramentado”, secara kasar bermakna “nekad untuk mati” atau dengan kata lain ‘Berani Mati’. Begitulah cara tentera Moro mentafsirkan erti Jihad. Dengan tujuan yang nekad membunuh mati untuk seramai mungkin tentera Kristian sebelum diri sendiri mendapatkan balasan syurga. Seorang Moro “Juramentado” akan menyerang kumpulan musuh dengan satu tujuan “membunuh dan mati”. Mujahideen Bangsamoro mengambil keputusan ini untuk mendapat keredhaan Allah swt, berkorban untuk mati.


Pada 1899, Lieutenant John J. Pershing telah tiba di Filipina dan ditugaskan dalam Eighth Army Corps. Misi utamanya ialah mengalahkan penyerang-penyerang Moro yang terdiri daripada pelbagai suku kaum itu. Akhirnya beliau dinaikkan pangkat sebagai Captain Pershing pada 2 February 1901. Beliau bertindak sebagai ‘adjutant’, jurutera, pegawai kastam dan komander pasukan berkuda. Penting juga dinyatakan di sini bahawa Pershing telah berada di Filipina dari 1899 hingga Jun 1913. Pershing juga dinaikkan pangkat ke Brigadier General oleh Presiden Roosevelt dalam tahun 1906 dan dihantar semula ke Filipina sebagai Gabernor Wilayah di selatan Filipina dan ditugaskan untuk membuat perjanjian dengan Moro.


Satu alasan yang perlu diperhatikan apabila tentera Moro secara berterusan menyelinap masuk menyerang dan membunuh rakyat Jolo, pegawai-pegawai Jolo, tentera Amerika atau rakyat Amerika ketika 1912 dan pada awal 1913 menjadikan General Amerika tertekan menyebabkan kerahan memburu dan menyerang tentera Moro. Diketahui dengan jelas juga bagaimana 38-caliber U.S. Army revolver tidak dapat menewaskan Pahlawan-pahlawan Moro yang terus menyerang dan membunuh tentera Amerika walaupun telah berkali-kali ditembak di tubuh mereka. Bila Brigadier General John J. Pershing mendapat penghantaran kapal yang membawa persenjataan baru yang lebih berkuasa 45-caliber automatic revolver, dia begitu berharap senjata baru itu dapat menghentikan serangan berani mati para juramentado Moro. (pent.- Selepas ini berlakulah pembunuhan beramai-ramai oleh tentera Amerika ke atas orang Moro di kota pertahanan Bud Bagsak, Jolo Sulu).




Kebangkitan Bangsa Moro Abad Ke-21: (Kesinambungan perang angkatan bersenjata Moro pada abad ke-20).

Pengulas abad ke-21 dari Filipina, serangan pengganas 11 September 2001 di Pusat Dagangan Dunia dan Pentagon denga cepat menuduh “Juramentado”. Seorang pemerhati menyatakan: “Keputusan bahawa (11 September) pengganas membunuh seramai mungkin dan akhirnya turut membunuh diri mereka mengingatkan kita pada orang Islam ‘Juramentado’ di Zamboanga dan Jolo, Filipina Selatan ketika era penjajahan Amerika ke atas kepulauan itu pada awal 1900-an”.
.
Pertembungan Moro dengan bala tentera U.S. berterusan sejak ketika memuncaknya perang yang pertama pada 1902 sehingga dengan rasminya tentera U.S. memerintah penuh pada 1913. Perang Dunia Pertama telah menjadi gangguan, dan perang telah mancapai tahap yang lebih rumit dengan menaikkan semangat masyarakat Filipina Utara (Wilayah Kristian totok) menuntut perhatian dan keadilan berbanding Moro, serta cita-cita Jepun menakhluk Filipina dalam Perang Dunia II menambahkan lagi kekecewaan Moro untuk mendapatkan kemerdekaan. Kemasukan Jepun telah ditentang hebat oleh tentera Moro, tetapi setelah selesai perang (War World II) Filipina pada 04 July 1946, dan masyarakat Moro mendapati telah dimerdekakan diri dan wilayah mereka telah disatukan bersama Republik Filipina pula.
.
Dekad yang seterusnya, Moro menyambung penentangan mereka berbanding berintegrasi dengan Republik Filipina. Kerajaan melaksanakan migrasi Kristian Filipina ke tanah atau wilayah tradisi Moro di Selatan yang mana dilihat oleh masyarakat Moro sebagai pengambil-alihan tanah secara besar-besaran adalah seperti mencurah minyak ke api. Perjuangan Moro mutakhir menggambarkan persamaan kemasukan rakyat Filipina (Kristian) ke Selatan dengan “Tindakan Polis ‘Israel’ menentang rakyat Palestin”. Kerajaan Kristian Utara akan menambahkan lagi ancaman keatas identiti Masyarakat Islam Moro. Moro gunakan taktik perang gerila di Pulau Jolo telah mendapat perhatian Major General Jens A. Doe, general pemerintah 41st Infantry Division, pada April 1945.
.
Kebangkitan MNLF Melawan Marcos

Moro menuntut bahagian dari hasilbumi mereka daripada Kerajaan Pusat dengan permintaan yang berbeza iaitu pelaburan ke kawasan mereka, pendidikan, penjagaan kesihatan, mendapat hak sistem keadilan, dan beberapa permintaan lagi iaitu pemangkin aspirasi kepada kemerdekaan sebelum ini. Tetapi kumpulan-kumpulan ganas Kristian yang bersekongkol dengan angkatan polis tempatan telah melakukan kekejaman terutamanya pembunuhan beramai-ramai Jabidah pada 18 March 1968, telah menjadi bencana melahirkan tindakbalas ganas dari Moro ketika era pemerintahan Marcos. Tentera Filipina membunuh sekurang-kurangnya 200 Moro yang direkrut di Corregidor Island. Para rekrut ini (Jabidah Special Forces) sedang dalam latihan untuk misi perang yang luarbiasa dengan sasaran iaitu merampas Sabah (Borneo) yang dipertikaikan pemilikan Malaysia ke atas Sabah di bawah kod “Operation Merdeka”.


Para rekrut Moro telah ditembak setelah enggan mengikut arahan dan juga untuk menyembunyikan bukti tujuan sebenar operasi itu. (Bermakna mereka dibunuh setelah mengetahui tujuan mereka di latih lalu enggan mengikut arahan seterusnya)


Setelah tercetus situasi ini maka tiba-tiba secara diam-diam tertubuhlah satu formasi tentera, Moro National Liberation Front (MNLF) lewat 1969. Para pelajar Moro dari seluruh universiti di Filipina, Mesir, dan dimana-mana tempat di Timur Tengah yang prihatin untuk mewujudkan negara Islam yang merdeka di Filipina Selatan bersatu menubuhkan MNLF. MNLF semakin kuat dengan bantuan asing seperti Muammar Qaddafi dari Libya dan turut membantu ialah Gabenor Sabah, Malaysia, yang menyumbang persenjataan dan lain-lain bantuan perubatan dari Libya yang juga melatih latihan ketenteraan para belia Moro.


Dengan dokongan bantuan persenjataan dari luar dan bermacam-macam lagi bantuan, dalam pertengahan 1970-an, MNLF dianggarkan mempunyai ahli yang mencecah 30,000 tentera lelaki lengkap bersenjata bertempur dengan tentera Filipina dan Polis di kepulauan Sulu dan Mindanao. Pada awalnya telah menampakkan kejayaan tetapi mula lemah penentangannya pada lewat 1975, walaubagaimana pun para pemimpinnya berpindah ke Sabah dan mendapat sedikit bantuan dari kerajaan serta Program Amnesty. (Talipok, Kota Kinabalu & Mawtas atau Kg. Bahagia Sandakan adalah sebahagian Penempatan Amnesty untuk pelarian Filipina yang masih wujud sehingga ke hari ini). Genjatan senjata pada 1976 dan pembangunan di kawasan otonomi sementara telah diberikan, tetapi bukannya kemerdekaan, zon kawasan masyarakat Islam di selatan seolah-olahnya adalah kawasan mutlak MNLF. Tidak lama kemudian, disusuli oleh Iran dengan kebangkitan revolusinya pada 1979 telah turut membantu datangnya curahan bantuan dan dokongan semula di peringkat antarabangsa kepada MNLF.



Kemudian pada tahun 1987 di Jolo Filipina tercetus lagi satu ensiden yang menyebabkan perang Moro masih tiada jalan penyelesaian. Seorang Datu, iaitu Datu Halun Amilusia yang memiliki senapang antik ayahnya era Perang Dunia II, jenis M-1 Carbine yang begitu bangga dengan riflenya. Ketika dulu pernah digunakan membunuh tentera Jepun dan pernah melalui zaman kerajaan Islam ketika dulu, dan juga pernah membunuh tentera Filipina. Khabarnya adik lelaki dan Ayah Datu ini, Pernah mendapat anugerah “Bronze Star” kerana keberanian menjadi tentera gerila menentang tentera Jepun, telah dibunuh oleh tentera Filipina pada 1985 ketika tentera Filipina menyerang rumahnya. Pembunuhan seperti ini bukannya sedikit, maka tindak balas ganas dari pihak Moro akan berterusan.

Kebangkitan MILF

Dalam tahun 1979, satu kumpulan kecil saingan yang tidak bertahan lama telah muncul yang telah diasaskan oleh pemimpin MNLF yang tidak sehaluan yang berpusat di Saudi Arabia. Pada 1977 iaitu Bangsa Moro Liberation Organization, kepimpinan MNLF yang tidak bersatu menyebabkan perpecahan maka tertubuhla organisasi ini. Pada 1983 satu lagi kumpulan serpihan tersebut menamakan kumpulan baru iaitu MILF (Moro Islamic Liberation Front). Walaupun MILF lebih kecil dari pendahulunya (MNLF) tetapi juga mempunyai keupayaan yang tidak terduga dengan persenjataan perang yang lengkap.


Pada ketika ini, 3 organisasi Islam dengan keunggulan masing-masing ingin menunjukkan kepada masyarakat Moro dengan janji menaikkan taraf hidup mereka, genjatan senjata, serta berbincang perdamaian dengan organisasi pertubuhan Moro lain untuk berdamai dengan kerajaan Filipina. Tetapi suasana menjadi semakin rumit bila satu lagi kebangkitan yang lebih jauh dari jangkauan geografi, iaitu bermulanya perang Soviet-Afghan pada Disember 1979. Telah menghasilkan satu lagi pemberontak kumpulan, lebih radikal dan ganas berbanding kumpulan Islam lain di Filipina, dinamakan Abu Sayyaf Group (ASG).

(ASG) dan Keganasan? Kebangkitan Abu Sayyaf

Sebelum formasi ASG ini secara terperinci, kita menelusuri asal kemunculan secara kasarnya kita bersetuju bahawa pengasas kepada kumpulan Moro ini Bakar Janjalani yang pernah belajar di Timur ialah Abdurrazak Abu Tengah telah tertarik dengan fahaman Wahhabi yang dilagang oleh Professor Abdul Rasul Abu Sayyaf. Professor Afghan dan kaum dari etnik Pashtun ini adalah seorang bekas pengikut fahaman yang berasal dari Arab Saudi – yang diasaskan pada kurun ke-18 oleh Muhammad ibn Abdul Wahhab (Sebenarnya Arab Saudi bermazhab Neo-Hambali yakni Mazhab Hambali mengikut acuan Ibnu Taimiyyah yang diperkenalkan oleh Muhammad Bin Abdul Wahhab kepada pemerintahan awal Bani Sa’ud. Sebahagian umat Islam menggelar mereka Wahhabi tetapi mereka yang digelar wahhabi ini pula menamakan diri mereka Salafi).


Selepas pelanggaran Soviet ke atas Afghanistan, Abu Sayyaf, dikatakan telah menjadi seorang yang disegani, sifat kepemimpinannya terserlah dan telah mewujudkan kumpulan-kumpulan mujahideen yang beroperasi dekat Kabul yang menentang tentera Soviet pada 1986. Untuk menunjukkan pengikut Wahhabi dari Arab Saudi kesatuan Islam, para simpati radikal adalah penyumbang kewangan terbesar kepada kumpulan ini, yang juga Islam. Yang akhirnya menjadi bantuan dikaitkan dengan persaudaraan pemusatan aktiviti oleh seorang rakyat Jordan berbangsa Palestin Sheikh Abullah Azzam untuk membawa masuk ramai mujahideen dari luar yang juga mendapat pelbagai sokongan pada 1984. Kewangan dan sumbangan lain selalunya datang dari sumbangan amal umat Islam.


Dilaporkan ASG telah melatih lebih kurang 20,000 tentera mujahideen asing. Kebanyakan dari mereka yang dilatih di kem berhampiran Peshawar, Pakistan, yang bersedia untuk dekerah berperang adalah dari Timur Tengah, Afrika Selatan dan Filipina.


Abu (Abdurrazak) sendiri tiba di Afghanistan pada 1986 dan Bakar Janjalani di laporkan menyertai Kesatuan Islam Sayyaf (Sayyaf’s Islamic Union). Dia berkemungkinan berada di Afghanistan dalam kem latihan Sayyaf dan seterusnya berada di situ sehingga perang tamat. Sebagaimana ribuan tentera Islam yang bukan berbangsa Afghan, termasuk mujahideen Mesir, Saudi, Algeria, Chechen, Uzbek, Kuwait, Uighurs dari Xinjiang China, dan lain-lain, Janjalani juga turut serta menghalau keluar Tentera Soviet dari Afghanistan. Dengan tamatnya peperangan mujahideen mendapat kejayaan yang membanggakan pada Februari 1989, hampir kesemua pejuang mujahideen asing bertebaran di negara-negara Islam di seluruh dunia setelah kembali ke negara masing-masing.



Telah didokumentasikan dengan baik, bahawa kebanyakan dari mereka telah terlibat dengan kekacauan dan kumpulan-kumpulan penentang bersenjata untuk berperang atas nama jihad keatas rejim kerajaan masing-masing yang dianggap telah melakukan bid’ah atau keterlaluan mengikut pemerintahan acuan barat. Kesinambungan terjalin erat dan semakin subur dari pengalaman perang Afghanistan, telah menguasai peraturan dalam serangan ke atas kehidupan rakyat Amerika Syarikat, harta serta kepentingan A.S. di seluruh dunia yang akan terus berlaku dimasa-masa akan datang.


Pada pertengahan 1989 hingga 1990, Janjalani muncul dan meninggalkan Afghanistan menuju ke wilayah asalnya di Filipina iaitu Pulau Basilan, Sulu yang hanya dipisahkan oleh selat lurus dengan ibu negeri Mindanao, Zamboanga. Dia dan ramai lagi bekas pejuang Afghan Moro kembali ke Filipina dengan pandangan, kejayaan Afghanistan perlu diulangi di Filipina. Azam yang begitu tinggi untuk mendapatkan kemerdekaan dengan mewujudkan kerajaan Islam yang tegas di Selatan Filipina.


Ada juga Mujahideen Moro yang sekembali dari Afghan menyertai MNLF dan sebilangan lagi menyertai MILF. Walaubagaimana pun Janjalani (Abdurrazak) percaya akan “keaslian” agama Islam yang di bawa oleh Wahhabi. Di Basilan dengan bandar utamanya Tabuk, dia pernah berkata bahawa sudah tiba masanya mengubah kepada suasana awal (awal Islam) dengan wanita berpakaian hitam dan lelakinya memakai pakaian kelabu atau putih.


Dia memulakan dengan beberapa orang pengikut dan menubuhkan kumpulan pemberontak yang dinamakannya Abu Sayyaf. Sempena nama mentornya (Prof. Abdul Rasul Abu Sayyaf). Elemen tidak sehaluan dalam MNLF yang diketuai oleh seorang yang berfahaman sama dengan Janjalani, seorang guru yang warak bernama Wahab Akbar, menyertai Janjalani dalam perjuangan ini. Dengan pengikut yang kecil pada peringkat awal kira-kira 20 keahlian, dengan matlamat mewujudkan kerajaan Islam yang asli di Mindanao.


ASG semakin berkembang dengan keahlian yang semakin ramai sekurang-kurangnya beberapa ratus keahlian yang semakin menonjol dan semakin dirasakan kehadirannya di dan beberapa kawasan di Mindanao. ASG Basilan, gugusan kepulauan Sulu telah menunjukkan dirinya yang sebenar di khalayak dengan sifat ganasnya seperti pengeboman, pembunuhan, serangan dan serang hendap yang juga diketahui sebagai merompak, memeras ugut, penculikan dan akhirnya menjadi ‘trademark’ mereka.


Salah satu elemen yang cukup besar yang mengundang tindakbalas Tentera Filipina yang di sokong oleh A.S berkemungkinan disebabkan penahanan 2 muballigh Kristian dari Wichita, Kansas dan beberapa ‘Nurse’ Filipina. ASG juga digambarkan sebagai satu kekuatan yang menguasai lautan tradisi Moro, aktiviti pelanunan berleluasa di sekitar perairan Filipina yang kadang-kadang aktiviti mereka menjangkau ke tempat-tempat yang lebih jauh dari rumah mereka. Komentator Filipina membuat salah seorang lanun yang manjadi legenda bernama  antara perbandingan kumpulan ASG Jikiri (Dzikiri) kira-kira tahun 20-an yang lalu dengan mempunyai persamaan. Selepas bertahun berjaya dengan perlakuan jenayahnya iaitu dengan berselindung di sebalik tuntutan mengembalikan sebahagian hak-hak orang Moro, yang akhirnya Jikiri terbunuh setelah bertempur dengan pegawai Amerika secara “hand-to-hand” di Pulau Patian. Kini, kapal-kapal perniagaan komersil mula takut yang ASG pula dan kumpulan-kumpulan ganas lainnya akan mengalihkan perhatian kepada mereka sebagai mangsa mudah di lautan yang terbentang luas itu akan menjadi kenyataan.
.
Askar Filipina dan angkatan Polis juga mencapai beberapa kejayaan dalam misi menghapuskan ASG, termasuk kejayaan meragut nyawa pengasasnya, Janjalani (Abdurrazak) pada Disember 1998 dalam satu pertempuran bersenjata yang juga turut menangkap atau membunuh beberapa pemimpin beserta pengikut lain. pengasasnya dan dengan gelaran seperti Khaddafy Janjalani, adik kepada nama pemimpin Libya yang mendapat sokongan, kini menjadi pemimpin ASG yang baru.
.
Laporan ada mengaitkan antara Osama Bin Laden dan ASG yang pernah bertemu di Afghanistan pada 1980-an di mana Osama seperti juga Janjalani (Abdurrazak) sangat rapat ketika dalam hubungannya dengan Professor Abdul Rasul Abu Sayyaf Sayyaf’s Islamic Union dan turut sama-sama berperang. Ketika kerahan Osama ini dilaporkan penyumbang perang Afghan, Al-Qaeda kumpulan kewangan di samping penyumbang lain kepada ASG. Walaubagaimana pun secara tepat bantuan itu disalurkan tidaklah diketahui.
.
Pada awal pertengahan 1990-an adik tiri Osama, seorang jutawan Arab Saudi ketua bernama Muhammad Jamal Khalifa, disyaki salah seorang dari penyumbang kewangan kepada ASG dan berkemungkinan pemberontak Islam Filipina turut mendapat bantuan sama. Melalui sumbangan amal di Filipina, sesetengah sumbangan melalui individu yang ada pertalian dengan Khalifa, Ramzi Yusuf, yang mana terlibat dalam pengeboman Pusat Dagangan Dunia (World Trade Center) pada 1993.
.
Kami menamatkan perang Moro ini di sini. Mengenai sejarah ASG di atas, jelas menunjukkan pada kita asal usul ASG itu. Beberapa orang Sulu yang kami temui dan temuramah melalui internet menyatakan bahawa Abdul Razak Janjalani itu sekalipun dikatakan menganut ajaran Wahhabi/Salafi tetapi telah menunjukkan keazaman dan ketelusan semasa hayatnya memerangi ketidak adilan Filipina terhadap Sulu. Tetapi setelah beliau terbunuh, jamaahnya telah diambil alih oleh pemimpin yang telah disusupi anasir luar. Hakikatnya ASG itu adalah produk CIA dengan kerjasama pihak keselamatan Filipina sendiri dengan merancang serangan-serangan ganas agar ASG dituduh pengganas pula, maka ada alasan meminta bantuan Amerika seterusnya membawa tentera Amerika masuk ke Sulu.
________________________________________________________________________
Ulasan: Dalam konteks penentangan orang-orang Moro di Selatan Filipina, perlu kita ambil perhatian bahawasanya mereka (orang-orang Moro) secara semulajadinya menentang kepada pencerobohan penjajah yang sudah mereka maklumi sebagai pembawa ajaran Kristian kerana mereka telah pun menyaksikannya sendiri bagaimana para penjajah berjaya mengkristiankan utara Filipina. Prof. Cesar telah menyentuh perkara ini dalam bukunya ‘Islam Di Filipina’ bahawa Spanyol telah menunjukkan diri mereka sebagai penjajah yang memaksakan agama mereka (Kristian) keatas Moro Sulu sebab itu orang-orang Moro Sulu termasuk Moro Mindanao sangat keras penentangannya terhadap Spanyol hinggakan tidak pernah Spanyol mendapat kesempatan menakluk wilayah selatan kecuali memeterai perjanjian perdagangan sahaja. Spanyol telah melakukan perkara yang memalukan dan biadap dengan menjual kesemua wilayah Filipina termasuk Sulu dan Mindanao kepada Amerika Syarikat (setelah kalah perang) dengan harga murah. Walhal dua wilayah besar Sulu dan Mindanao itu tidak pernah ditakluki oleh Spanyol.


Rentetan dari penjualan negara yang biadap itu, Amerika mendapati dua wilayah di selatan itu belum tertakluk sebab itu Amerika mengganas di Sulu dengan melakukan pembunuhan beramai-ramai yang tercatat dalam sejarah mereka sendiri sebagai “Pembunuhan yang memalukan”.


Kerana membunuh ribuan rakyat Moro Sulu termasuk kaum wanita dan kanak-kanak hanya disebabkan kaum Tausug tidak puas hati dengan pendudukan Amerika di wilayah mereka yang sememangnya merdeka. Prof. Datu Emmanuel D.Mangubat menyatakan dalam satu artikelnya dalam akhbar tempatan Filipina bahawa ketika Aguinaldo berjaya memerdekakan Filipina dari tangan Amerika Syarikat wilayah Selatan (Moroland) itu masih berperang dengan Amerika maka bagaimana mereka (Filipina) mengatakan yang Sulu dan Mindanao itu wilayah mereka? Wallahu a’lam.


Nota kaki:

[1] Islam Di Filipina, Prof. Cesar Adib Majul, m.s. 154 (Terjemahan Shamsuddin Jaapar, DBP:1988).
.
[2] Lapu-Lapu perwira yang membunuh Ferdinand Magellan ini dikatakan berbangsa Bugis dari Sulawesi manakala dari versi lain menyatakan bahawa beliau ialah dari kaum Tausug Sulu. Rasanya kedua-duanya benar, sebab sekiranya beliau berasal dari Tanah Bugis sudah tentu di Sulu pun ada kaum yang berasal dari Tanah Bugis itu, iaitu kaum Tausug Baklaya. Tausug Baklaya adalah Tausug yang tinggal di persisiran pantai Sulu dan sejarah menyatakan mereka berasal dari Sulawesi atau dari Tanah Bugis.
.
[3] Kesultanan Sulu dan Kesultanan Brunei sememangnya adalah bersaudara sekalipun antara mereka tidak berkahwin campur kerana moyang mereka Sultan Sulu, Sultan Shariful Hashim (keturunan Sayyidina Hussein r.a.) dan Sultan Brunei, Sultan Sharif Ali Barakat (keturunan Sayyidina Hassan r.a.) itu adalah dikalangan Ahlul Bait Rasulullah s.a.w.
.
[4] Rujuk: Salsilah Kesultanan Sulu susunan YM Datu Ali Aman – Pangeran Budiman @ Raja Ilo sebenarnya adalah Sultan Sulu dari keturunan Sultan Shariful Hashim, anak saudaranya berkahwin dengan Sultan Brunei ketika itu.
.

Tuesday, March 17, 2009

Hikayat sangtawal ( 12) - Patani Bangkit - Bhg 3



Artikel Pilihan 1.

Tajuk : Islam : Dari Patani hingga ke Palembang

Posted by: faizn in Kelantan-Patani's Forgotten History

Sumber ; http://faizn.blog.friendster.com/2008/07/islam-dari-patani-hingga-ke-palembang/



Pembahasan tentang Dunia Melayu secara keseluruhan, tidak mungkin tanpa menyertakan wilayah Patani sebagai salah satu bahagian di dalamnya. Secara sejarah, wilayah Patani sejak awal telah memiliki keberkaitan dengan dunia Melayu, baik dalam bidang sosial, politik, perdagangan, ataupun kesusasteraan dan budaya.


Patani, yang secara geografis terletak di pesisir timur wilayah Selatan Thailand ini, sebelumnya pernah menjadi salah satu pusat kerajaan Melayu, dan hingga kini, sisa-sisa kejayaannya tersebut masih kelihatan, terutama kerana komuniti Muslim Melayu di Patani masih menggunakan bahasa Melayu (dialek Yawi/Jawi) dalam kehidupan seharian mereka.


Penggunaan bahasa Melayu ini nampaknya bukan kerana mereka tidak menguasai bahasa Thai, tetapi lebih merupakan upaya perumusan identiti etnik dan agama, kerana bagi mereka, bahasa Melayu tidak sekadar berfungsi sebagai bahasa ibu (mother tongue) belaka, lebih dari itu, bahasa Melayu adalah juga identiti keberagamaan.


Dalam hal ini, menjadi Melayu berarti menjadi seorang Muslim, kerana bahasa Melayu sangat erat terkait dengan Islam dan berbagai warisan budayanya. Inilah, antara lain, yang membezakan secara jelas Muslim Melayu-Patani dengan komuniti Thai lainnya, baik dalam hal bahasa, adat istiadat, agama, ataupun pola pikir mereka.


Kini, Patani merupakan salah satu dari empat daerah paling selatan di Thailand,
selain Yala, Narathiwat, dan Satun. Sejak awal, keempat daerah ini memang merupakan asas penting komuniti Melayu yang hampir seluruhnya beragama Islam.


Patani sendiri pernah menjadi salah satu pusat pendidikan Islam, dan—dalam konteks dunia Muslim Melayu—bahkan pernah dijuluki sebagai cradle of Islam. Sebutan ini nampaknya tidak terlalu berlebihan jika melihat kenyataan bahawa sejak dekad pertama abad 18 hingga awal abad 19, Patani telah melahirkan beberapa ulama terkenal dan produktif seperti Syaikh Dawud al-Fattani dan Syaikh Ahmad al-Fattani.


Di antara para ulama Melayu, Syaikh Dawud al-Fattani bahkan pernah dianggap sebagai “the most productive author of Kitab Jawi in the nineteenth century”. Ia telah menghasilkan sebanyak 66 kitab berkaitan pelbagai bidang keislaman. Berkaitan dengan keberadaannya sebagai pusat kebudayaan Islam-Melayu, Patani menjadi rujukan masyarakat Muslim Melayu untuk memperolehi pendidikan dasar keislaman sebelum mereka melanjutkan menimba ilmu di lembaga-lembaga pendidikan di Timur Tengah, khususnya di Haramayn: Makkah dan Madinah.


Murid-murid yang datang untuk belajar di Patani pun berasal dari berbagai belahan Dunia Melayu, termasuk Melayu-Indonesia. Di antara ulama Melayu-Indonesia yang pernah menempuh pendidikan dasarnya di beberapa lembaga pendidikan tradisional (pondok) di Patani adalah Syaikh Abdussamad al-Palimbani, seorang ulama yang paling produktif dan paling terkemuka dari Palembang. Di Patani inilah sesungguhnya al-Palimbani memperoleh “modal awal” untuk menjadi seorang pengarang dan penerjemah kitab di dunia Melayu.


Dalam konteks pendidikan ini, Patani sesungguhnya memiliki budaya dan karakter yang unik, baik yang berkaitan dengan masyarakat ataupun institusinya. Seperti halnya di wilayah Melayu-Nusantara lain, seperti Indonesia, Patani melahirkan banyak institusi pendidikan tradisional yang disebut pondok, dengan “tok guru” (Jawa: Kiai) sebagai pemimpin spiritualnya.


Melalui insitusi pondok ini, Patani berhasil menarik perhatian kelompok Muslim di wilayah lain untuk datang dan belajar agama di sana. Akhirnya, melalui proses belajar-mengajar di pondok yang berlangsung secara bersama inilah, Patani kemudian menjadi salah satu early center of Islam, atau, seperti telah dikemukakan, sebagai cradle of Islam in Southeast Asia. Kita boleh menyebut beberapa pondok yang beberapa di antaranya masih dapat dijumpai hingga kini, yakni Pondok Dalo, Pondok Semla, Pondok Bermin, Pondok Mango, dan beberapa pondok lain yang namanya selalu dihubungkan dengan “tok guru”nya masing-masing.



Artikel Pilihan 2 :

Tajuk : Historical reality: Siamese muslims king of nagara Kedah and Ayuttahaya.

Oleh : A.M Mazlan

Posted by : anaianai at Saturday, April 21, 2007

Sumber : http://sejarahnagarakedah.blogspot.com/2007/04/historical-reality-muslims-kings-of.html



The mistake by researchers on Pattani and Ayutthaya is that they always thought that Thais are descendent of the Siamese and all Thais themselves today think they are Siamese. In terms of people to country relationship this is correct but in term of monarchy to country relationship this is not so. The ruling Thai monarchy only came into power when Rama I, a Buddhist general was nominated as King after the attacked by Burmese Alaungphaya in 1767. Before this date, Siam was a Muslim empire ruling from Ayutthaya to the tip of peninsular Malaya and from Cambodia to Acheh. It form part of the Muslim Monggol Empire in India which is tributary to the Emperor of China (see map , "Empire of the Great Monggol,1744")


Today, the Malays of peninsular Malaysia especially in the northern state of Kedah, Perlis, Kelantan and Pattani in Thailand are the descendent of that Siamese Kingdom, before Ayutthaya was attacked. Siamese language, not thai is still spoken in this state, up to Haadyai in Thailand. Meanwhile, the Thai's originate from Lannathai where the Sukhothai Kingdom, led by their king, Alaungpaya (and later on by Prince Hsinbyushin) was allowed to set up their small kingdom within Ayutthaya borders as a tributary state to Siam. They then attacked the Toung Oo Kingdom (in Burma) which is tributary to Siam in 1758, then in 1767 invade Ayutthaya from Burma. Historically today, the Burmese takes the blame for attacking Ayutthaya in 1767.


During the invasion, they burnt all documents, art treasures, the libraries and its literature, and the archives housing its historical records pertaining to Muslims Ayutthaya and claim the Ayutthaya Kingdom to be Theravada Buddhist simply because the Siamese Muslim history started much earlier in Kedah (pls. refers to Hikayat Merong Mahawangsa). From Burma they purchased weapons from the British through an agreement in 1760.


With these new weapons they then attacked Muslims Ayutthaya in 1767. Therefore after 1767, the Siamese should be address as Thai because Sukhothai (the invaders of Siam), are Theravada Buddhist. Thaksin or Mukhtar Hussin (governer city of thak, hence thaksin) the Ayutthaya Muslim military tactician and strategist, sided with Alaungpaya and ruled for a few years in Lopburi. He was soon killed in the years to come for ridiculous reasons and replaced by the Chakri Rama I, Yot Fa Chula Lok, the first Buddhist King of Siam, of Sukuthai descendent. In Siamese (not Thai) Chula Lok carries the meaning 'son of a minister'.


Historical records have shown that religious tolerance in administration in a multi religion and multi culture society only existed in Muslim Ayutthaya (during Narai tenure as King) but not in Buddhist Thailand under the Chakri Kings. If they do exist, like in Muslim Malaysia today, then the situation in Pattani will not be like it is today. Human Right’s Watch claimed that Thai police and armies practice ‘ethnic cleansing’ in Pattani. Theres nothing new about this tactics because the same technics were used much earlier when attacking Kedah, Patani and Kelantan, the northern state of peninsular Malaysia in 1821, 1832 and 1876.


Since 1992 Thailand HRW has consistently been reporting to the Geneva-based UN Commission on Human Rights, 34 cases of disappearance, excluding Somchai’s, the human right lawyer disappearance. This tactic is not new to the Thais when they came down to Kedah in 1821, under Rama II instruction to hunt and killed the last King of Ayutthaya, Boromoraja Ekataat V, Sultan Sharib Shah Monggol, and his relatives in order to finish off his bloodline. He was ruling as the Raja of Ligor from 1767 to 1821. Durind the attacked, even innocent children and pregnant women in Kedah were not spared and brutally massacred (Read Sherrard Osbourne, "My Jounal in Malayan Waters: Blockade of Quedah", 1861).


On the Ayuttahaya Kingdom,


MAHA TAMMARAJA II

“Siamese King Chau Pija Si Thammarat, Sultan Sarib Shah Monggol, Siamese King , render of Islamic Emperor Pasai Siam which is in Siamese language known as Cau Pija Si Thammarat, Sultan Sarib Shah Monggol, Hereditary from Raja Siam of Dynasty Pija Maha Zin Tadhu Toung Oo Siam and Raja Ayu The Ya India, Sultan Bahador Shah Monggol, Son in law of Raja Siam Toung Oo Siam”. The Islamic Siamese King started from 1350 - 1767 - , An Assumption Of Prof D.G.E Hall,“A HISTORY OF SOUTH EAST ASIA”, 1955 by Datuk Ismail Salleh, Kedah Historian.


In 1876 the Thai’s invaded Kedah again and murdered Ekataat’s grandsons, Sultan Jaafar Mad Azam Syah (then ruling in Nagara Kedah) and his younger brother, Tengku Nai Long Abu Taha and they ruled Kedah for 5 years until 1881. During the 5 years period of ruling Kedah, they demolished not less than 15 palaces belonging to the King of Siam, their ancestors palaces, carted away furniture’s, documents and valuables possessions belonging to the King and murdered his relatives in order to stop his bloodline. All this happens under the nose of the British who did nothing but support the slaughter. Conspiracies such as this should be expose not hidden from the knowledge of current generations.


Sultan Jaafar Mad Azam Syah or better known as Long Jaafar descendent today is Tuanku Nai Long Kasim ibni Tuanku Nai Long Ahmad, the last surviving Muslim King of Siam. Meanwhile the descendent of Tuanku Nai Long Abu Toha (Raja of Bagan Serai), the younger brother of Sultan Jaafar Mad Azam Syah is non other than the current Malaysian Prime Minister, Dato Seri Abdullah Ahmad Badawi. Seeing on local TV, Dato Seri Abdullah Ahmad Badawi’s official visit to Thailand in early 2007 and meeting up with King Bhumiphol Adulyadej, I wonder who should bow down to whom. Some of the royal Siamese families in the 1800’s survived by changing their names and become a commoner, living out of fear whether their identities have been discovered. The King’s tomb is now located in Kedah, well taken care by his ancestors and so is the sword and Crown of Ayutthaya with Islamic writings inscribed around the crown.


Meanwhile, the people of Pattani are not of Thai’s origin but actually Muslims Siamese just like the Malays of Kedah, Kelantan and Perlis. With the British propaganda in Malaya all Siamese, Minang, Bugis, Banjar, Javanese are known as one common race that is Malays or Melayu. Hence the people of Patani is also known as Melayu while in fact they are also Siamese like their cousins in the northern states of Peninsular Malaysia. The Patani people clearly state that they do not want to be ruled by the Buddhist Chakri kings and prefers and autonomy Muslim state. It is their right to do so because historically they were a tributary state under ‘The Muslim Empire of the Siamese Continent of Kedah Pasai Ma’.


Local and foreign historical researchers making claims that Thai are Siamese are the same simply shows their blatant disregard and insight into the actual fact of history. The Siamese people still exist today in the northern state of peninsular Malaysia. They are just like the Malays of other Malay states who have Javanese, Bugis or Achenese ancestors. The Siamese language which is spoken daily is totally different from the Thai language although it sounds almost similar to the ear. The writings have however, disappeared.


The Siamese in Kedah, Kelantan and Perlis were not forced to change their cultural identity through the 'Phibul Songgram' and‘Rathaniyom Policy’ of one race, one language, as what happen to the people of Pattani who doesn’t speak Siamese anymore (they speaks thai) but maintain their Muslim’s religion. Until today certain culture of the Siamese like washing their feet before going to bed, taboo to touch one’s head, yellow attire for the ruling Sultan’s is still practiced in Malaysia.


Meanwhile upon completing these policies, the country of Siam was change to Thailand, ‘land of the free’. With the killing in Pattani today, the international nation of the world wonder how does the government of Thailand today define the word free. The muslims cannot even use their Muslims names, unlike in Malaysia where non Muslims can use their own names. According to a former British officer of the Colony negotiating independence in the 1950’s,

“If the affairs in this world were settled by common sense and equity, I personally have no doubt what ever that Patani ought to be seperated from Siam (read as thai) and become part of Malaya. The inhabitants are 90% Malays and 90 % Mohamedans (in a Buddhist county). All their connections are with the south, and particularly with Kelantan, and the Siamese (read as Thai) record in Patani is one of dreary mis-rule interspersed with sporadic outbursts of actual tyranny. There is no doubt that where the wishes of the inhabitants lie, and a fair plebiscite (if one could be arranged) could only have one result. In the complex affairs of international politics, however, mere practical considerations of this mind do not find much place”.



Marcinkowski, M. Ismail, wrote,

“Apparently there exist other fragments of Thai chronicles which survived the sack of the Ayutthaya in 1767 at the hands of Burmese invaders but to which the present author has had no access”.

In “Kidnapping Islam? Some Reflections on Southern Thailand's Muslim Community between Ethnocentrism and Constructive Conflict-Solution”, Marcinkowski, M Ismail also wrote,

“Today, more than 50 mosques are still extant in Ayutthaya and its environs. Although the Muslim population in that region seems to be nowadays entirely Sunnite, the existence of such a large comparatively number of mosques in that area bears witness to the importance of Ayutthaya for the Muslims in the past”.

The Ayutthaya Siamese King history has to be revealed because their bloodline has strong relationship with the ruling Raja of Perlis, Sultan of Kedah (queda), Perak (beruas), Selangor, Johor (klangkeo), Pahang (paham), Terengganu (talimgano)Kelantan, Riau (banqa), Acheh, Pattani, Brunei, Sulu, Persian, Rome, the Monggol of India and the Emperor of China. No claims over any territory is necessary. Furthermore without the revealation, history of countries in the Malay Archipelago seems unfinished.


The history of Ayutthaya in Thailand and History of Malaysia should be rewritten in a truthful and sincere manner.



Artikel Pilihan 3 : Ancaman Terbaru Patani :


Tajuk : Konspirasi Musuh terbongkar !

Sumber : http://patanikini.wordpress.com/konspirasi-musuh-terbongkar/


Konspirasi musuh terbongkar !!!


Sepanjang perjuangan rakyat Patani penuh dengan kepedihan dan pancaroba.Polemik Thai-Patani yang telah memuncak semenjak pembunuhan beramai-ramai umat islam oleh penjajah thai di masjid kerisik dan di balai polis tabal telah meningkat dari hari ke-hari.Setiap hari umat islam dibunuh secara kejam di kampung-kampung,walaupun dimasa yang sama pemimpin-pemimpin mereka di Bangkok menyeru dan mengajak pejuang berdamai.Sikap dua muka mereka ini alhamdulillah disedari oleh rakyat di kampung.Walau pun mereka juga mengalami kekalahan besar di segenap medan, baik tempur atau pun politik antarabangsa tetapi pihak tentera sentiasa mendakwa mereka dalam kemenangan.Ini kerana segala kekejaman dan penyembelihan orang-orang kampung yang mereka lakukan di letak diatas tanggungjawab pejuang.Kuncu-kuncu dan penjilat-penjilat mereka dari kalangan orang melayu juga turut mengiakan tohmahan ini.


Salain mendapat sokongan dari pengkhianat didalam negara, mereka juga berjaya memujuk dan merasuahkan anak-anak muda melayu yang sedang berada diluar negara yang sangat besar cita-cita mereka.


Baru-baru ini mereka mencipta berita palsu yang mengatakan pemimpin PULO telah mengajak pihak penjajah thai untuk berdamai dan meninggalkan peperangan.Ini adalah perangkap pihak penjajah untuk menimbulkan perbalahan sesama pejuang.Rancangan mereka akan gagal kerana selain beberapa kerat anak-anak muda yang sentiasa berjumpa dengan mereka di Geneva dan beberapa bandar di-eropah kesemua kumpulan pejuang telah bersepakat bahawa masa untuk berdamai dengan pihak musuh masih belum tiba.Perjuangan akan tetap diteruskan walau apa halangan yang sedang dihadapi.


Rakyat patani sekarang benar-benar menerajui perjuangan ini.Jika ada mana-mana pemimpin yang sudah letih atau bosan dengan perjuangan maka mereka akan ditinggal oleh rakyat.


Satu perkara lagi yang menyebabkan pihak tentera begitu yakin mereka boleh menang dalam perjuangan ini ialah kerana mereka telah berjaya mengugut/memujuk seramai 30 orang ulama-ulama yang berpengaruh untuk dijadikan ‘orang bersih.’ Mereka telah berjaya menubuhkan satu kumpulan ulama yang dalam bahasa Thai di panggil ‘Sam sib aarahan’ atau tiga puluh wali-wali yang mendapat hidayah.Pihak penjajah telah membuat perjumpaan dengan mereka-mereka ini setiap bulan selama beberapa hari di hotel atau tempat-tempat tertentu.Perjumpaan itu bertujuan memujuk ulama-ulama ini supaya memujuk rakyat menerima perdamaian.Mereka berjanji akan memberi apa sahaja kehendak rakyat melainkan kemerdekaan. Mereka juga telah merasuahkan pelbagai kemewahan kapada ulama-ulama tersebut.Ulama-ulama ini terdiri dari orang-orang yang dihormati oleh masyarakat dan mereka terkenal sebagai orang-orang yang tak pernah bekerjasama dengan penjajah thai.


Beberapa tahun yang lalu ASEAN iaitu badan kerjasama serantau telah mendesak semua negara ahli supaya menyelesaikan masaalah dalaman masing-masing sebelum tahun 2010.ASEAN berhasrat melaksanakan perjanjian AFTA sepenuhnya bermula tahun tersebut.Oleh itu negara-negara yang mempunyai masaalah dalaman saperti Thailand,Filipina,Indonesia dan Myammar diberi amaran supaya menyegerakan penyelesaian masing-masing.


Thailand,Filipina dan Indonesia telah meminta pertolongan Malaysia untuk menyelesaikan masaalah masing-masing.Thailand dan Malaysia telah bersetuju menubuh satu badan dinegara masing-masing dengan Malaysia menamakan ‘Task Force 2010′ dan Thai ‘Task Force 916′.Matlamat utama TaskForce 2010 ialah memujuk atau mendesak pejuang-pejuang yang berada diMalaysia dan beberapa tempat lain supaya bekerjasama dengan pihaknya untuk mendamaikan Patani. Mereka telah berjumpa denga beberapa pemimpin rakyat Patani serta berjanji dengan bermacam-macam bantuan!!!!!


Pihak penjajah thai pula telah melancarkan teknik yang lebih berbahaya.Mereka telah meluluskan untuk menambahkan bilangan rakyat keturunan thai dibumi Patani sabanyak sejuta orang.Untuk tujuan ini mereka akan menghantarkan sabanyak 100000 tentera ka bumi Patani sebelum 2010.Satakat ini mereka telah berjaya menghantar sebanyak 70000 tentera bersama isteri dan anak-anak.Bagi mereka yang tidak mempunyai isteri diberi galakan berupa hadiah yang lumayan supaya mereka ini berkahwin dengan wanita-wanita tempatan.Mereka digalak supaya berpura-pura memeluk ugama islam tujuan supaya di terima baik oleh penduduk setempat.


Pasukan-pasukan ini yang di panggil ‘Kong pun Pattana’ telah melanggar perjanjian sempadan dengan Malaysia tanpa disedari (atau munkin disedari).Dalam perjanjian sempadan kedua-dua negara tidak boleh menempatkan tentera diperbatasan dijarak yang di tetapkan tanpa memaklumkan pada negara sahabat.Tapi mereka secara licit telah mengubah nama tentera ini kapada ‘Tahan Pattana’ atau pasukan pembangunan luar bandar.Kesemua tentera-tentera ini telah diubah alamat kad pengenalan mereka dengan menukar alamat sebagai penduduk tetap wilayah-wilayah Patani !!!!!

Rancangan mereka apabila tiba tahun 2010 bila didesak oleh pihak ASEAN mereka akan mencadangkan pungutan suara bagi wilayah Patani bagi menentukan samaada rakyat ingin bersama dengan Thai atau berpisah dari nya.Dengan strateji pemindahan penduduk ini mereka dijangka berjaya menggandakan kapada sejuta bangsa Thai dibumi Patani!!!


Kita bimbang perancangan ini tidak hanya melibatkan pihak penjajah Thai sahaja tapi merupakan kesepakatan bersama.Jika ini berlaku maka sekali lagi bangsa melayu Patani di permainkan oleh kuasa-kuasa besar dan kuncu-kuncu mereka.

Allahumma solli ala muhammad wa aali muhammad

‘Ya allah perhatilah kami yang dhaif ini.Perhatikan tindak tanduk kami supaya tidak menyeleweng dari garisan mu. Ya allah berilah petunjuk kapada seluruh umat Islam Patani supaya menjunjung ugamamu menentang penjajah kafir.Porak perandakanlah segala perancangan mereka.Jahanamkan segala kesepakatan mereka untuk menghancurkan kami. Kucar kacirkan barisan mereka ketika pejuang-pejuang kami menyerang mereka. Sesungguhnya tidak ada lain yang kami rindu melainkan kemanisan syahid dan kemenangan hakiki!

Sollallahu alaihi wa alihi wasallam.


Sunday, March 15, 2009

PM Ke - 6: Teori RAHMAN Vs Teori Ramalan Majapahit



Artikel Oleh Sangtawal.


Tajuk : PM ke-6 : Teori RAHMAN Vs Teori Ramalan Majapahit.


Kadang kadang ramalan nenek moyang kita sungguh benar dan berjalan mengikut aturannya.Kalau di Malaysia terkenal dengan teori RAHMAN buat pemimpin utama negara iaitu turutan Perdana Menteri,negara jiran kita Indonesia juga mempunyai ramalan mereka sendiri tentang siapa yang bakal menjadi Presiden mereka selepas ini.Teori RAHMAN begitu dipercayai di Negara ini,tambahan pula kini kita sedang meniti peralihan kuasa dari pemimpin yang pangkal namanya berabjad A kepada pemimpin berabjad N.


Di Indonesia pula mereka amat mempercayai Teori Ramalan Majapahit iaitu ramalan siapakah yang akan memimpin wilayah bekas kerajaan majapahit berdasarkan kepada turutan 7 satrio Piningit.Sekarang ini rakyat Indonesia sedang menanti siapakah yang akan menepati teori ramalan majapahit sebagai satrio Piningit ke-7 yang bergelar SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU yang bijak,tinggi ilmu agamanya dan bakal membawa bangsa Indonesia kepada zaman keemasannya.



7 ramalan ikut kepercayaan majapahit :( klik sini)


Sumber : http://www.gussuta.com/naskah/7-ramalan-presiden-di-indonesia.html#comments


Ada tujuh satrio piningit yang akan muncul sebagai tokoh yang dikemudian hari akan memerintah atau memimpin wilayah seluas wilayah “bekas” kerajaan Majapahit , berkenaan dengan itu, banyak kalangan yang kemudian mencoba menafsirkan ke-tujuh Satrio Piningit itu adalah sebagai berikut :


1. SATRIO KINUNJORO MURWO KUNCORO.

Tokoh pemimpin yang akrab dengan penjara (Kinunjoro), yang akan membebaskan bangsa ini dari belenggu keterpenjaraan dan akan kemudian menjadi tokoh pemimpin yang sangat tersohor diseluruh jagad (Murwo Kuncoro). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soekarno, Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia yang juga Pemimpin Besar Revolusi dan pemimpin Rezim Orde Lama. Berkuasa tahun 1945-1967.


2. SATRIO MUKTI WIBOWO KESANDUNG KESAMPAR.

Tokoh pemimpin yang berharta dunia (Mukti) juga berwibawa/ditakuti (Wibowo), namun akan mengalami suatu keadaan selalu dipersalahkan, serba buruk dan juga selalu dikaitkan dengan segala keburukan / kesalahan (Kesandung Kesampar). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Soeharto, Presiden Kedua Republik Indonesia dan pemimpin Rezim Orde Baru yang ditakuti. Berkuasa tahun 1967-1998.


3. SATRIO JINUMPUT SUMELA ATUR.

Tokoh pemimpin yang diangkat/terpungut (Jinumput) akan tetapi hanya dalam masa jeda atau transisi atau sekedar menyelingi saja (Sumela Atur). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1998-1999.


4. SATRIO LELONO TAPA NGRAME.

Tokoh pemimpin yang suka mengembara / keliling dunia (Lelono) akan tetapi dia juga seseorang yang mempunyai tingkat kejiwaan Religius yang cukup / Rohaniawan (Tapa Ngrame). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai KH. Abdurrahman Wahid, Presiden Keempat Republik Indonesia. Berkuasa tahun 1999-2000.


5. SATRIO PININGIT HAMONG TUWUH.

Tokoh pemimpin yang muncul membawa kharisma keturunan dari moyangnya (Hamong Tuwuh). Tokoh yang dimaksud ini ditafsirkan sebagai Megawati Soekarnoputri, Presiden Kelima Republik Indonesia. Berkuasa tahun 2000-2004.


6. SATRIO BOYONG PAMBUKANING GAPURO.


Tokoh pemimpin yang berpindah tempat (Boyong / dari menteri menjadi presiden) dan akan menjadi peletak dasar sebagai pembuka gerbang menuju tercapainya zaman keemasan (Pambukaning Gapuro). Banyak pihak yang menyakini tafsir dari tokoh yang dimaksud ini adalah Susilo Bambang Yudhoyono. Ia akan selamat memimpin bangsa ini dengan baik manakala mau dan mampu mensinergikan dengan kekuatan Sang Satria Piningit atau setidaknya dengan seorang spiritualis sejati satria piningit yang hanya memikirkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia sehingga gerbang mercusuar dunia akan mulai terkuak. Mengandalkan para birokrat dan teknokrat saja tak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan dengan baik. Ancaman bencana alam, disintegrasi bangsa dan anarkhisme seiring prahara yang terus terjadi akan memandulkan kebijakan yang diambil.


7. SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU.

Tokoh pemimpin yang amat sangat Religius sampai-sampai digambarkan bagaikan seorang Resi Begawan (Pinandito) dan akan senantiasa bertindak atas dasar hukum / petunjuk Yang Maha Kuasa. Dengan selalu bersandar hanya kepada Yang Maha Kuasa, bangsa ini akan mencapai zaman keemasan yang sejati.





(#Sangtawal : Berbalik kita kepada persoalan siapakah Satrio Piningit ke-7 itu di Indonesia,ramai yang meramalkan seseorang yang berketurunan raja akan turun padang bertanding dalam pilihanraya Presiden 2009 iaitu Sri Sultan Hamengku Buwono X yang ketika ini menjadi Gabenor di Yogyakarta dan Raja di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat)

Sila rujuk artikel ini.(klik sini)

Sumber : http://tokocdkomputerpopuler.wordpress.com/


Maju Capres, Sultan HB IX Ingin Perubahan

Satu lagi tokoh publik yang menyatakan dirinya akan maju sebagai kandidat Presiden pada pilpres 2009 mendatang. Adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X yang sat ini menjabat Gubernur Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Dalam acara “pisowanan agung” (pertemuan akbar rakyat dan raja) di alun-alun utara Keraton Yogyakarta, selasa (28/10) sore, Sri Sultan menyatakan diri untuk maju sebagai Capres. Dalam acara itu, hadir puluhan ribu rakyat Yogya serta sejumlah daerah di sekitarnya yang ingin mendengar langsung pernyataan Sultan bersedia maju sebagai capres dalam pilpres 2009.

“Saya ingin perubahan karena saya tidak tahan melihat penderitaan rakyat yang saat ini masih banyak yang miskin dan menganggur padahal reformasi sudah berjalan sepuluh tahun,” katanya.

Sultan menilai sejauh ini tidak ada perubahan fundamental yang menjadikan bangsa ini maju dan sejahtera dengan pemerintahan yang akuntabel. “Selama masih seperti itu bangsa ini tidak akan kompetitif menghadapi tantangan masa depan. Karena itu kita harus mengubah strategi, dan jika rakyat ingin perubahan, mari kita bersama-sama melakukannya,” katanya.

Sultan kemudian menegaskan, “Apa artinya Hamengku Buwono jika diminta menjadi Presiden tetapi rakyat sendiri tidak ingin perubahan. Saya ingin menjadi agen perubahan itu”.


Meskipun baru sebatas menyatakan bersedia maju sebagai calon presiden (capres) pada pemilihan presiden (pilpres) 2009, Sultan tidak mempersoalkan kalah atau menang dalam pertarungan politik tahun depan tersebut.


“Atas permintaan rakyat Yogyakarta, saya bersedia maju sebagai capres. Jika kalah tidak masalah, tidak perlu merasa turun harga diri, apalagi merasa malu. Logika saya tidak seperti itu. Tetapi sebaliknya kalau menang janganlah sombong, karena semua adalah amanah,” katanya.


Sultan pada kesempatan itu menyatakan ingin mengubah cara pandang sebagian masyarakat Yogyakarta. “Saya memang sultan, tetapi bukan wong agung seperti 100 tahun lalu, dan Yogyakarta sekarang telah menjadi bagian dari republik,” katanya.


Ditegaskan Sri Sultan, ia mendukung demokratisasi karena dirinya seorang demokrat. “Saya juga harus bisa berfungsi sebagai agen perubahan dan harus pula bisa menjadi teladan. Saya berharap dengan kesediaan saya maju sebagai capres, masyarakat Yogyakarta siap mendukung demokratisasi,” katanya.

Soal peluang sebagai capres, Sultan menyatakan keyakinannya karena masih ada proses kristalisasi di masyarakat dan partai politik (parprol). “Parpol rata-rata memang akan menentukan pilihan setelah hasil pemilihan umum legislatif, dan saat ini saya hanya menjawab pertanyaan masyarakat apakah bersedia maju atau tidak maju sebagai capres, dan saya menyatakan bersedia,” katanya.


Ditegaskan Sultan, ia selanjutnya akan melihat perkembangan perolehan suara parpol dan dirinya belum bisa memperkirakannya apalagi pembahasan RUU Pilpres belum selesai termasuk posisinya sebagai Gubernur DIY apakah akan mundur atau tidak.


Draft RUU Pilpres yang diajukan pemerintah kepada DPR menyebutkan jika pejabat negara hasil pemilihan yang akan maju sebagai capres tidak perlu mundur tetapi hanya minta zin cuti agar tidak menggunakan fasilitas negara.

“Bagi pejabat negara yang bukan hasil pemilihan harus mengundurkan diri. Saya tidak tahu keputusan RUU Pilpres nanti. Apakah klasifikasi saya itu termasuk pejabat negara hasil pemilihan atau tidak, saya hasil perpanjangan jabatan. Kalau itu dianggap pejabat negara bukan pemilihan dan harus mengundurkan diri, kemungkinan akan saya pertimbangkan untuk melakukannya,” katanya.


Sultan menegaskan kembali bahwa yang menjadi dasar bagi dirinya bersedia maju sebagai capres adalah ingin mengabdi dan bukan mencari kekuasaan. “Motivasi dan keputusan saya untuk maju setelah saya bertanya dulu pada diri dan nurani sendiri, apakah saya mampu mengabdi yang tidak hanya untuk rakyat DIY saja tetapi juga untuk bangsa dan negara, apakah saya sanggup untuk mengabdi dengan segala pengorbanan, keihlasan,” katanya.

Dikatakannya, “Setelah saya merasa mampu saya kemudian bertanya kepada istri dan anak-anak apakah bersedia berkorban demi bangsa, dan mereka menyatakan bersedia dan mendukung saya”.

Mensikapi pernyataan Sri Sultan ini, Partai Golkar belum menyatakan sikapnya. Secara resmi Golkar akan membahas Capres dan Cawapres seusai Pemilu legislatif. Hal itu untuk menjaga konsentrasi partai menghadapi Pemilu legislatif.

Wakil Ketua Umum DPP Golkar Agung Laksono di Gedung DPR/MPR Jakarta menegaskan, Golkar sampai sekarang belum membahas Capres dan Cawapres yang akan diajukan.


“Kalau dia diusulkan, ya selamatlah. Selamat atas pengusulan pencapresan beliau dan hak beliau untuk mengambil sikap,” ujar Agung di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (28/10).


Namun demikian, Agung juga mempertanyakan partai politik apa yang akan digunakan Sultan untuk maju dalam pilpres 2009. Karena Golkar baru akan menentukan capres usai pemilu legislatif.


(# sangtawal : Berbalik kita pada situasi di Malaysia yang kini dinanti dengan penuh debaran ialah siapakah bakal PM Malaysia yang pangkal namanya berabjad N itu.Kebanyakan rakyat meramalkan Najib.Saya juga merasa begitu…tetapi hati kecil saya terpanggil untuk merungkai rahsia ramalan ini mengikut naluri saya.Ya..mungkin N itu milik najib buat seketika…namun N itu juga mungkin milik seorang anak raja yang bijak,amat meminati ilmu agama,suka merendah diri,berketurunan mulia dari ahlul bait dan mengamalkan kaedah perjalanan kerohanian yang berpangkal dengan huruf N juga.Adindanya juga dikenali sebagai khalifah N (1 cabang perjalanan kerohanian ) di Malaysia .Melihat kepada senario politik Perak ini sekarang,anak raja tersebut juga boleh diramalkan sebagai SATRIO PINANDITO SINISIHAN WAHYU untuk bangsa melayu Malaysia…..bukankah beliau adalah pewaris Pedang Cura Simanjakini dari Sang Sapurba yang turun di Bukit Siguntang itu??? bukankah dulu tanah melayu ini juga di bawah naungan majapahit dan ramalan majapahit itu juga tertakluk kepada Malaysia.Semoga Satrio Pininggit ke-7 malaysia juga akan membawa negara ini kezaman keemasannya….bukankah mengikut Kalendar kaum maya…permulaan kepada kemuncak zaman keemasan dunia ialah pada 21.12.2012 ???

Artikel ini hanya sekadar renungan kita bersama saja…! bukan maksud saya untuk mengajak semua pembaca mempercayainya 100% .Sesungguhnya segala yang berlaku,telah berlaku dan akan berlaku semuanya dalam Ilmullah.Tidak ada seorangpun yang tahu akan ilmuNya kecuali bagi orang-orang yang diberi ilmu dari Yang Maha Bijaksana!)


Kita renungi pula kata-kata seorang anak raja di sini :

Sumber : http://malaysiakini.com/news/97455


Nazrin: Raja perlu tidak memihak dan berkepentingan

Feb 3, 09 11:15am

Raja, sebagai Ketua Negeri dan Negara, perlu bersifat tidak memihak, berpartisan dan berkepentingan bagi menjamin berlakunya keadilan di kalangan rakyat, titah Raja Muda Perak Raja Dr Nazrin Shah.

Titah baginda: "Selaku Ketua Negeri di peringkat negeri dan Ketua Negara di peringkat nasional, Raja berperanan sebagai tonggak kestabilan, sumber keadilan, teras perpaduan (dan) payung penyatuan, lapor Bernama.

"Kehadiran Raja membantu keberkesanan mekanisme semak dan imbang, sekaligus memperkukuhkan institusi-institusi perundangan, eksekutif dan kehakiman yang diwujudkan di negara ini, lantas meningkatkan tahap keyakinan rakyat kepada sistem berkerajaan dan sistem bernegara berteraskan amalan demokrasi, dan berakarkan doktrin pengasingan kuasa," titah baginda.

Raja Nazrin Shah bertitah demikian pada istiadat menghadap sembah taat setia dan penganugerahan khas Darjah Kebesaran Jubli Perak pemerintahan Sultan Azlan Shah sebagai Sultan Perak yang ke 34 di Istana Iskandariah di Kuala Kangsar hari ini.

Pada istiadat hari ini, seramai 25 individu yang telah banyak berjasa dan memberi khidmat setia kepada Sultan Perak menerima darjah khas, Darjah Kebesaran Dato' Seri Azlanii (D.S.A) yang membawa gelaran Datuk Seri, yang diwujudkan sempena 25 tahun pemerintahan Sultan Azlan Shah sebagai Sultan Perak.

Turut berangkat ke istiadat itu Raja Permaisuri Perak Tuanku Bainun.

Raja Nazrin bertitah sebagai ketua negeri dan negara, seseorang raja itu perlu sentiasa memastikan agar kata dan laku baginda tidak disalah tafsir dan tidak disalah lihat.

Baginda juga bertitah kuasa yang diamanahkan oleh Allah s.w.t itu perlu disertai dengan tanggungjawab kerana ia akan dinilai pada hari kebangkitan.

"Oleh itu kuasa hendaklah digunakan untuk melaksanakan amalan-amalan yang baik. Bahawa kemuliaan dan kehormatan, darjat dan daulat seseorang Raja itu tidakkan pipis datang melayang, tidakkan bulat datang menggolek," titah baginda.

Titah baginda kemuliaan yang sejati itu lahir daripada rasa hormat yang tulen, yang terpancar daripada rasa kasih yang suci, atas sifat keperibadian murni seseorang insan dan bukannya terletak pada pangkat, jawatan, gelaran mahupun takhta.

Menyentuh Ayahanda baginda, Sultan Azlan Shah, Raja Nazrin bertitah ayahanda baginda nyata memahami "denyut nadi dan jantung rakyatnya yang terdiri daripada pelbagai agama, kaum dan budaya, yang berada di bawah payung naungan pemerintahan baginda."

"Ketinggian takhta tidak pernah memisahkan ingatan Paduka Seri Ayahanda akan nasib rakyat bawahan; pagar istana tidak pernah menghalang pandangan Paduka Seri Ayahanda melihat realiti yang berlaku di serata negeri.

"Sepanjang tempoh pemerintahan, Paduka Seri Ayahanda senantiasa berpegang kepada prinsip keadilan berlandaskan kedaulatan undang-undang, mementingkan perpaduan – mementingkan kerjasama, mengutamakan permuafakatan – mengutamakan perundingan," titah baginda.

Raja Nazrin bertitah sepanjang tempoh 25 tahun berada di takhta pemerintahan, Sultan Azlan Shah tidak sekadar mewarisi institusi kesultanan dan budaya berkerajaan di bumi ini, malah telah memberikan dimensi yang dinamik akan relevansi kewujudannya dalam era moden dunia semasa.

"Paduka Seri Ayahanda telah membuktikan bahawa institusi Raja yang terus dikekalkan, pada mulanya di Persekutuan Tanah Melayu, kemudiannya di bumi Malaysia merdeka, bukan sekadar untuk meneruskan kesinambungan tamadun, bukan sekadar untuk melengkapkan nilai sejarah dan bukan sekadar untuk memenuhi nilai sentimental bangsa, malah institusi Raja itu berupaya menyuntik roh, membentuk wajah, meletakkan identiti, terutamanya, lambang mengekalkan warisan sejarah kerajaan Melayu di bumi ini, " titah baginda.

Raja Nazrin bertitah sepanjang tempoh 471 tahun sejarah Kesultanan Perak yang bermula dengan Paduka Seri Sultan Muzaffar Shah I pada tahun 1528, Sultan Azlan Shah merupakan Sultan Perak keempat, yang bersemayam di takhta pemerintahan, melepasi tempoh 25 tahun.

"Sebelum ini, Sultan Perak kedua, Paduka Seri Sultan Mansur Shah I, bersemayam di takhta Kerajaan selama 28 tahun (1549 – 1577), Sultan Perak ke 11, Paduka Seri Sultan Mahmud Iskandar Shah bersemayam di takhta Kerajaan selama 67 tahun (1653 – 1720) dan Sultan Perak ke 29, Paduka Seri Sultan Idris Murshidul ‘Adzam Shah I, bersemayam di takhta pemerintahan selama 29 tahun (1887 – 1916)," titah baginda.


Lagi ucapan baginda di sini. :

http://www.sun2surf.com/article.cfm?id=19222


Right royal role :

PETALING JAYA (Sept 3, 2007): The monarchy has a role to play as the guardian of good governance and the democratic process as mandated by the Federal Constitution, the Raja Muda of Perak said.

"It is an often overlooked or under-appreciated fact that the monarchy in Malaysia is supposed to play a productive role by being a healthy check and balance in the system of governance," Raja Dr Nazrin Shah said.

"The Federal Constitution mandates the monarchy to be the guardian of the just rule of law, an impartial arbiter in the democratic process and an overseer over the pillars of state.

"Some believe that the rulers are supposed to do so only in a purely ceremonial sense, but I would argue that this contradicts the true spirit, if not the letter, of the Federal Constitution."

Raja Nazrin said this in his public lecture to inaugurate the Khazanah National Development Seminar in Kuala Lumpur last night. A copy of the lecture was given to the press. The one-day seminar today is part of Khazanah Nasional Berhad's series of events to celebrate the 50th Merdeka anniversary.

"While the monarchy is required to act on the advice of the executive, it must also uphold the principles of good governance and the rule of law, with credibility and impartiality," Raja Nazrin said.

"To do otherwise would be to undermine its integrity, as well as that of the Federal Constitution."

He said for the monarchy to be able to discharge its responsibilities effectively, it would need avenues for "genuine and in-depth consultations" with the executive.
"This should pose no problem, however, given the common and unswerving aim of advancing the interests of the nation.

"This unity of purpose will also help ensure that the relationship will be cooperative and not marred by open confrontation," he added.

Raja Nazrin noted that contrary to some opinion, "the Malaysian monarchy is not all form and no function".

"The monarchies that have survived - and I include Malaysia's among these - have done so because they have evolved in line with social progress and contribute to public life.
"They have evolved by accepting the reality of, and placing themselves above, partisan politics," he said.

He said the monarchy contributed to public life by redefining its role to help in upholding justice, maintaining peace and resolving conflicts between contending parties.

"They function as the voice of reason, moderation and good governance, especially if there is extremism or chauvinism.

"In this way, the monarchy strengthens the institutions of governance and enhances, rather than detracts from, the democratic process," he said.

He explained that Malaysia is a constitutional monarchy, which operates on the basis of parliamentary democracy.

"The monarchy in Malaysia is an integral part of the country, a symbol of identity, continuity, unity and strength.
"It is a symbol of identity because it is a national institution, one that distinguishes this country from all others," he said.
"It is a symbol of continuity because the monarchy in Malaysia is an old institution and provides a sense of historical significance to the people.

"It is a symbol of unity because it is a focal point for citizens of all races, religions and political persuasions to rally around. And it is a symbol of strength because it exemplifies the virtues of justice, mercy and honour."

Earlier in his lecture, Raja Nazrin noted that development should instigate progressive change - in the way the economy generates and distributes value and wealth, the way public institutions serve their constituents, and the way the citizenry think, behave and act.

He pointed out that the measure of development was not merely in monetary wealth and physical structures.

He said the greatest enemy of development was apathy and indifference. "For the past 50 years, this has colloquially been known as the 'tidak apa' attitude. Every level of leadership in government, every educator, captain of industry, parent or private citizen who does not care about high standards being set and maintained is infected with this deadly virus.
"And they condemn this country to a state of mediocrity. Indifference and apathy cause us to seek to achieve only the bare minimum."


He also noted that there were those who were hostile to change because their livelihood or interests were threatened. While it would be easy to dismiss their concerns as illegitimate, he said this would not be the mark of a developed country.

"It would violate the spirit of inclusiveness. We must treat each other with civility. We must seek to understand and give due respect to each other's interests and, as far as possible, attempt to negotiate mutually agreeable outcomes," he said.

Juga marilah kita baca dan hayati ucapan baginda di sini :

Sumber : http://www.bernama.com/bernama/v3/bm/news_lite.php?id=369943

07 November, 2008 00:58 AM

Raja-raja Tidak Harus Beri Perkenan Jika Nasihat Bercanggah


KUCHING, 7 Nov (Bernama) - Raja-raja tidak harus memberi perkenan jika nasihat pimpinan kerajaan yang disembahkan bercanggah dengan semangat perlembagaan, bertentangan dengan keluhuran undang-undang serta melanggar prinsip keadilan sejagat, titah Raja Muda Perak, Raja Dr. Nazrin Shah.

"Secara umum Raja bertindak berasaskan nasihat pemimpin kerajaan pilihan rakyat. Namun, Raja tidak boleh memihak kepada perbuatan yang tidak melambangkan keadilan atau merestui tindakan yang tidak mencerminkan kebenaran.

"Pandangan, pemerhatian dan teguran Raja dalam urus tadbir negara menyentuh soal integriti, yang merangkumi keadilan, perundangan, kehakiman, penyelewengan, penyalahgunaan kuasa, rasuah dan agihan kemakmuran, adalah dengan hasrat untuk memperteguh kerajaan agar ia stabil dan mendapat kepercayaan rakyat," titah baginda pada majlis santapan sempena Hari Integriti Nasional di sini Khamis malam.

Untuk memastikan integriti Raja tidak dipersoalkan dan takhta kekal dihormati, Raja Nazrin bertitah Raja-raja harus senantiasa bijaksana lagi arif, menguasai pengetahuan, memahami persekitaran dan perubahan serta memiliki barisan kumpulan penasihat terdiri dari pakar-pakar serta ilmuwan dalam bidang-bidang yang relevan.

"Ini akan membolehkan Raja memenuhi peranan secara berintegriti dan dapat melakukan keputusan yang bijak, tepat, adil lagi saksama," titah baginda.

Baginda bertitah Raja adalah sebahagian dari institusi negara yang berperanan positif memperkukuhkan sistem demokrasi dengan melaksanakan tanggungjawab semak dan imbang serta berfungsi sebagai penimbang tara yang bebas bagi cabang-cabang legislatif, eksekutif dan kehakiman.

Sebagai sumber rujukan ketika berlakunya krisis, baginda bertitah Raja berfungsi sebagai mekanisme pengimbang memelihara kestabilan negara, melindungi kebajikan warga, memastikan keadilan, meningkatkan integriti kerajaan dan memperkukuh amalan demokrasi dalam negara.

"Raja berperanan sebagai tunggak kestabilan - sumber keadilan, teras perpaduan - payung penyatuan lantas meningkatkan tahap keyakinan rakyat kepada sistem berkerajaan dan sistem bernegara berteraskan amalan demokrasi, berakarkan doktrin pengasingan kuasa.

"Raja bertanggungjawab secara perlembagaan dan tanggungjawab tersebut perlu dilaksanakan dengan bijaksana agar dapat membantu membina sebuah negara yang berintegriti tinggi," titah baginda.

Raja Nazrin bertitah institusi Raja harus berperanan dan berfungsi untuk memberi sumbangan produktif, konstruktif kepada negara bangsa.

"Raja berada di tempat istimewa, berpeluang memberikan pandangan bernas untuk mempengaruhi dan menentukan arah haluan negara bangsa secara positif dan konstruktif melalui kata-kata nasihat dan pandangan, galakan, dorongan, peringatan dan teguran," titah baginda.

Untuk memperkukuhkan amalan berintegriti, Raja Nazrin bertitah Raja-raja perlu melakukan konsultasi, mengadakan rundingan, mendapatkan pandangan dan berfikiran terbuka untuk menilai setiap nasihat secara rasional, objektif, adil dan saksama.

Raja Nazrin turut menitahkan warga disemai dengan jati diri yang sejati.

"Untuk membina warga yang berintegriti, warga perlu dipertajam minda supaya dapat menilai antara intan dan kaca dan memiliki kekuatan dalaman yang cekal setia dan kekal taat kepada prinsip-prinsip utama perjuangan dan kehidupan," titah baginda.

Hadir sama pada majlis tersebut ialah Ketua Menteri Sarawak, Tan Sri Abdul Taib Mahmud dan Ketua Hakim Negara Tan Sri Zaki Tun Azmi.

-- BERNAMA (Copyright © 2009 BERNAMA. All rights reserved.)




Hayatilah setiap makna dalam surah Ar-rahman ini :